Senin, 30 Juli 2018
Sabtu, 21 Juli 2018
Tawadhu Cinta
Aku tak bisa bangga betapa agung rasaku padamu,
bisa saja ada
orang yang cintanya lebih besar daripadaku.
Aku juga tak pantas sesumbar telah memanggul seberat-beratnya rindu.
Mungkin jauh di luar kamar ada yang telah terkapar karena tak lagi mampu memikul jarak darimu.
bisa saja ada
orang yang cintanya lebih besar daripadaku.
Aku juga tak pantas sesumbar telah memanggul seberat-beratnya rindu.
Mungkin jauh di luar kamar ada yang telah terkapar karena tak lagi mampu memikul jarak darimu.
Selasa, 17 Juli 2018
Nyaru
Saat kita menyatu, segala menjadi nyaru.
Aku tak pasti, mana itu aku mana itu kamu.
Mana perasaanku mana perasaanmu.
Aku juga tak tentu sebenarnya kita saling mendekat atau menjauh.
Kebersamaan ini, semakin kuat atau rapuh.
Aku tak pasti, mana itu aku mana itu kamu.
Mana perasaanku mana perasaanmu.
Aku juga tak tentu sebenarnya kita saling mendekat atau menjauh.
Kebersamaan ini, semakin kuat atau rapuh.
Atau kita rindu yang dulu, yang pura-pura mengejar pura-pura lari
Menjaga rekayasa untuk saling curi hati
Menjaga rekayasa untuk saling curi hati
Kamis, 28 Juni 2018
Mari Bersembunyi
Tetaplah bersembunyi
di balik tirai-tirai misteri.
Jangan ketemu
biar ku terus mencari
agar ku senantiasa mengakali
jalan menuju pelukmu.
Penghalang adalah jarak
berkatnya mengalir gerak
Pada tiap kejauhan
terdapat dekat yang hakiki
di hati
di balik tirai-tirai misteri.
Jangan ketemu
biar ku terus mencari
agar ku senantiasa mengakali
jalan menuju pelukmu.
Penghalang adalah jarak
berkatnya mengalir gerak
Pada tiap kejauhan
terdapat dekat yang hakiki
di hati
Kamis, 24 Mei 2018
Bau Aku
Ya, waktu itu di mall, kamu cuma pakai kaos oblong. Mungkin karena belum makan, kena ac, jadi masuk angin. Aku pinjamkan sweater karena kamu kedinginan.
"Bau kamu," katamu mengomentari sweaterku. Tapi tetap kau pakai juga.
"Emang gimana, kayak apa bau aku?"
"Ya, kayak bau kamu."
Dan kamu memakai sweaterku sampai kita berpisah, kamu pulang ke rumah.
Beberapa saat kemudian, kamu kirim pesan WA. "Aku muntah-muntah."
Itu pasti efek masuk angin, bukan karena bau aku. Aku yakin itu.
"Emang gimana, kayak apa bau aku?"
"Ya, kayak bau kamu."
Dan kamu memakai sweaterku sampai kita berpisah, kamu pulang ke rumah.
Beberapa saat kemudian, kamu kirim pesan WA. "Aku muntah-muntah."
Itu pasti efek masuk angin, bukan karena bau aku. Aku yakin itu.
Selasa, 22 Mei 2018
Bahagiamu Bukan Untukku
Aku
sedang dalam perjalanan menuju hamparan kebahagianmu. Sudah hampir lelah aku
melangkah, belum juga kulihat senyum suka citamu. Semoga aku tidak menyerah
sampai tiba di hadapanku adalah riangmu.
Namun
bila ceriamu tak kunjung ku jumpa, mungkin ku salah arah, atau girangmu telah
terisolasi dalam sebuah benteng yang amat kokoh, sehingga tak ada celah
untukku mengintip gembiramu. Yang tertatap pandangku hanya tinggal sisi
getirmu, gundah, lara dan pilu.
Rabu, 25 April 2018
Selasa, 26 Desember 2017
Isi Waktu Menunggu dengan Berdzikir
Kita sering mendengar, bahkan mungkin juga sering
mengatakan, menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Hampir dapat dipastikan,
dalam hidup kita pernah dihadapkan pada situasi harus menunggu seseorang atau
sesuatu. Memang, tidak semua kegiatan menunggu itu membosankan. Adakalanya penuh
kecemasan atau ketakutan. Rasa cemas dan takut tentu saja berbeda dengan rasa
bosan karena di situ yang muncul adalah was-was dan kekhawatiran. Misalnya menunggu
hasil ujian masuk perguruan tinggi, menunggu panggilan kerja, menunggu
kelahiran sang buah hati dan sebagainya.
Menunggu yang membosankan lebih sering terkait dengan
kehadiran seseorang. Misalnya kita telah sama-sama membuat janji untuk bertemu
di suatu tempat, tapi kita tiba lebih dulu atau pada waktu yang telah
ditentukan orang yang akan kita temui tak kunjung datang. Kebosanan pun mulai
menumpuk perlahan. Pikiran tertuju pada orang yang kita tunggu, sementara kita
tak tahu harus berbuat apa selain duduk diam menghitung detik demi detik waktu
berjalan.
Di era saat ini, masalah seperti itu mungkin terpecahkan
dengan adanya smartphone atau gawai. Rata-rata orang jaman sekarang secara
refleks akan memungut gawainya manakala kebosanan mulai menyapa. Membuka media
sosial atau membaca berita dapat menjadi solusi untuk sejenak mengalihkan
pikiran. Namun jika habis lebih dua atau tiga berita sementara yang kita tunggu
belum muncul juga, lama-lama bisa jengah juga. Apalagi kalau gawai yang kita
punya lowbat dan tak ada charger. Tambah nggak karu-karuan deh bete-nya.
Untuk itu, seabrek tips dapat kita temukan di blog-blog yang
bisa kita cari via google tentang mengatasi kebosanan saat menunggu. Di
antaranya kita bisa mengisi waktu menunggu dengan membaca, menulis, hingga mengamati
tingkah laku orang di sekitar kita, siapa tahu bisa jadi sumber inspirasi dan
sebagainya. Ada pula cara yang bisa kita lakukan agar kegiatan menunggu tidak
sia-sia, yakni berdzikir. Nilai lebihnya kita jadi lebih religius dan
insyaallah lebih dekat pada Sang Pencipta.
Khusus untuk berdzikir, bagi saudara-saudara Muslim, banyak
sekali ayat al-Qur’an maupun Hadits Nabi yang memerintahkan ibadah yang satu ini.
Berhubungan dengan aktivitas menunggu, kita bisa mengisinya dengan berbagai
macam dzikir seperti tahmid, tasbih, tahlil maupun bacaan solawat pada Nabi
Muhammad saw. Kita juga bisa menghitung dzikir yang kita lafalkan dengan
ruas-ruas jari kita sebagaimana sunah yang terdapat dalam salah satu hadits
nabi.
Dalam postingan ini, saya tidak cantumkan dalil-dalil
tentang berdzikir. Bila berkenan silakan cari sendiri di google, sudah banyak
sekali blog atau website yang memuatnya. Tapi intinya, selain menjadikan
aktivitas menunggu jadi lebih bermakna, mengisi waktu menunggu dengan berdzikir
insyaallah juga akan mendatangkan pahala. Hal itu lebih berarti daripada waktu
kita terbuang sia-sia.
Rabu, 11 Oktober 2017
Budaya Gendongan Bayi “Fertil, Barakat, Ayom”
Budaya Gendongan Bayi
“Fertil, Barakat, Ayom”
20- 29 Oktober 2017, 09.00- 16.00 WIB
Ruang Pameran Temporer Gedung B, Museum
Nasional Indonesia
Jl. Medan Merdeka Barat No.12, Gambir,
Jakarta Pusat
Gendongan bayi. Simbol cinta dan kasih
sayang mendalam dan universal. Manusia mengenal cinta melalui dunia gendongan
bayi. Bersandar pada dada dan punggung ibu. Mencium harum dan merasakan suhu
tubuhnya, merasakan perlindungan dan memahami makna cinta orang tuanya.
Selain memiliki makna kasih sayang yang
esensial untuk mempererat hubungan ibu dan anak dengan fungsi melindungi,
gendongan bayi memiliki kekayaan makna budaya. Di seluruh penjuru dunia
khususnya Asia, manusia menggunakan cara dan bentuk gendongan bayi yang
berbeda-beda dan berkaitan erat dengan pola asuh anak. Penggunaan keahlian
membordir, menjahit dan pemberian manik-manik dari wanita dari berbagai tempat
di dunia memperluas hiasan gendongan bayi, tak hanya menjadi ekspresi dari seni
budaya, juga manifestasi konkrit ekspresi kultural dari pengharapan terhadap
kesuburan, berkat, dan perlindungan
Pameran “Fertil, Barakat, Ayom-Budaya
Gendongan Bayi” (Fertility, Blessings and Protection- Cultures of Baby
Carriers) pada 20-29 Oktober 2017 merupakan kerjasama Museum Nasional
Prasejarah-Taiwan (National Museum of Prehistory-Taiwan) bersama Studiohanafi
dan Museum Nasional Indonesia. Pameran ini bagian dari tour internasional
setelah diselenggarakan di Taiwan dan New York-Amerika.
Pada pameran kali ini, Studiohanafi
memvisualkan pameran dengan pendekatan etnografi dan membahasakannya dalam
display kontemporer agar lebih dekat dengan publik saat ini. Sebanyak 27 karya
koleksi gendongan bayi dari National Museum Of Prehistory (NMP) akan diboyong
ke Indonesia bersanding dengan koleksi dari Museum Nasional Indonesia. Setiap
karya berisi uraian makna dan filosofi gendongan bayi dari sejarah, makna pola
hingga cara menggendong.
“Salah satu metode yang selalu kami
sertakan dalam program-program kesenian, khususnya pameran gendongan bayi ini
tak bisa kami luputkan dari penelitian etnografi. Maka, jauh-jauh hari sebelum
pameran ini dirancang seperti sekarang, kami dan pihak Taiwan melakukan kerja
etnografi selama beberapa waktu di Taiwan” tutur Hanafi yang melakukan riset ke
Taitung dan Taipei pada Agustus silam.
Melalui display kontemporer, Hanafi
bersama Enrico Halim (Aikon) akan mendesain ruang pamer temporer Museum
Nasional Indonesia menjadi bentuk rahim. Tak ada sudut yang tajam. Segalanya
lembut, nyaman dan halus.
Pengunjung akan memasuki ruangan dengan lantai kayu
yang mengambang. Melihat satu persatu koleksi gendongan bayi, foto, narasi teks
budaya dan video bersama iringan lagu pengantar bayi (lullaby). Ditambah, untuk
memperkuat tema sebagai pameran etnografi, pada salah satu ruang akan berisi
koleksi gendongan bayi dari Dayak-Kalimantan bersama sosok ibu yang menenun.
Selain gendongan bayi, pameran akan diisi oleh
pendamping acara berupa seminar antropologi tentang gendongan bayi Asia dan
pola asuh anak di suku-suku asli Indonesia dan Taiwan dengan tiga pembicara
sebagai narasumber antropolog dari Universitas Indonesia – Dr. Tony
Rudyansjah, M.A. dan Dr. Dave Lumenta, Ph.D dan Chi-Shan Chang, Ph.D
selaku Kurator dari National Museum of Prehistory- Taiwan.
“Kami tidak hanya ingin menampilkan pameran tapi juga
pengetahuan kepada publik seni Indonesia dan menjalin hubungan yang lebih
panjang dengan Taiwan melalui jalan kebudayaan” ungkap Hanafi.
Museum Nasional Prasejarah-Taiwan (NMP) menyambut baik
tur pameran istimewa ke Indonesia berdasarkan misi pertukaran budaya. Gendongan
bayi sebagai benda-benda buatan tangan yang amat halus secara bertahap menjadi
warisan budaya yang tak ternilai harganya. NMP mengutamakan pilihan
potongan-potongan yang sarat akan makna cinta serta berkah tentang kelahiran
dan membesarkan anak, dan berharap bisa memberi gambaran dengan baik kepada
para pengunjung di Museum Nasional, Indonesia.
“Taiwan sebagai titik awal, pameran istimewa ini akan
memungkinkan interaksi dan kolaborasi antara seni, budaya masyarakat, lembaga
akademik antara Taiwan dan Indonesia. Tujuan dari pameran ini adalah untuk
menyadarkan nilai universal tentang keadaan manusia “sejak tali pusar menopang
sampai ke gendongan bayi.” Tutur Chi-Shan Chang sebagai kurator National Museum
of Prehistory-Taiwan.
Budaya Gendongan Bayi
“Fertil, Barakat, Ayom”
20- 29 Oktober 2017, 09.00- 16.00 WIB
Ruang Pameran Temporer Gedung B, Museum Nasional
Indonesia
Jl. Medan Merdeka Barat No.12, Gambir, Jakarta Pusat
ARTISTIK
Hanafi
Enrico Halim
KURATOR
Chi-Shan Chang, National Museum of Prehistory-Taiwan
KARYA
27 koleksi gendongan bayi dari National Museum of
Prehistory-Taiwan, 6 koleksi kain gendongan bayi dari Museum Nasional
Indonesia. Karya lain: narasi teks, fotografi, video dan lagu.
PEMBUKAAN
Kamis, 19 Oktober 2017
Pukul 19.30 WIB
di Lobby Museum Nasional Indonesia
Pertunjukan “Ayun Ambing” oleh Lena Guslina dan Doddy
Satya Ekagustdiman
Diresmikan oleh:
Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Siswanto, Kepala Museum Nasional Indonesia
Chi Shan-Chang, Kurator National Museum of
Prehistory-Taiwan
Perwakilan, Taipei Economic and Trade Office (TETO)
Hanafi, seniman
PAMERAN
20-29 Oktober 2017
Pukul 09.00 – 16.00 WIB
di Ruang Pameran Temporer Gedung B, Museum Nasional
Indonesia
Jl. Medan Merdeka Barat No.12, Gambir, Jakarta Pusat
* Terbuka untuk umum dan bebas biaya
KONFERENSI PERS
19 Oktober 2017, 16.00 WIB
Pembicara:
Hanafi, seniman
Enrico Halim, seniman
Chi-Shan Chang, Kurator National Museum of Prehistory-Taiwan
Adinda Luthvianti, Art Program pameran
Ratu Selvi Agnesia, manajer pameran
Sari Wulandari, periset suku Dayak
Semi Ikra Anggara, stage manager
Milliya, keuangan dan administrasi
Lena Guslina, penampil
Doddy Satya Ekagustdiman, penampil
PROGRAM PUBLIK
- Seminar “Gendongan Bayi Asia”
Jumat, 20 Oktober 2017, 15.00 WIB di Ruang Seminar
Museum Nasional Indonesia
Narasumber:
Chi-San Chang (Kurator National Museum of
Prehistory-Taiwan),
Tony Rudjansyah (Antropolog)
Dave Lumenta (Antropolog)
Moderrator: Debra H.Yatim
* Terbuka untuk umum dan bebas biaya
Contact Person:
Ratu Selvi Agnesia (Selvi)
Art manager studiohanafi
085721941986 / studio.hanafi72@gmail.com
www.studiohanafi.com
Selasa, 19 September 2017
Angka-angka itu datang lagi
Menghantui. Angka-angka itu datang menerorku lagi. Mereka datang
detik demi detik tanpa dapat aku hindari. Tulisan ini adalah upayaku menghindar
dari angka-angka kembar tersebut. Hari ini selama tiga jam kurang lebih sudah
lima kali aku disambanginya.
Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku juga tak tahu itu
pertanda apa. Pasrah. Tak ada yang bisa kulakukan. Seharusnya selesai dengan
pasrah. Tapi ketakutan dan kekhawatiran terus merongrong hati dan pikiran.
Tak ada saran tak ada tempat tak ada teman yang bisa diajak
untuk berbagi. Hanya kepasrahan pada Tuhan. Tapi raga, pikiran, hatiku entah
kenapa memberontak. Apakah mereka telah berkhianat. Kalau mereka berkhianat,
aku apakan sebaiknya mereka? Aku penjarakan? Aku siksa? Itu artinya juga sama
saja memenjarakan dan menyiksa diriku sendiri.
Putus asa. Sepertinya hanya frasa itu yang pas untuk
menggambarkan kondisi saat ini. Bunuh diri tak mudah. Banyak aspek yang
menghalangi, banyak tahap yang harus dilewati, banyak pihak yang harus dilibatkan.
Takutkah kau membaca tulisan ini?
Tulisan ini adalah tulisan frustasi. Tulisan yang bisa
dijadikan bahan ghibah bagi kalian yang mengenalku, si penulis tulisan ini.
Tapi, apa kau benar-benar mengenal penulis tulisan ini? Terserah kalau masih
mau ghibah, karena hanya itu yang bisa kau lakukan. Aku juga pernah berada di
posisimu, mungkin.
Kamis, 14 September 2017
Hidangan di Atas Medsos
Saya tahu apa yang di benak para pengunggah makanan yang
mereka santap bersama teman, orang tercinta atau pun sekadar sendiri. Mereka sedang
berbahagia dan sebagaimana perasaan lainnya, ingin diungkapkan dan dibagikan. Karena
seperti kutipan dalam film “Into The Wild” kebahagiaan hanya nyata bila
dibagikan.
Saya mungkin sakit hati. Setidaknya itu yang saya rasakan
dan tidak dapat saya sembunyikan. Sakit hati memang tidak rasional. Entah karena
iri atau karena memang sedang tak bisa seperti mereka yang membagikan foto-foto
kelezatan makanan di media sosial. Pastinya, saat ini, saya sedang tidak bisa
seperti mereka. Saya sedang lapar dan kelaparan. Melihat foto-foto makanan,
sekalipun itu hidangan sederhana, rasanya seperti tambah mengaduk-aduk dan
mengiris-iris isi perut.
Seperti mereka yang ingin membagikan perasaan bahagia atas
hidangan dari Tuhan, saya juga tak tahan untuk membagikan perasaan kepedihan
yang terus menggumpal dalam perut, hati dan pikiran.
Saya ingin memanipulasi perasaan setidaknya memolesnya dalam
bentuk cerita fiksi, esai, atau semacamnya. Tapi mungkin terlalu perih ya isi
perut. Terlalu asam mulut karena hanya diisi oleh asap tembakau dan secangkir
kopi.
Apapun yang terjadi, saya mesti bersyukur karena masih bisa
menyeruput kopi dan menghisap nikotin sebagai penahan lilitan perut ini.
Ini merupakan kemarahan, yang sebenarnya saya tujukan untuk
diri sendiri. Saya tak sedang ingin dikasihani atau mengutuki diri sendiri dan orang lain. Tidak. Karena
semua itu jelas percuma. Saya juga tidak berharap ada yang membaca tulisan ini.
Tapi tetap saja ada orang yang tersesat membuka, membaca, dan bahkan ikut merasakan derita gara-gara membaca
tulisan ini. silakan saja. Nikmati saja. Semoga kau tak mengutuki nasibmu.
Sabtu, 15 Juli 2017
Hanya sedikit yang bisa kita kendalikan
Setiap bagian hingga yang terkecil dari tubuh seorang
manusia terhubung penuh
Dan hanya sebagaian kecil saja yang bisa diperintahkan
bergerak tunduk patuh
Seluruh alam semesta adalah bagian tubuh seorang manusia
Hanya sedikit mereka yang menyadarinya
Hanya sedikit yang mereka bisa kendalikan utuh
Batasan Manusia
Seorang hamba Allah harus tahu batasan-batasan kemampuannya
agar tidak melampaui batas. Karena melampuai batas kemampuan hanya karena mengejar
kemauan itu adalah konyol. Setiap orang punya batasan-batasannya sendiri.
Larangan-larangan umum hanya merupakan rambu peringatan agar seseorang tidak
konyol atau ceroboh melampaui batas kemampuannya.
Batasan adalah keniscayaan. Karena itu kita butuh yang lain
untuk mencapai sesuatu. Tidak mungkin manusia terbang dengan sendirinya
menggapai langit tanpa urun pihak atau alat yang ada di selain tubuhnya.
Sekali lagi, batasan itu berbeda-beda pada tiap manusia.
Kita sendiri yang mengetahui dan menentukannya. Apakah itu batasan kita atau
kita bisa melampauinya.
Aku adalah satu-satunya di dunia
Kita semua terhubung. Di dunia ini aku adalah aku
satu-satunya. Selain aku adalah kamu, dia, mereka dan kalian. Sejak aku dalam
kandungan dan terlahir sebagai manusia, aku adalah satu-satunya. Tak ada satu
orang pun yang serupa denganku.
Sejak pertama kali menyentuh udara dunia dan menghirupnya,
seluruh semesta beserta isinya adalah bagian dariku. Mereka sepenuhnya
terhubung dan terpengaruh olehku. Kendati tidak semua, bahkan kebanyakan, bisa
secara langsung aku gerakan/kendalikan. Tapi pada dasarnya bisa. Seperti satu
sel dari jutuaan sel yang ada dalam tubuhku. Aku tak bisa mengetahui satu per
satu. Aku tak bisa mengendalikannya selayaknya menggerakan tangan atau
menggunakan alat indra. Tapi sel-sel di kepalaku, badanku, tangan dan kaku,
daging, pembuluh darah semuanya terhubung denganku. Dan aku bisa mengendalikan
semua itu pada dasarnya.
Selasa, 11 Juli 2017
Kesatuan Wujud
Seluruh alam semesta yang kau ketahui dan tak kau ketahui
adalah bagian dari tubuhmu
Seluruh bagian dari tubuhmu yang kau ketahui dan tak kau
ketahui, yang bisa kau kendalikan dan tak bisa kau kendalikan adalah bagian
dari alam semesta
Membenci dan mencintai orang lain sama dengan membenci dan mencintai bagian dari tubuh sendiri