Selasa, 02 Februari 2010

Parfum dan Kecoa


Sabtu (30/1) kemarin, amunizi band memulai garapan track lagu di Takaza Record. Recording ini direncanakan hingga tiga shift, dengan durasi enam jam per shift-nya. Sengaja kuniatkan malam minggu bersama lima personel band asal Kota Ciputat itu.
Ba’da isya, melalui sms M. Yan (drumer), mengabarkan rekaman segara digelar. Mendung berusaha menghalangi, namun itu tak menciutkan nyaliku melangkah. Tas plus sweeter merangkulku. Aku siap berangkat.
Saat mataku jelalatan mencari kunci kamar, terdengar suara asing di telinga. Kresek-kresek. Aku diam sejenak.
“Ah, siapa nih?” pikirku horor.
Aku tinggal di kamar kontrakan satu petak. Dalam deret panjang, bangunan ini memiliki empat ruang. Hanya dua kamar yang berisi. Kamarku sendiri terapit dua ruang kosong.
“Tak mungkin suara itu berasal dari kamar samping.”
Aku diam. Makin lama, suara itu makin mantap dan jelas. Kudekati tumpukan buku di pojok ruangan. Musik di winamp komputer telah mati. Suara kresek-kresek itu timbul tenggelam. Kudekatkan telinga di samping tumpukan buku-buku filsafat. Berharap para filsuf, yang telah mati bangkit dari teks-teksnya.
Tepat ketika daun kupingku menyentuh Democracy and Education-nya Jhon Dewey, mataku terbelalak kakiku menjingkat spontan. Seekor kecoa lari terbirit-birit seolah ketahuan mau mencuri buku. Aku sendiri takut, geli dan salah-tingkah. Kecoa itu berputar-putar menantang. Sesekali ia mencari sela persembunyian.
Tak Ada Sapu di sini. Akalku berputar mencari senjata pemusnah kecoa. Kebetulan di samping kardus penyimpan baju, tergeletak botol farfum casablanca. Tanpa ampun ku tembak kecoa intelek itu berulang-ulang. Lima kali semprotan luput. Darahnya tak bercecer. Ia kembali pada tumpukan buku. Aku menunggunya. Dua menit berselang, ia seakan nyaman dengan persembunyiannya. Tapi aku tak rela menitipkan kamar pada sang kecoa.
Akhirnya, kulempar dua butir kamper sebagai granat kearah persembunyian musuhku. Ia bergeming. Kulancarkan kembali serangan casablanca. Nah, musuhku tak tahan juga. Ngacir ia menuju selangkangan monitor komputer. Ah sialan pikirku. Aku tak tega melukai komputer dengan senapan wangi ini. Kecoa pun menjawab. Ia lari menuju motor temanku yang kebetulan lagi dititipkan di sini. Tepat di bawah ban depan, gencatan parfum kembali kulancarkan.
“Sayang juga parfum ini dikasih kecoa, pikirku. Tapi tak apalah sedekah. Lagian kecoa pasti nggak pernah mandi. Biar dia merasakan wangi sebelum ajal.” Setelah muter empat lima kali, kecoa tak sadarkan diri telentang. Hanya kaki kanan belakangnya saja masih bergerak. Sepertinya, bidikanku telah menembus hidungnya.
Usai memastikan kecoa tak mungkin bertingkah, kutinggalkan kamar dalam kondisi terkunci. Dua puluh meter berjalan, gerah meradang. Keringat bercucuran. Aku asing dengan tubuhku. “Sepertinya ini bukan raga yang biasa kujalankan.”
Satu menit berfikir, sadarlah aku pergi tak memakai parfum. Aku pun balik kanan ke kamar. “Masa kecoa dipakain parfum, aku tidak.”

0 komentar:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html