Selasa, 13 Juli 2010

Pasrah III

Kisah Cinta Bunda Dan Om

Ini cerita dari Bunda Opie, Isri guru kami Om Budi.*
Setahun lebih sudah usia pernikah Bunda Opi dan Om Budi. Sebelum menikah, mereka telah berstatus janda dan duda. Om Budi menduda setelah ditinggal wafat istrinya. Sementara mengenai latarbelakang kejandaan Bunda Opie kami tak begitu tahu.
Om Budi dan Bunda Opie berkenalan melalui seorang teman. Kebetulan keduanya memiliki latar belakang seniman. Selain itu, keduanya juga pernah mengalami kegagalan cinta. Om Budi sendiri, pernah bercerai dengan almarhumah istrinya, demi mengejar perempuan lain. Meski akhirnya ia kembali kepada almarhum sang istri, namun rasa bersalahnya amat dalam ketika sang istri mendahului menghadap Sang Maha Kuasa. Sedangkan mengenai masa lalu dan kegagalan cinta Bunda Opie, kami tak bisa menceritakan karena kami tak tahu dengan jelas. Tapi yang pasti keduanya pernah bermasalah membina rumah tangga. Bedanya, Om Budi pernah mengalami penyesalan akibat sebuah kesalahan, sedang Bunda Opie pernah menyesal karena dikecewakan.
Karena latarbelakang itu, pada mulanya, Bunda Opie tak begitu saja percaya dengan Om Budi. Bunda tak mau kisah pahitnya terulang. Begitupula Om Budi, penyesalan mendalam, membuatnya jera berkubang pada kesalahan.

Merasa telah cocok, Om Budi langsung mengutarakan niat menikahnya pada kedua orang tua Bunda Opie. Padahal, Bunda Opie kala itu masih belum benar-benar percaya dengan Om Budi. Banyak pertimbangan di atas kepalanya. Beberapakali mereka janjian ketemu, Bunda Opie sengaja datang telat. Tanpa tujuan, ia harus muter-muter mall, hanya demi memenuhi rasa ketidakpercayaannya. Setelah itu baru ia datang ke tempat perjanjian.
Sampai di sini mulai terlihat karakter protektif Om Budi. Protektif karena sayang. Bermula ketika Om Budi menemani Bunda membuka facebook di warnet. Om Budi melihat ada sebuah pesan di Inbox FB Bunda, yang isinya sebuah ucapan selamat atas hubungan mereka. Pengirimnya adalah seorang lelaki. Dia adalah mantan pacar Bunda, pasca menjanda.
Om Budi pun langsung terbakar cemburu. Ia marah dan meninggalkan Bunda begitu saja. Karena merasa tak ada yang aneh dengan isi inbox di FB-nya, Bunda tak merasa salah. Ia membiarkan Om Budi pergi meninggalkan amarah dan sempat menghenyakkan kedua pundak bunda.
Beberapa hari berselang, rindu yang tak biasa melanda keduanya. Namun gengsi perempuan masih memaksa Bunda untuk tidak menerima telpon dari Om Budi. Hingga suatu hari Om Budi mengabarkan lewat pesan singkat bahwa ia sedang sakit.
Rindu mendalam semakin matang dengan bumbu rasa iba. Berat hati tak dihiraukan Bunda. Ia angkat ponsel dan menelepon Om Budi. Tapi ternyata emosi masih bercokol di hati keduanya. Terjadilah adu mulut. Bunda menilai sikap Om Budi kekanak-kanakan, tidak dewasa dan nggak jelas. Kecemburuan Om Budi adalah cemburu buta tanpa dasar. Sebaliknya Om Budi tetap bersikukuh agar Bunda menghapus pesan inbox itu serta me-remove lelaki itu dari FB dan kehidupannya.
Bunda tetap kukuh dengan pendiriannya. Baginya keinginan Om Budi itu tak berdasar dan sangat kekanak-kanakan. Sampai tiba-tiba terdengar suara benturan berkali-kali dari speaker HP Bunda. “Dug-dug-dug braaaakkk”. Bunda kaget. Ia menanyakan apa yang terjadi di sana. Tapi Om Budi tak menjawab jelas. “Sudah, sudah, aku pusing. Pusing, pusing banget,” kata Om Budi disamput putusnya HP. Tak jelas apa yang kini dirasakan Bunda dalam hati. Tapi ia harus datang ke rumah Om Budi esok siang.
Keraguan semakin besar hinggap di jantung Bunda. Siang itu ia bertarung antara iya dan tidak. Terpaksa untuk memilih dua hal itu, Bunda harus kembali melakukan kebiasaanya saat kebingungan. Muter-muter Mall tanpa ada tujuan membeli sesuatu.
Menjelang magrib, tekad Bunda bulat datang ke rumah Om Budi. Sampai di sana, Bunda disambut Encang, bapak almarhum istri Om Budi yang tinggal di rumah itu. Om Budi sendiri terbaring di kasur busa yang tergeletak di lantai ruang tamu. Di depannya TV menyala ceria.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Bunda berlutut memegang tangan Om Budi.
“Kamu kenapa sih?” tanya balik Om Budi.
“Kenapa apanya?” Bunda heran.
“Ya kenapa seperti itu?” Om Budi bertanya lagi.
Diam menyelimuti ruangan. TV di depan juga menayangkan sebuah sinetron dengan adegan tangisan. Tak lama kemudian Om Budi bangkit, duduk di samping Bunda. Ia menyatakan ketulusannya untuk menikahi Bunda. Mendengar hal itu, Bunda kembali diam. Ia tak tahu harus bicara apa.
Waktu menunjukkan pukul 10.00 malam. Bunda harus pulang. Ia bangkit dan berpamitan pada Om Budi serta Encang.
Om Budi masih terpaku dalam duduknya. Ia tak mau beranjak saat Bunda berpamitan. Mereka diam berhadapan selama beberapa detik. Akhirnya Bunda tetap beranjak dan meninggalkan Om Budi dengan ucapan salam. Namun langkah Bunda tertahan di teras rumah. Om Budi berdiri dan memenggilnya. Tatap mata mereka kembali beradu. Diam. Selang beberapa detik Om Budi mencoba membuka mulutnya.
“Kamu kenapa?” tanya Om Budi mencengkeram kedua lengan Bunda.
“Kenapa apanya sih?” tanya Bunda sebal berusaha memberontak dari cengkraman tangan Om Budi.
Beberapa mobil dan motor yang melewati rumah di Jl. Swadaya Pondok Ranji itu seperti tak bersuara. Di dunia ini serasa hanya ada dua mahluk, Om Budi dan Bunda.
“Kamu kenapa seperti ini?” tanya Om Budi lagi.
Bunda diam menatap tajam. Sorot matanya menembus lubang pupil mata Om Budi. Seakan ia mencari sesuatu dari celah kecil yang tampak lebar itu. Demikian pula Om Budi, ia membiarkan Bunda mengacak-acak ruang hatinya. Om Budi membiarkan Bunda seperti seorang polisi yang ingin mencari barang bukti. Menggeledah setiap sudut ruang hatinya. Berharap menemukan sebuah barang bukti.
“Kamu kenapa seperti ini?” Om Budi tak tahan mengulangi tanyanya.
“Mmm..., aku masing ingin...,” kalimat Bunda tersendat ditenggorokan. Om Budi diam menanti lanjutan kata itu.
“.... aku ingin mencari yang terbaik?”
“Memangnya aku nggak baik?” sambar Om Budi tiba-tiba. Perlahan ia melepaskan cengkraman tangannya. Diusapnya kepala perempuan yang berbalut kerudung di depannya itu. Bunda meninggalkan Om Budi dengan rasa tak keruan. Sebelum benar-benar hilang ditelan jalan, Bunda dan Om Budi saling memandang dari jarak sepuluh meter. Entah apa yang mereka rasa saat ini....

Bersambung Ke Pasrah IV

0 komentar:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html