Home

Sabtu, 21 Maret 2009

Jendil-Jendil Merah

MS Wibowo -Di Sebuah kampung di daerah Jawa, tinggal sepasang suami isri yang kaya raya. Harta mereka adalah warisan dari orang tua sang suami. Semua itu tak membuat dua sejoli tersebut lantas bahagia. Ada yang ganjil meski tinggal serumah genap berdua. Sampai pada tiga tahun berikutnya, barulah mereka dikarunia seorang anak laki-laki.
Semua cinta dan perhatian pun kontan tercurah pada anak yang begitu lucu itu. Ketawanya seakan menghancurkan penat ayah sepulang kerja.
Rasa syukur meningkat manakala terdengar sang anak bisa meniupkan kata-kata. Itu pertama kali setelah usianya menginjak dua tahun. Entah ia dapat dari mana, kata yang keluar dari mulutnya pertama kali adalah ‘Jendil-jendil merah’. Ketika beranjak tiga tahun, kedua orang tua itu bertanya pada anaknya, mau hadiah apa di ultah ke tiga ini. Sang anak mengatakan, “aku mau jendil-jendil merah.”
Kedua orang tua itu pun bingung. Mereka tak tahu apa itu jendil-jendil merah. Ditanyalah anak semata wayangnya itu.
“Jendil-jendil merah itu apa nak,” Tanya ibunda.
“Jendil-jendil jendil merah ya jendil-jendil merah,” jawab sang anak dengan polos.
Akhirnya daripada bingung-bingung memikirkan apa itu jendil-jendil merah, mereka membelikan mobil-mobilan. Beberapa bulan kemudian, mobil-mobilan itu rusak dan membekaskan luka pada anak semata wayang tersebut. Pasalnya, mainan itu hendak dipinta oleh seorang temannya. Karena tak boleh, terjadilah perebutan dan saling tarik-menarik. Ujungnya, mobil-mobilan itu patah. Sang anak menangis. Temannya pun jengkel, lalu memukulkan patahan mobil mainan itu kemuka anak tadi.
Menginjak usia 10 tahun, suami istri tadi kembali merayakan ultah anaknya. Mereka berdua pun tak lupa bertanya kepada sang anak, mau hadiah apa di ultah ke 10 ini?
Tapi anak itu, masih seperti tujuh tahun yang lalu, ia tetap meminta jendil-jendil merah. Kedua orang tua pun bertanya lagi, “Jendil-jendil merah itu apa sih nak, ayah nggak tau nggak paham.” Anak itu tetap bilang, “jedil-jendil merah ya jendil-jendil merah.”
Tetap tak mau pusing, kedua orang tua itu membelikan sepeda BMX untuk hadiah ultah anak tercintanya. Dua minggu kemudian, sang anak pulang sekolah dengan kondisi lutut berdarah. Ternyata ia baru saja terjatuh dari sepeda hadiah ultahnya.
Pada hari lahirnya yang ke-20, anak itu kembali meminta hadiah ultah “Jendil-Jendil merah”. Berhubung sang anak tak mau atau tak bisa menjelaskan apa itu jendil-jendil merah, maka ayah dan ibunya membelikan sepeda motor. Menurut kedua orang tua tersebut, hadiah motor cukup pantas diberikan untuk anaknya di usia ini. Tak lupa, motor tersebut berwarna merah, dengan harapan itulah yang dimaksud dengan jendil-jendil merah.
Dua minggu kemudian, anak tersebut harus dirawat di UGD karena jatuh dari motor. Rupa-rupanya, keadaannya cukup kritis. Kedua orang tua itupun menunggu anaknya dengan setia dan sabar.
Melihat kondisi sang anak begitu kritis, ayah dan ibu anak itu teringat akan permintaan anaknya sejak kecil hingga kini. Sebuah permintaan yang membuat penasaran. Yang hingga kini belum mereka ketahui, apa yang dimaksud ‘Jendil-Jendil Merah’.
Mereka berdua menghampiri anaknya yang terkulai ditempat tidur UGD. Sang ibu memijit-mijit tangan anaknya, sementara sang ayah berdiri sambil mengelus-elus rambut buah hatinya itu. Dengan suara pelan, sang ayah bertanya, “Nak, sebenarnya ‘Jendil-Jendil Merah’ itu apa sih?”
Kali ini sang anak mau menjawab. Ia berkata, “Jendil-Jendil Merah adalah ..” plek, anak itu tak bernapas lagi.
Akhirnya ‘Jendil-Jendil Merah’ tetap menjadi misteri bagi kedua orang tua tersebut dari dunia hingga akhirat.[]

Tidak ada komentar: