Minggu, 23 Januari 2011

Aku Telah Menusuknya

Ya……………………..!!! Aku telah menusuknya…

Bukan dengan busur panah

Tapi pedang Tepat di jantung dada

Dadanya terbelah

Memuncratkan darah

Air mataku berubah merah

Masih kulirik raut wajah itu

Gusar menyeringai

Kengerian karenaku

Lari menapaki tangga-tangga

Dengan dada yang terbelah

Sambil menyeret sebelah kaki

Yang terikat suaraku…

Ia ketakutan

Seorang lelaki dari atas loteng meneriakiku

“Kau gila kawan..!!! ini hanya mimpi..!!! kau akan bangun esok pagi..!!!”

Bukan, ini bukan mimpi… ini kenyataan.. dan sebentar lagi aku akan kembali dalam mimpiku… setelah ini.. setelah membuat gaduh alam nyata…

Tak kan kau temukan lagi kenyataan…

Lelaki itu menghilang…

Dan suaraku telah menjalar lembut

Dari ujung jari kakinya

Melingkar menusuk ulu hati

Dan meluber melawan arus darah

Yang keluar dari dada yang terbelah..

Masuk ke rongga jantung..

Mengikuti saluran nadi…

Menjalar ke otak… dan bersemayam abadi

Di memori

Di hati

Di raga

Di mata dan di jiwa

Kini suaraku

Bahagia memeluknya

Menyaingi bekap malam

Yang iri pada suaraku

Dan

Suaraku

Adalah

Sukma

Dan suaraku

Adalah cinta

Jiwa yang dia cari

Ciputat, 5 Januari 2011 (Memoar Malam Tahun Baru)

Perusak Nada Kemapanan

Yang
Terukir dalam tahumu
Roh gentayangan
Dari proses kematian Tak sempurna

Begitu jiwaku Menghantui
Teror kehidupan
Kau cemooh
Kucilkan dan caci-maki
Marjinal
Kau lebih rendahkan
Tak berkasta

Jiwa yang silih berganti
Menyambang antar generasi
Lajur panjang rel kehidupan
Muakkan petinggi
Temani pemula yang perendah
Kecoh tunas baru nan lugu

Akulah perusak nada kemapanan
Yang susah payah dibangun
Raja-raja berorientasi
Bertuju kuasa

Yang kukabarkan
Hidup bukan hanya rel baja yang kaku
Berfinis satu
Ladang menjulang jadi milikku
Seperti otakmu
Tak pikir di mana selesaiku
Di stasiun kereta itu
Kau mati bersama

Temanku kunang-kunang
Berguru kebebasan
Di padang panjang
Yang tak pernah berakhir

Rabu, 12 Januari 2011

Teror Kesadaran dari Kegilaanku


Selamat Jumpa Sidang Noters Yang Budiman
Teriring harap, semoga keindahan senantiasa menyelimuti tiap status, foto, tautan dan semua bentuk aplikasi di semesta facebook.
Sidang noters yang berkahi facebook,
Sedikit masalah kecil menimpa gue di ujung desember tahun lalu. Beberapa masalah yang gue sikapi dengan sedikit penutupan diri. Sejak itulah satu dua kawan dekat mulai komplen. “Kemana saja lo? Sibuk apa saja? Ada masalah apa atau dengan siapa, sehingga lo sulit ditemui?” Begitulah soal-soal yang mereka ajukan.
Mulanya semua tanya itu gue hadapi dengan santai. Gue cuek saja dan coba jalani sendiri. Hingga tiba di suatu tengah malam yang memesona banyak mata dan telinga. Itu malam tahun baru.
Di malam pertama 2011, gue kembali melakukan kegilaan. Untuk kesekian kalinya gue melakukan kegilaan. Kali ini hari sabtu, tanggal dan bulan satu. Tanpa rencana dan kesadaran, alam bawah sadar gue di luar kendali memaksa raga, untuk menjalankan aksi teror. Sebuah teror atas kesadaran bagi gue sendiri, dan mungkin juga bagi orang lain.
Siangnya baru gue benar-benar ngeh. Apa yang gue lakukan semalam itu memang sungguh kegilaan. Its the truely madly. I was being as the mad man, succesfully. Gue benar-benar tak habis pikir. Kok bisa dan bisa-bisanya? Gue telah melakukan “Sesuatu Yang Tak Mungkin”. Anehnya itu terjadi.
Sidang noters yang berbudi,
Tahukah Anda apa yang kurasakan setelah itu? Di luar dugaan, seperti orang habis boker, lega... Aneh kan? Ya begitulah, karena saat gue melakukan aksi di luar kendali alam sadar itu, gue tak membohongi hatiku. Yang gue tahu gue jujur dalam itu.
Sidang noters tercinta,
Lalu ada yang bertanya, seberapa berartikah? Atau seberapa berhasilkah kejujuran itu? Untuk pertanyaan pertama gue tak mau menjawab. Sebab arti kejujuran gue, terkait erat dengan perasaan. Apa yang gue rasakan takkan pernah lo tahu sebelum lo merasakan sendiri. Kalaupun lo merasakan juga, tak ada alat yang bisa mengukur kesamaan apa yang kita rasakan.
Sementara untuk pertanyaan kedua, gue ingin menimpali dengan semacam sergahan atau mungkin apologi. Antara keberhasilan dan kejujuran bukan sesuatu yang harus saling terkait. Sebuah usaha dinyatakan berhasil manakala mencapai target atau tujuan yang telah ditentukan. Banyak halangan merintangi usaha. Karenanya butuh ketekunan, kelicinan, keuletan dan bisa jadi kelicikan untuk mengecoh halang rintang itu. Otomatis di situ terjadi bermacam manipulasi. Setidaknya manipulasi terhadap diri sendiri.
Tekun berarti harus memanipulasi diri saat jiwa merasa malas, lelah, capai, bosan menjadi sebuah semangat, gigih dan sebagainya. begitupula dengan licin, ulet dan licik. Jadi bisa dipahami, dari sini saja kita telah menemukan jurang antara kejujuran diri dengan keberhasilan.
Sidang noters yang dimulyakan facebook...
Kegilaanku yang memanfaatkan alam bawah sadar untuk mengungkap rasa (cinta) yang sesungguhnya itu berbuah keikhlasan dan ketenangan. Dan mungkin kemenangan. Kemenangan untuk diri gue sendiri.
Sidang noters yang berbahagia...
Ada seseorang yang gue pikir sangat terkena imbas dari kegilaan malam itu. Beberapa hari pasca kejadian, gue menemukannya di chatbox facebook. Lewat chat itu gue minta maaf jika ada sikap atau kata-kata yang tak berkenan di hatinya. Dia tak menjawab. Aku pun biasa saja. Terserah dia mau mandang gue apa. Saat itu hari selasa. Apapun anggapan dia padaku, besoknya tetap rabu. Sekitar 11 hari kemudian, aku melihat sosok perempuan itu di kantin Ushuluddin. Hatiku bergetar.
Sidang noters..
Begitulah kejujuran. Hanya membahagiakan batin sendiri. Itupun kalau kita bisa ikhlas. Kejujuran akan sangat sulit menuai hasil sebuah usaha. Seperti gue jelasin di atas, usaha membutuhkan berbagai manipulasi.
Oya sampai lupa, noters ini dibuat untuk menegaskan bahwa minimnya keberadaanku di kampus atau di mata publik bukan karena kejadian malam gila itu. Tapi, kalau boleh jujur, karena gue lagi low budget. Banyak utang. Sehingga lebih baik di kosan. Atau nongkrong yang gratisan. Ada yang minat bantu melunasi hutang-hutang gue?? Hehe becanda.
Kalau mau menemui gue gampang. Pagi hari, kalau nggak di kampus, berarti gue tidur di kosan. Malam hari, kalau nggak di kosan, berarti gue lagi nongkrong di Pesanggrahan. Atau langsung saja call me. Cuma jangan kaget kalau hape gue nggak aktif. Sebab baterainya ML alias Mudah Lowbat...
Terima Kasih telah membaca sampai selesai... semoga kesuksesan menyertai anda...

Senin, 03 Januari 2011

Hanya Untukmu

Hanya bekap malam
Jurang hampa temaram
Kebetulan biasa
Atau takdir tiba-tiba
Suaramu menggema
Tiap belah sel di kepala
Kadang kelam dan hitam
Tapi sering bagai pualam
Buat cermin tebarkan warna
Ada sedih curiga lara
Gimbira harap penuh bahagia
Kau aku
Dua raga satu jiwa
Pandang sukmamu
Senyum ini rebah nyaman di sana

Percayalah... kau takdirku aku untukmu

*aku yakin Tuhan tahu maksud hatiku

Ciputat, 7 Agustus 2009

Jumat, 31 Desember 2010

Pesan Jiwamu

Siapa bilang raga tak hidup tanpa jiwa
Tanpa nyawa
Di malam menghampar
Tak seorangpun tahu
Walau perempuan pujaanku
Karbon menyudahi iris atas udara
Oksigen tidur kelelahan
Ruangku mati
Saintis filsuf tak bangkit dari kubur berbuku
Buruh-buruh jantung giat angkut kilo-kilo darah
Di jalan utama pembuluh dan arteri
Mereka kedengar gaduh
Mengirim cair merah segala arah
Telinga tersiksa suara
Detak mengeras
Darah cecer di jalan
Mencipta gemelontang tak keruan
Suara itu sungguh berat
Mata tak tega jerit telinga
Memejam perlahan
Tambah dalam
Menggelap di antara dada
Di sana
Jiwa bersandar merangkul lutut
Ia bingung
Kukunci ruang kutanya jiwa
Kenapa kau selalu menyiksa raga
Ia bingung
Mengapa kau tak konsekwen
Ia bingung
Apa yang kau butuhkan
Ia bingung
Sekarang kau mau ke mana
Ia bingung
Ruang senyap sesaat
Tiba-tiba jiwa membuka mata
Menatap tajam ke arah raga
Katup mulut mulai ternganga
Suara kerasnya berteriak
Tak jelas
Gagap dan cadel
“Keluarkan Aku dari dirimu…………..!!!’
Seketika mata raga terbuka
Kutuliskan pesan dari tiap jiwamu.

Jumat, 10 Desember 2010

Secangkir Malam Hitam


Aku selalu sorak kegirangan

Tiap maghrib dengan sopan

menghidangkan secangkir kopi hitam bernama malam

Pekat malam sehitam kopi di gelasku

Sering kuoploskan lelah di adukannya

Kadang kutumpahkan karena luapnya luka, duka pula cinta

Mungkin juga harta benda

Uh ekonomi

Nyaman saja tiap secangkir malam hitam tiba

Kepul polusi beriring asap rokok

Tak mampu kujelantrahkan

Ingin tutup telinga tutup mata

Tak tega

dengar jerit teriak subuh

Khawatir tanpa dasar

Malam hitam harus kusiramkan di wajah timur

Demi tumbuh mega-mega

yang mudah layu

Bingung menangis sedu

Tak kuasa tatap cahaya

Mesti terima panggang mentari

Walau sakit coba nikmati

Biar kulawan sinarnya

mendidih darahku

cipta kopi senja

Rabu, 08 Desember 2010

Andai Dendam Temanku

Aku headline
Yang terbit sekali
Bersandar pekat peristiwa
Cuil beling dari beraduannya
Gundu-gundu emosi
Chaosnya lengking bentakan
Bertubruk di udara yang merah
Tersingkirkan
Sendiri membuang
Andai-andai
Bisa bersahabat
Tentu dendam kupelihara

Aku tanah tandus
Bertabur racun sesal
Limbah pembuangan
Andai-andai
Bisa bersahabat
Tentu kupupuk hingga menjulang

Benci yang lelah membenci
Api di basah sekam
Yang tak tega membakar
Andai-andai
Bisa berteman dendam
Tentu menjelma kekuatan besar
Andai-andai
Hemat kutabung luka

Kamis, 25 November 2010

Senandung Kala Boker

Ciputat, 24 November 2010, 23:52

Nonton

Bioskop Yang Cukup

Satu Penontonnya

Ada Yang Pakai Tiket

Ada Yang Gratis

Kalau Bayar

Itu Setelahnya

Kalau Gratis

Sudah Ditanggung Pengelola

Mungkin Negara

Lampu Nyala Terang

Gambar-Gambar

Keluar Dari Kepala

Seiring Kotoran Turun

Ke Bawah

Bau, Baunya

Judul Cerita Bisa Cinta

Atau Hal-Hal Gila

Inspirasi Tulis Kata

Bisa Acara

Semua Saat

Boker Kita

Sabtu, 06 November 2010

Selasa, 26 Oktober 2010

Wakil Kita Di Angkutan Kota

Ciputat, 17 Mei 2010

Perjumpan itu memang mistis. Ingatan kita masih bening, saat menyaksikan sosok lawan jenis di kendaraan yang berbeda. Jalan kita berlawan arah. Mungkin karenanya kita berpapasan.
Dalam catatan ini, terpaksa kusebut sebuah nama kota, yang tak indah untuk sajak, syair, puisi atau lirik lagu. Ciputat adalah tempat yang kau tinggalkan kala itu. Mengejar rindu dengan tanah moyangmu. Sedang karena alasan lain, Ciputat adalah tujuanku, dari usaha mengambil citra Taman Kota. Kala itu.
Lakumu di Januari. Sedangku di bulan Mei. Kau duduk di bus antar kota. Aku terjepit di angkutan kota saja.
Berterima kasihlah pada dua raga, pria dan wanita. Berdua mereka jadi perantara sukmaku sukmamu.
Atas deret bangku jajar dua. Arjuna datang senyum padamu. Duduk di samping tawar pinjamkan sebuah buku. Sudah pasti kau tersenyum malu. Tetap dengarkan lagu, dari pemutar musik hadiah ayahanda.
Aku sadar, matamu melirik sesekali. Terkejut arjuna menawarkan makanan ringannya. Laga bodohmu menolak pemberian. Sebab yang kau rasa tak keruan. Hingga mata terpejam. Itu awal sesalmu. Ia pergi tanpa pamit.
Di tempat jauh raga lainnya.
Atas deret bangku angkutan kota. Aku tersudut sendiri. Di himpit perempuan gendut. Seorang nenek membawa ayam dengan bau kotorannya. Keranjang jago itu khas pengadu. Tiga perempuan bersido merah jambu, duduk makin membuatku tersudut. Kuatap kaca belakang. Peluru pandang terkucur di atas aspal.
Namun terbelalak. Wajah kuluruskan. Kita saling berpandangan. Di sudut tepat depanku. Belum pernah kujumpa, perempuan berpunya seranum bibirmu. Kutatap lekat. Mengopi seluruh citra ayu. Hampir overload otak ini. Terlalu besar file yang kusimpan.
Sesekali pupil beradu. Kau gigit-gigit bibir itu. Rambutmu tergurai bagikan pelepah palma [Rendra]. Di kirimu duduk dempet perempuan paruh baya. Cantik kalau dia masih muda. Ia perhatikan gerak mataku. Aku yakin itu ibumu.
Wajah telanjangku salah arah, salah polah. Kubuang tatap di udara yang berisik. Dari balik kaca, jalan mengalir deras. Pohon-pohon menimbun belakangnya.
Kamu ketahuan mencuri pandang. Tapi pintar sekali, kau hanya menggigit bibir mungil itu.
Ciputat selesai di pasar. Kau turun di bekas Bioskop Niagara. Kutemukan sehelai mawar merah jambu. Di bawah tempat dudukmu. Aku belum turun. Di balik jendela kulihat kau gerai-gerai rambut itu. Doaku semoga kita kan bertemu.
Di Ciputat sebenarnya.
Pria dan Perempuan Itu Tak Ada.
Hanya Aku Dan Kamu

Senin, 25 Oktober 2010

Tempat Teraman

Menyadari sekitar tak kenal kompromi

Bisa jadi salah persepsi

Keriuhan hanya benteng rapuh dari intai kuping-kuping nakal

Kami berdua menepi

Mencari tempat sunyi

Di pojok gedung lalu-lalang sesekali

Malah mengejutkan tak pasti

Berdua menarik diri

Dalam ruang kamar

Kontrakan empat sisi

Tak ada mata peduli

Tak juga kuping nakal iri

Tetap saja

Gelak pintu tetangga

bolak-balik ceramai

Kejutkan

Kagetkan

Tak tenang.

Putuskan tunggu malam

Sampai nyamuk pulas tidurnya

Sampai pintu enggan bicara

Dan kunci kamar berdua

Tak kubiarkan desing kipas mengganggu

Getar komputer raba jiwa

Tak kubiarkan

Dia siap bicara

Aku bicara

Mulut terkatup

Angin bising menangis

Kalah tempur oleh asap kendaraan

Malam kian renta

Kuberitahu tempat aman sedunia

Aku dan dia

Dialog mesra

Dalam dadaku

Lebih dalam

Di kamar rapat

Kiri jantung belok lurus

Tembus tempat tersenyap

Tanpa dengar alir darah

Ruang jiwaku

Di sini kami berbagi

Aku dan dia

Sementara

Biarkan jiwa coba mengintai

Lewat sumsum tulang

Tak mungkin ia dengar

Gelak tawa kita berdua

Sabtu, 23 Oktober 2010

Obrolan Di Taman Ushuluddin

Di balik selangkang rimbun keramaian, kuhampiri seorang perempuan. Dia sobatku. Dikaitkan konsep metafisika, dia juniorku. Itu tak penting. Sejak dua tahun lalu aku menarik diri dari bisingnya sistem organisasi. Aku menemuinya sebagai teman. Meski obrolan kami sedikit menyinggung masalah organisasi. Ya, kadang kita terpaksa secara defakto mengakui heirarki itu.
Sampailah congor kami membilang kesendirianku, akibat penarikan diri dari keramaian. Ia berujar, “tapi kamu mendapatkan kebebasan? Di sana kamu bebas mengembangkan dirimu tanpa terbelenggu ini dan itu.”
“Sebagian manusia merindukan kebebasan yang telah terampas oleh sistem-sistem besar internasional maupun lokal. Tapi sebagian lain linglung serta kehilangan arah dalam cakrawala kebebasan. Setelah tembok pengekangan runtuh, tersisa pagar penjara yang bergitu luas tak terbatas hingga tak kasat mata. Pagar itu merupakan batas kebebasannya. Ia tak tahu di mana batasan langkahnya. Semua tempat singgah bukanlah saung yang nyaman, melainkan hamparan tak bertepi,” paparku.
“Apakah kau seperti itu? Bagai bumi lepas dari gravitasi matahari. Terombang-ambing di jagad buana yang gelap gulita? Dan hanya kelip-kelip bintang kau temui, yang tak sanggup menerangi?” tanya sobat perempuanku.
“Kadang demikian. Saat sadar lagi aku bersyukur atas itu. Tapi nyatannya kebebasanku belum penuh. Masih ada sekat penghalang mata guna menatap ketakterlihatan batas kebebasan. Salah-satunya keluarga atau orang tua. Walau mereka tak pernah menuntutku. Namun perasaanku belum bebas. Aku merasa tak enak. Kau tahu itu. Mereka akan bangga melihatku sukses. Dan standar sukses mereka adalah standar nasional, mungkin bahkan internasional. Yaitu suskses dengan jabatan tinggi dan uang yang melimpah. Kau tahu, aku berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Menurut standar internasional keluargaku belum mapan.”
“Lalu sekarang apa yang kau rasakan?” tanyanya dengan gaya reporter.
“Sendiri. Aku semakin jauh dengan fondasi yang aku bangun dulu. Sebelum aku menarik diri, menara suksesku seperti tinggal menunggu. Semua itu kini hanya menjadi fatamorgana.”
“Aku tahu alasanmu menarik diri,” tukasnya sok tahu.
“Ya, kamu tahu itu. Tapi jangan merasa kau tahu sepenuhnya. Itu terlalu gegabah, dan menyinggung perasaanku.”
“Bisa kau katakan alasan yang belum kuketahui?”
“Tak semua. Ini privasi. Tapi baiklah, salah-satunya karena aku sangat menghargai ketegasan. Ketegasanku diuji waktu itu. Aku memilih menarik diri. Aku merasa sudah kuat menjalani hidup baru. Ada beberapa komunitas yang mengharapkan keberadaanku. Komunitas-komunitas itu sebagian ada di bidang yang sama dengan organisasi kita. Beberapa lainnya jauh berbeda.”
“Kamu menyesal? Dan apakah kamu saat ini merasa lemah?”
“Tidak. Eh, kadang-kadang ya. Saat-saat aku merindukan kebersamaan, romantisme, keguyuban, pertengkaran dan sebagainya. Kau bisa bayangkan bagaimana aku bertengkar, bercanda dan sebagainya tanpa komunitas? Ya seperti itulah aku. Mungkin titik ini adalah titik nol. Angka yang menjadi lambang ketuhanan. Sebab nol tak bisa dibagi. Komputer, kalkulator dan alat hitung apapun akan eror jika berani coba membagi angka nol. Angka ini adalah simbol ketakberhinggaan, kekosongan yang sempurna.”
“Aku kurang menangkap apa yang kamu bicarakan? Dan bukankah Tuhan itu disimbolkan angka satu?”
“Bukan. Angka satu masih bisa dibagi. Angka satu lebih cocok menjadi simbol utusan Tuhan yang menyelamatkan umat manusia. Itu pendapat yang kuyakini saat ini. Karenanya, kamu tak usah bertanya alasan dan penjelasannya. Urusan keyakinan tak bisa dan tak mau kau debat dengan rasio. Ia punya logika sendiri. Sebuah logika yang tak bisa dilogikakan. Asal kamu tahu, saat ini juga kamu menggunakan logika tertentu dalam pertanyaan-pertanyaan yang kau ajukan padaku. Perlu kamu ingat juga bahwa logika bisa dibuat. Logika yang dibangun Aristoteles sangat relevan untuk jaman dan konteks wilayah tertentu. Tapi di abad modern logikanya dikritik habis-habisan.”
“Tapi tak bisa begitu juga dong. Bagaimana aku bisa menerima pendapatmu jika tak sesuai dengan logikaku?”
“Aku tak memintamu untuk menerima.”
“Ya setidaknya untuk memahami bahwa ucapan dan tindakanmu tidak salah menurutku.”
“Aku juga tak memintamu untuk paham dan membenarkan ucapan dan tindakanku. Itu hakmu. Terserah kamu. Toh dunia akan tetap ada tanpa aku, tanpa kamu, bahkan tanpa manusia. Kalau kamu benar-benar ingin memahami, lakukan itu dengan cinta. Cinta adalah contoh paling dekat untuk menjelaskan ketidakrasionalan. Apa alasanmu mencintai Syakur? Apakah dia lebih baik dan lebih bagus serta lebih segalanya dari Bonie? Kenapa kamu dulu menolak Bonie yang mengejarmu tak kenal henti? Kamu risih dengannya? Kenapa risih? Apa yang kamu butuhkan dari seorang lelaki atau pacar? Pertanyaan ini tak ada habisnya. Terus berkelanjutan. Intinya kamu bisa menerima seorang lelaki itu dengan segala kelebihan dan kekurangannya, walau memang tak sesederhana ini penjelasannya. Sampai saat ini juga bermilyar-milyar orang percaya adanya Tuhan. Masing-masing banyak yang merasa paling benar. Mereka mengguggat atau memertanyakan ketuhanann orang lain dengan akal. Padahal mereka sendiri sering kehabisan akal untuk menjelaskan Tuhan mereka sendiri.”
“Aku tetap tak menerima sesuatu yang tak masuk dalam logikaku.”
“Ohya? Menurutmu Syakur sudah perfect dari seluruh lelaki di dunia ini? Atau kamu sudah tak mungkin mendapatkan lelaki sempurna sesuai dengan akal dan persaanmu?”
“Tak ada lelaki sempurna di dunia ini.”
“Bukan hanya lelaki, tapi semua. Karena segala yang ada di dunia ini tengah ‘menjadi’. Jika kau menganggap logika berfikirmu paling benar, itu berarti kau telah mati. Memang kau merasa pasti. Namun kepastian adalah kematian. Hidup adalah proses menjadi. Terus bergerak dan tak ada kepastian. Jika kau merasa paling benar, maka kuucapkan selamat menikmati kebenaranmu. Dan kau takkan menjumpai kebenaran-kebenaran lain sebelum kau membuka diri pada kedatangan ketakpastian yang tak jelas kapan dan di mana ia akan menghampirimu.”

Jumat, 08 Oktober 2010

Bagi Yang Takut Ketinggian, disarankan tak membaca note ini.

Membangun Menara, Mendaki Langit.

Ciputat, 5 Oktober 2010

Aku menyerah. Kubebaskan kau menilai. Silakan hina, puja, sanjung atau caci aku. Aku tak peduli. Mungkin benar aku tlah tersesat. Tapi apa kau peduli dan rela menjemput lalu mengantarku ke jalan Semula?

Kalau keberatan tak apa. Biar kujalani sendiri, di sini. Kukumpulkan sisa-sisa porakporanda jejak jalanku. Kujadikan bangun fondasi menara masa depan. Di ujung sana, akan aku daki langit. Berjumpa Tuhan, Kebenaran atau apalah namanya.

Kepada semua lelaki dan perempuan yang telah kukenal dengan guratan semi permanen di hati. Ku tahu kalian cinta aku. Buat para cowok, jangan salah sangka dulu. Dalam hal ini aku ‘normal’. Artikan cinta seluas mungkin, biar kalian tak mau maho denganku.

Tapi jiwaku benar-benar rumit. Satu per satu darimu hanya menyaksikan sisi terang yang tampak saja. Itu bukan aku seutuhnya. Sisi lainnya merupakan sumber sinar terang hingga tak kau lihat. Aku yakin, psikolog atau psikiater kelas dunia nomor wahid pun tak mampu memahami jiwaku.

Jiwaku adalah jiwa dari pertaruang saling serang sinar-sinar maha dahsyat. Aku silau menatapnya. Aku benci menyapanya. Tapi selalu rindu bersama jiwa.

Ya, aku sering hidup tanpa jiwa. Langkahku langkah raga biologis. Jiwaku tertempel di langit bersama awan. Itu sering terjadi.

Kalau benar demikian, lalu siapa yang menulis note ini? Mungkin kesadaran, mungkin juga tanganku saja yang iseng, tiba-tiba ngetik di depan komputer. Yang jelas bukan jiwaku. Karena aku sedang membicarakannya. Pastinya, aku yang menulis.

Aku dan jiwaku adalah dua hal yang berbeda. Aku sering menyaksikan jiwaku penuh emosi memberontak marah-marah dan sebagainya. Kadang ia seperti pamer padaku kalau sedang bahagia. Jiwaku sering duduk merenung sendiri, lalu tertawa. Tak ada orang yang mampu melihatnya, kecuali aku.

Oke. Aku terima semua keporakporandaan ini. Porakporanda akibat pertempuran sisi-sisi jiwa. Coba kau rasakan bau mesiu dan asap serta radiasi nuklir jiwaku. Pertempuran ini telah selesai. Sisi-sisi jiwaku berdamai. Anggap saja tulisan ini sebagai NOTA KESEPAHAMAN JIWA.

Aku bersama sisi-sisi jiwaku, yang sebenarnya satu, melangkah fokus membangun menara untuk menggapai singgahsana Kebenaran. Kalau ada yang minat ikut, aku sangat bahagia. Tapi bagi yang nggak mau, karena takut aweng-awengan di ketinggian, tak apa-apa.

“READING WRITING AND SINGING”

Cahaya Kepam

Ciputat, 1 Oktober 2010

Nyinyit sunyi

berkelandara di pancang tiang jiwa

Menggubah malam

Bentangkan kelusuh yang kelu

Dalam kumparan senyap

Wajahmu menyala

Bagai kemamang di tengah sawah

berkeluat mencari

Kemukus cahaya kepam

Ceritaku Nembak Cewek

Galing-Galing mulai terganggu dengan pikiranku, yang tetap tertuju pada perempuan itu. Obrolan yang kami bangun serasa tak bernyawa. Lalu kuajukan tanya pada Galing-Galing, “Gimana kalau aku nembak (menyatakan cinta) perempuan itu?”
Galing-Galing mengiyakan dengan kerlingan mata. Tak lama ia beranjak meninggalkanku sendiri. Satu-satu kerumunan di kantin ini menghilang. Bangku dan meja gemelontang. Angin siang terlampau kasar membelai aksesoris Kanshul (Kantin Ushuluddin).
Aku heran, kemana perginya orang-orang? Adakah kejadian di luar yang menyedot perhatian massa? Ah, apa peduliku. Kucoba menerima ini sebagai mu’jizat, walau aku bukan nabi sekalipun palsu.
Dengan sigap, pupil mataku menangkap sosok perempuan berparas manis, nggak terlalu cute dengan penampilan minimalis. Ia duduk sendiri di bangku yang masih gemelontang. Aku berani menyapa dia.
“Hai,” sapaku. Ia cuma tersenyum.
“Kok sendirian?” tanyaku. Aneh, lagi-lagi dia cuma senyum melirikku dan kembali menulis SMS. Oh, bukan SMS tapi komentar di FB. Ponselnya BB bajakan, tapi cukup nyaman buat FB-an.
“Hey, aku mau bilang sesuatu. Perhatikan dong..!!!”
“Apa?” tanyanya mengangkat muka.
“Nah gitu dong, dari tadi kek. Jadi begini, aku cuma mau bilang bahwa Aku Tulus Cinta dan Sayang kamu. Bagiku kamu cukup. Aku tak ingin perempuan selainmu.”
Kusaksikan tatapannya fokus ke beranda mataku. Ah, tapi sepertinya bukan. Itu bukan tatapan fokus. Dia shock. Diam tak bergerak pucat pasi. Telapak tangannya tegang mencengkeram BB. Cemarinya tak berkutik. Kini aku sadar, matanya kosong.
“Eh, aku cabut dulu ya, keluar kampus,” aku berdiri pamit sambil mencubit lengan kirinya yang tegang.
Seiring langkahku, satu per satu mahasiswa kembali memenuhi meja dan area kantin. Dua puluh meter jarakku, Kanshul penuh dan ramai kembali. Suara tawa dan jeritan membahana sampai kupingku.
“Hah...!!!, jeritan?! Ada apa di sana?’ pikirku sejenak menoleh ke Kanshul.
Tampak tiga perempuan dan dua laki-laki mengerubungi perempuan yang baru ku tembak tadi. Aku balik mendekati Kanshul. Jarak sepuluh meter aku berhenti. Tepat di tempatku dengan Galing-Galing sebelumnya.
Semua mata mengarah ke sana. Sayup-sayup kalimat menyela keriuhan jatuh di kupingku. Perempuan itu kesurupan. Kok bisa? Aneh.
Empat orang dengan payah membopongnya menuju ruang dosen. Aku masuk dalam kerumunan, membuntuti pembopongan. Sampai di ruang dosen, aku dan puluhan mahasiswa lainnya menunggu di depan pintu penasaran.
Setengah jam berikut, perempuan itu keluar dengan wajah lesu linglung, namun sadar. Seorang cowok, yang kuyakin pacarnya dan dua mahasiswi mendampingi. Disusul kemudian dosen yang mengobati cewek tadi. Insting jurnalisku berdiri. Kuhampiri dosen itu tanpa sungkan.
“Ada apa pak? Kenapa perempuan itu?” tanyaku. Pak Dosen menghela napas sejenak.
“Dia kesurupan,” kata Pak Dosen mengusap keringat di dahinya.
“Kesurupan? Kesurupan jin maksudnya pak?”
“Bukan,” jawab dosen itu membuatku tambah bingung.
“Lalu kesurupan apa pak? ”tanyaku lagi dong.
Dosen itu tak segera menjawab. Ia menghela napas dalam-dalam, seperti mengumpulkan tenaga ekstra.

“Perempuan itu tadi kesurupan.... CINTA....”

Yang Tak Kau Sadari

Ciputat 1 Oktober 2010

Aku udara

sukma cadangmu

Penjaga yang tak pantas melindungi

Sebab indahmu merona

Bila sepi di helai mahkota bunga

Suaraku berbisik di telinga

Sayangku beriring sel-sel tubuh waktu

Kau layak kukagumi…

Bukan sekadar boneka kembang coklat

Amat basi sebutmu separuh jiwa

lebay bilangmu pujaan hati

Sebagai hidupmu

Tak apalah kaulupakan

Jika hadirku malah menunda kematian

Sebagai jantungmu

Tak masalah hilang dari ingatan

Aku memompa tak kenal sadar

Kentalkan darah oleh butir-butir cinta

Usai jeda ini

Sadari aku honey

Selasa, 21 September 2010

Oleh-Oleh Dari Lampung Halaman

Gara-Gara Dosa Dari Jakarta

Akhirnya sampai juga di Lampung. Di kampung halaman, aku tak segera menuju rumah. Capai dan panasnya pantat memaksaku berdiam lebih lama di rumah Vian (Sepupuku yang mudik semotor denganku). Empat kali bocor ban dalam perjalanan malam dari Bekasi – Lampung membuat lelah tak karuan. Kenapa ban sampai bocor empat kali? Mungkin aku dan Vian terlalu berat karena banyak dosa dari Jakarta.
Ayah Vian, Pakde Muridan, adalah orang pertama yang menyambutku dengan sebuah tanya, “Kamu di Jakarta kok malah tambah item dan berantakan? Biasanya kan orang dari kota bersih-bersih dan putih?” Aku hanya menjawab, “masa sih Pakde?”
Sampai di rumah, bersalaman dengan mama. Beliau mencium pipi kanan kiriku. Usai itu aku menjadi orang paling menyesal dan sedih tiap kali hendak mencuci muka. Aku sedih ketika harus membasuh bekas ciuaman ibu di wajahku. Alhamdulillah Ibu tak menyuruhku potong rambut. Ia pun sama sekali tak mengomentari kondisi dan penampilanku.
Hari-hari berikutnya aku bertemu satu persatu teman, tetangga dan sanak saudara. Pamanku Zaini datang saat aku tidur siang di depan pesawat TV. Aku terkejut. Ia menarik gelang di tangan kiriku. “Wiiieeetsss...,,, jadi preman di Jakarta. Coba lihat rambutnya, wiiiiihhhhh gondrong... mau niru siapa ini...,” kata Paman Zaini dengan senyuman.
Aku juga menyambutnya dengan senyum ramah. Aku tahu dia hanya bercanda. Dia tak tahu betul filosofi gelang dan rambut gondrongku.

Disuruh Jadi Bintang Film
Di hari lebaran, aku semakin banyak mendapat komentar dan tanya. Tentang rambut, kurusnya badanku, gelang, muka yang kurang bersih dan hitam, serta keberadaanku di Jakarta.
“Pacarnya mana? Kok nggak dibawa pulang?” tanya nenek dan beberapa tetanggaku. “Kuliahnya belum selesai? Sudah punya cewek belum? Buruan nikah, biar ada yang nempatin rumah dan mengurus masjidnya.”
Seputar itulah tanya mereka. Tapi ada satu komentar yang beda. Itu keluar dari mulut suami budeku. Pakde Marzuki namanya. “Udah kadung (terlanjur) di Jakarta, sekalian cari-cari celah agar bisa main sinetron atau main film.”
Kalimat itu ia ulang tiga kali dalam waktu dan tempat bertemu yang berbeda. Di rumahku, di rumah nenek dan di rumahnya.

Maafkan Aa Honey...
H+7 aku berangkat kembali ke Jakarta. Ciuman Ibu kembali mendarat di kanan kiri wajahku. Pukul 09.30 aku dan Vian kembali menarik gas motor. Sebuah rasa sesal tiba-tiba singgah di hati. Sesal karena tak sempat mampir ke Teluk Betung untuk beli dodol duren, Lempok, kripik pisang coklat, kemplang dan oleh-oleh khas Lampung lainnya. Maafkan aku wahai perempuan yang kupuja siang malam. Hingga kini ku belum memberi yang terindah, terbaik dan terenak untukmu. Kebahagiaan kita pasti nyata.
Sakit Hati Yang Nggak Pas
Di tepi lain, sesal melanda karena tak sempat bertemu kawan-kawan Pers Mahasiswa di UNILA. Ada kenangan dan harapan tertinggal di sana. Ya sudahlah mungkin lain kali, pikirku.
Tapi takdir menjawab. Di Bandar Sribawono, di sebuah Pom Bensin Pertamina, aku melihat sosok yang tak asing. Tapi tubuh dan wajah serta penampilannya agak beda dengan yang kukenal dulu. Benarkah dia Hendi, yang dulu sempat mencomblangiku dengan Dui Setiani tapi malah akhirnya mereka berdua yang jadi pacaran?
Aku tak yakin mau menyapanya. Kuamati terus pria itu. Siapa tahu benar Hendi. Siapa tahu dia melihatku dan ingat pada orang ganteng ini. Ujung helm sampai sepatu hitamnya telah lengkap kupandangi. Tapi ia tetap tak merasa kuperhatikan. Ingin kupanggil, tapi masih ragu. Hingga ia membuka dompet hendak membayar bensin, aku baru yakin bahwa dia Hendi. Pasalnya, di dompetnya melekat sebuah foto cewek cantik, tomboy dan manis. Tipe gue banget. Ya itu gambar Dui Setiani.
Seketika sakit hatikuv menyeruak. Entah kenapa aku juga tak tahu. Benarkah aku masih cinta pada Dui? Padahal aku dan dia cuma beberapa menit sempat bertatap muka. Itupun tiga tahun lalu. Kita juga belum sempat jadian. Dulu kubiarkan Hendi mendapatkan Dui karena aku teleh punya perempuan di Jakarta. Tapi semua sudah berlalu. Biar kusapa Hendi.
“Hen..!!! Hendi kan? Gue Wibowo, Pagar Dewo...”
Mendengarku ia menoleh. Diam menatapku sesaat dan mengucap istighfar. Kami betukar kabar. Tak kuduga, dia jago nebak. Melihat rambut gondrong dan sandal jepitku, ia tahu aku belum lulus. Sementara dia sudah kerja di sebuah kantor di Bandar Lampung. Pagi itu ia tengah ingin berangkat kerja. Kebetulan Hpku mati, tak sempat mencatat nomornya. Tapi dia mencatat nomorku. Akhirnya kami berpisah. Dia berangkat kerja, aku berangkat kuliah ke Jakarta.
Di jok motor yang membuat pantat teposku panas, akalku terus bekerja menenangkan jiwa. Berusaha ikhlas menerima masa lalu yang belum kutemukan benang merahnya dengan masa kini. Baru di atas kapal, kubisa menerima dan menghilangkan sakit hati. Ya memang tak tepat kalau harus sakit hati pada masa lalu. Semestinya aku tersenyum menatap masa depan. Hendi, Dui, semoga bahagia iringi langkah kalian berdua. Percayalah, aku ikhlas kok. Jadi jangan ada rasa tak enak denganku. Kita tetap kawan, kita tetap sahabat dan saudara. Oke...

Cewek Idaman Masa Kecil.
Di perjalanan balik ini, Dua orang teman sekampung Vian turut serta. Di atas kapal, ketiganya menghiburku dengan cerita masa kecil. Cerita yang menghibur? Tentang apa? Tentu saja tentang perempuan. Kami kan lelaki.
Kampung Vian berjarak 1km dari desaku. Zaman mereka kecil, ada perempuan yang menjadi bunga desa. Namanya Peni. Sekarang sudah menikah. Vian dan kedua temannya termasuk ABG yang dulu tergila-gila pada Peni. Vian menuturkan, Peni adalah cewek idaman masa kecil. Kalimat yang sering terlempar dari pemuda untuk Peni waktu itu adalah, “Beeehh mbak Peni, kamu kok cantik banget. Aku rela kalau harus minum (maaf) air senimu.”

Bersih Dari Dosa
Aku tertawa mendengar itu. Hahahahahahahahahahahaha. Dan alhamdulillah, pukul 21.00 aku tiba di Tangerang. Sowan di rumah saudara. Di jalan balik ini, motor yang kukendarai bersama Vian tak mengalami bocor ban atau hambatan lain, seperti saat pulang mudak sebelumnya. Mungkin karena habis lebaran, idul fitri jadi kami kembali suci seperti terlahir kembali. Makanya, ban motor membawa kami tanpa beban.

** Di FB Gue Juga Ada...
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html