Home

Sabtu, 12 Juni 2010

Herbert Marcuse; Manusia Satu Dimensi

One-Dimensional Man atau Manusia Satu Dimensi, adalah salah-satu buku fenomenal dan terlaris yang ditulis oleh Herbert Marcuse. Judul buku tersebut dapat dikatakan sebagai kesimpulan umum dari keseluruhan isinya. Melalui karya ini, Marcuse ingin mengatakan, yang sekaligus mengritik, bahwa manusia modern adalah manusia berdimensi satu.
Mengacu pada konteks penulisannya, buku ini merupakan hasil dari studi Marcuse yang menganalis secara kritis masyarakat industri modern seperti Amerika, Eropa dan Uni Soviet. Namun bukan berarti uraian-uraiannya tak punya relevansi bagi kawasan-kawasan lain di dunia.
Pemikiran Herbert Marcuse bertautan dengan suasana filsafat Hegelian dan Marxisme. Marx dan Hegel memandang filsafat sebagai suatu usaha untuk mengerti masyarakat dan periode sejarah di masa hidupnya. Marcuse mengambil semangat revolusi Marx, sebagai keinginan agar dengan pemikiran filosofisnya ia dapat menyumbangkan terjadinya perubahan radikal dalam masyarakat.


Penindasan Manusia Dalam Masyarakat Industri Modern.

Ciri khas dari masyarakat industri modern adalah peranan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rasionalitas zaman ini adalah rasionalitas teknologi. Segalanya dipandang dan dihargai sejauh dapat dikuasai, digunakan, diperalat, dimanipulasi dan ditangani.
Instrumentalisasi menjadi semacam kata kunci dalam pandangan teknologis. Manusia menciptakan, memanipulasi dan memeralat benda-benda, alam serta mesin-mesin, untuk memudahkan hidupnya. Di saat yang sama, hal itu juga berlangsung di wilayah politik dan kultural. Di sinilah manusia dan masyarakat tak terkecuali berada dalam penguasaan dan manipulasi teknologi.
Selain instrumentalisasi, ilmu pengetahuan modern juga ditandai dengan istilah operasionalisasi. Maksud dari operasionalisasi ini menyatakan, ilmu-ilmu pengetahuan hanya berguna sejauh dapat diterapkan dan bersifat operabel. Ini tampak dalam penelitian sosial, di mana setiap perubahan yang sifatnya kualitatif disingkirkan.
Marcuse mengambil contoh di bidang penelitian sosial pada sebuah studi tentang relasi kerja dalam pabrik Western Electric Company di Hawthrorne. Ketika mendengar karyawan-karyawan pabrik ini mengeluhkan gaji yang tak cukup, para peneliti menganggap keluhan ini terlalu kabur. Karanenya perlu dioperasionalisasikan. Artinya, perlu diterjemahkan dalam situasi dan tingkah laku yang konkrit.
Misalnya, saudara X mengeluh gajinya tak cukup. Itu berarti ia tak sanggup memenuhi kebutuhan sehari-hari rumah tangganya, diantaranya berobat, pakaian atau biaya pendidikan anak-anaknya dan lain-lain. Solusi dari kesulitan-kesulitan ini ialah perusahaan membentuk badan kesejahteraan sosial yang menangani kasus-kasus serupa. Singkatnya, masalah atau kesukaran disingkirkan tanpa mengubah struktur masyarakat. Sistem tetap dipertahankan. Dengan demikian, menurut Marcuse, ucapan para buruh “gaji tak cukup sama sekali berubah artinya.
Marcuse mengungkapkan, dewasa ini yang terjadi bukanlah manusia menindas manusia lainnya, golongan tertentu menindas golongan lainnya. Tak ada lagi orang atau golongan yang ditunjuk sebagai penindas. Melainkan terdapat suatu sistem totaliter yang menguasai semua orang, seluruh realitas alamiah dan sosial. Tak ada orang yang dapat memengaruhi sistem anonim itu. Sistem yang tampak dalam segala bidang ini, menonjolkan diri baik di negara-negara maju maupun di negara berkembang.
Satu dimensinya masyarakat industri semakin jelas dengan berubahnya sama sekali peranan kaum buruh. Dahulu Marx berfikir bahwa kemiskinan kaum buruh akan bertambah parah dan luas. Pada akhirnya kapitalisme akan ambruk. Dengan ini, lahirlah suatu masyarakat baru tanpa kelas.
Harapan itu tak terpenuhi. Kaum buruh telah kehilangan semangat revolusionernya. Mereka sudah menjadi konsumen yang memiliki mobil, TV dan berbagai fasilitas yang tak beda dengan kaum borjuis.


Teknologi

Bagi Marcuse, teknologi bukan merupakan sesuatu yang bebas nilai atau netral. Sistem teknologis membangkitkan pada manusia keinginan-keinginan yang diperlukan, sistem dapat memertahankan diri dan terus berkembang.
Dengan teknologi, manusia dapat memeroleh apa yang diinginkan. Namun pada dasarnya, apa yang diinginkan manusia hanyalah apa yang dikehendaki sistem itu sendiri. Ini seperti lingkaran setan yang menjepit manusia. Di satu sisi, produktivitas semakin besar untuk memungkinkan konsumsi yang makin besar pula. Di lain sisi, satu-satunya alasan konsumsi ialah menjamin berlangsungnya produktivitas.
Manusia modern mengira, ia benar-benar bebas dan ia hidup dalam dunia yang menyajikan kemungkinan-kemungkinan untuk dipilih dan direalisasikan. Tapi pada kenyataannya, apa yang dikehendaki manusia sebenarnya hanyalah apa yang yang didiktekan kepadanya. Dengan kata lain, manusia tidak membuat dan memilih lain daripada apa yang dianggap perlu oleh sistem teknologis yang totaliter untuk memertahankan dirinya.
Berbagai jenis kebebasan merebak di negara-negara maju. Kebebasan pers, kebabasan pendapat, berkumpul dan sebagainya hampir tanpa batas. Tapi demikian, massa besar tidak kritis. Berbagai kritik ditolerir dengan leluasa, tapi dengan segera dilumpuhkan juga. Itu karena hal ini segera menjadi hal menarik untuk dikonsumsi dalam bentuk hiburan kultural dan sensasi. Terdapat privasi yang serentak juga privasi itu ditiadakan dengan cetak dan elektronik. Terdapat waktu luang yang banyak dengan banyaknya waktu libur, sekaligus bersamaan waktu luang itu diberi tempat dan diberi tempat dalam proses konsumsi, melalui acara TV, biro-biro perjalanan, pariwisata, dan iklan-iklan lainnya. Tak ada lagi kelas sosial dalam membuang waktu berlibur. Baik kaum buruh maupun borjuis, mereka seolah bebas memilih tempat pariwisata mereka. Padahal mereka tak berbuat lain daripada pergi ke tempat yang telah disuruh oleh publisitas periklanan.


Seksualitas

Manusia modern merasa bebas dan dibebaskan secara istimewa dalam hal seksualitas. Berbagai istilah revolusi seksual pun dengan lantang berkumandang diberbagai penjuru masyarakat. Namun ini juga hanya tak lain dari sekadar tipu muslihat dari sistem totaliter.
Hal itu adalah salah-satu bentuk toleransi, yang seakan-akan menyajikan kebebasan seluas-luasnya. Padahal maksudnya tak lain adalah menindas atau menguasai. Ketika emansipasi telah dialami secara langsung pada wilayah terbatas, maka ia tidak akan memberontak melawan sistem sebagai keseluruhan. Dengan kata lain, kebebasan itu dijadikan alat untuk menguasai. Marcuse menyebut fenomena ini dengan istilah toleransi represif. Sebuah toleransi yang menandai masyarakat modern.


Tiga Penentu Satu Dimensi

Masyarakat industri maju adalah masyarakat berdimensi satu. Pemikiran yang mereka praktikan pun adalah pemikiran berdimensi satu. Mereka tak mengenal betul adanya oposisi ataupun alternatif. Kondisi ini bisa dilihat dari fenomena partai-partai politik, yang seolah menawarkan berbagai perbedaan dan perubahan. Tapi kenyataannya, secara praksis tak ada bedanya antara partai satu dengan yang lain. Tak terkecuali dengan partai yang memiliki dasar ideologi sangat berlawanan. Semua telah menjadi mekanisme yang mengumpulkan suara-suara, supaya sejumlah elit politik dapat memertahankan kekuasaannya.
Pemikiran berdimensi satu secara sistematis telah menjalar pada para kepala politik dan penguasa. Mereka menguasai media massa. Manusia modern diindoktrinasi dengan slogan-slogan yang didikte begitu saja.
Perbedaan antara paham besar dunia, yakni sosialisme dan kapitalisme menjadi sangat tipis sekali. Sistem totaliter teknologis telah menguasai keduanya, yang ditentukan oleh trio yang terdiri dari ekonomi – politik – ilmu pengetahuan. Pada kedua belah pihak, trio tersebut telah bekerja keras menghasilkan persenjataan yang dahsyat. Apalagi, keduanya juga saling membutuhkan satu sama lain, supaya masing-masing terus bertahan. Persenjataan dibuat dengan tujuan agar tak ada pertempuran. Sehingga antara perdamaian dan peperangan memiliki hubungan erat.
Menurut Marcuse, ini bukti bahwa masyarakat modern secara fundamental bersifat rasional dalam bagian-bagiannya, tapi irasional secara keseluruhan.


Kritik Atas Positivisme dan Filsafat Analitis.

Marcuse mengeritik aliran-aliran filosifis seperti positivisme dan filsafat analitis. Menurutnya, mereka mematikan pemikiran negatif. Selanjutnya, aliran-aliran semacam itu tak berbuat lain daripada menyesuaikan diri dengan realitas yang ada. Dengan demikian, filsafat memihak pada status quo dan tak akan pernah menghasilkan perubahan kualitatif dalam masyarakat.


Solusi Menuju Masyarakat Baru.

Tak seperti Jean Jasque Rousseau menanggapi jamannya dengan romantisismenya yang ingin kembali ke keadaan asali. Marcuse memberi tempat pada ilmu pengetahuan, teknologi dan industri modern. Semua itu tetap perlu bagi masyarakat yang akan datang. Sebab dengan itu, baru dimungkinkan untuk mengurangi pekerjaan dan memuaskan semua kebutuhan.
Ilmu pengetahuan dan teknologi tak harus dibuang, melainkan diubah secara kualitatif. Sehingga timbul juga masyarakat yang kualitatif lain. Selain itu, rasio sendiri juga harus berfungsi lain. Rasio harus berfungsi meniggalkan logika penguasaan dan memajukan seni hidup.
Untuk memerjuangkan masyarakt baru, secara konkret Marcuse menunjuk dua hal. Pertama, perlu sebisa mungkin orang mengurangi kekuasaan, yang menjadi konsentrasi kekuasaan dalam sistem yang mengurung selama ini. Kedua, mengurangi perkembangan yang berlebihan. Maksudnya, menolak kebutuhan-kebutuhan palsu, yang secara artifisual dibangkitkan oleh sistem produksi modern dan meninggalkan semua usaha untuk makin meningkatkan mutu kehidupan. Untuk memerjuangkan masyarakat kualitatif lain, oang harus mulai dengan mengurangi yang kuantitatif.
Hanya sedikit orang yang bisa melepaskan diri dari prilaku dan pemikiran masyarat industri maju ini. Marcuse menunjuk pada golongan-golongan marjinal, mereka yang berada di pinggiran masyarakat sekarang. Mereka harus mengucapkan The Great Refusal (Penolakan Akbar). Dalam Essay on Liberty Marcuse menyatakan harapannya pada intelektual-intelektual muda dari golongan menengah.
Kemudian, di beberapa karyanya selanjutnya Marcuse mengakui hak golongan oposisional untuk menggunakan kekerasan. Alasan utamanya ialah, masyarakat berdimensi satu senantiasa memakai kekerasan yang dilembagakan, dengan memaksa setiap orang untuk menyesuaikan diri dengan status quo. Untuk menghadapinya hanya ada satu jalan, yakni membalas dengan kekerasan. Tapi ia menekankan, yang dimaksud dengan kekerasan tak lain daripada civil disobidience.

Sumber Bacaan:
- Filsafat Barat Kontemporer; Inggris-Jerman, K. Bertens, Gramedia, Jakarta, 2002
- Manusia Satu Dimensi, Herbert Marcuse, Bentang, Yogyakarta, 2000

1 komentar:

Anonim mengatakan...

saya susah sekali mencari bukunya dimana, boleh pinjam bukunya mas. nanti saya fotokopi