Jumat, 17 April 2009

Caleg Stress Karena Tak Kenal Tuhan

MS Wibowo-Uuuuooghhh, aku buka Facebook, ternyata banyak kawan-kawan yang sibuk ngobrolin caleg stres. Baik stres karena menang atau yang shock karena kalah.
Tapi ya sudahlah, itu tandanya calon-calon wakil rakyat kita memang tak siap menghadapi kenyataan hidup. Apalagi kenyataan bangsa yang semrawut ini. Bbeeerhhh, pasti tambah mumet.
Mereka mungkin kurang mengerti makna hidup. Bisa jadi juga karena mereka tak punya orientasi hidup yang jelas. Padahal rata-rata caleg itu orang beragama. Tapi, agama yang kerap menjadi dasar setiap individu dalam menjalani hidup, tak mampu menentramkan jiwa mereka. Sehingga sampai ada diantara mereka yang gila bahkan sampai mati.
Daripada ikutan stress membincang mereka, lebih baik kita membincang tuhan. Rabu (15/4/09) kemarin, aku mendapat jatah presentasi makalah di kelas pada matakuliah Filsafat Agama. Kami membahas tema “Aliran-Aliran Dalam Ketuhanan”. Aku menyuguhkan makalah yang isinya membahas beberapa isme ketuhanan yang ada dalam sejarah manusia. Antaralain Theisme, Deisme, Pantheisme, Panantheiseme.
Selesai melakukan presentasi, diskusi terbuka pun digelar. Tibalah kita pada pembahasan tentang bagaimana manusia mengenal atau berkenalan dengan Tuhan. Padahal Tuhan itu sendiri tak pernah memerkenalkan diri pada manusia.
Sejak lahir, manusia hanya mengenal Tuhan lewat tradisi dan doktrin-doktrin yang terpaksa harus dipercayai. Tapi dengan cara itu, benarkah manusia benar-benar mengenal Tuhan. Jika agama dijadikan pembenaran akan adanya Tuhan, tiap-tiap agama memunyai konsep ketuhanan yang berbeda. Oleh sebab itu, menurut Karen Amstrong, jika kita harus percaya bahwa Tuhan itu satu, maka konsep tentang Tuhan-lah yang tidak satu.
Para teolog yang coba memerkenalkan Tuhan lewat argumen-argumennya, tak lebih hanya berupa kecakapan berbahasa (hanya problematika bahasa). Nyatanya mereka malah terjebak dalam definisi. Dan jelas, para teolog dari masing-masing agama, berusaha sekuat argumennya untuk membenarkan agama dan tuhannya masing-masing.
Kadang mereka mengatakan bahwa manusia takkan sanggup untuk mengetahui Tuhan. Karena dzatnya sangat agung, maha besar dan sebagainya. Tuhan tidaklah seperti apapun yang kita bayangkan. Pernyataan seperti demikian secara tak langsung telah membatasi Tuhan itu sendiri. Yang juga berarti sotoy tentang Tuhan.
Untuk memecahkan masalah ini, ada tawaran yang berasal dari para kaum sufi. Umumnya mereka tak memunyai konsep tentang cara peribadatan dan ketuhanan. Namun mereka mengenal Tuhannya dengan cara mereka sendiri-sendiri (individu). Bahkan tak jarang, antara sufi satu dengan lainnya memunyai cara berbeda dalam menyatu, mendekat, mengenal dan berhunungan dengan Tuhan.
Perbedaan tersebut tak jarang terjadi dalam satu sekte atau kelompok tasawuf itu sendiri. Para filsuf muslim mengategorikan cara untuk menemukan kebenaran dengan jalan ini sebagai metode intuisi. Metode ini tak bisa didefinisikan dengan pasti. Apalagi dijabarkan cara atau langkahnya. Sebab intuisi sangat bersifat indifidualistik. Tak bisa dimengerti, diketahui atau dirasakan, kecuali oleh seorang yang menjalani itu sendiri. Ya, intuisi adalah metode huduri, yakni menghadirkan Tuhan dalam diri.
Namun apakah pencapaian para sufi itu bisa dipertanggungjawabkan? Apa jaminannya? Siapakah yang akan menjamin mereka tidak berbohong? Atau dalam arti bahwa mereka tidak akan salah?
Mungkinkah tuhan itu ada, atau tak ada? Bagaimana cara mengenalinya? Benarkah alam semesta ini bukti adanya Tuhan? Bagaimana kita bisa percaya adanya Tuhan kalau kita tak pernah kenal dengannya?
Manusia selalu ingin mewujud apa yang ia pikirkan. Contohnya, hingga sekarang banyak hal yang dulu seolah tak mungkin menjadi mungkin. Misalnya manusia ingin terbang, sekarang bisa terlaksana dengan pesawat terbang. Bisa jadi, manusia purba zaman dulu, yang merasa sebagai mahluk lemah kemudian memikirkan sesuatu dzat yang maha kuat dan menjadi penolong dari kesulitan-kesulitannya. Dan dzat itu adalah yang disebut dengan istilah Tuhan.
Karena itu, spiritualitas itu bersifat individual/personal. Tak bisa diajarkan, tak bisa disebarkan, dan tak boleh merasa paling benar atau merasa paling diridhoi Tuhan.[]

0 komentar:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html