Jumat, 28 Agustus 2009

UIN Lebih Baik dari IAIN, Segala-galanya...


-->
Siapa Bilang, zaman IAIN lebih baik dari zaman UIN jakarta. Siapa bilang konfersi IAIN ke UIN Jakarta merupakan biang kemunduran kualitas intelektual mahasiswa Ciputat. UIN Jakarta dengan segala kemewahan gedungnya sangat lebih bagus ketimbang IAIN Jakarta tempo dulu.
Itulah pernyataan Otong, mahasiswa semester akhir Fakultas Dirosat Islamiyah UIN Jakarta. Menurutnya, Nilai lebih UIN Jakarta terlihat pada banyak aspek. Diantaranya gedung-gedungnya yang megah dan lingkungan kampus yang rapih dan bersih. "Dulu semasih IAIN dan belum ada gedung baru belum dibangun, kampus ini sangat kumuh. Apalagi kalau hujan, pasti becek sekali. Ditambah dengan toilet umum, yang kira-kira dulu terletak di jalalanan dekat fakultas tarbiyah, tak terurus dan bau sekali. Kondisi macam itu pasti memengaruhi psikologis mahasiswa," tutur Otong.
Berbeda dengan zaman UIN sekarang, lanjut Otong, gedung bagus, bersih, makin banyak fakultas dan bangunan megahnya, dan hingga sekarang masih terus membangun. Secara langsung ini adalah nilai tambah bagi kampus kita.
Terkait kualitas mahasiswa, yang menurut banyak kalangan mengalami kemunduran, Otong tak sepakat. "Siapa bilang kualitas mahasiswa sekarang mundur? Kita semua masih dalam proses. Hasilnya akan terlihat beberapa tahun ke depan. Menurut saya Mahasiswa Jaman UIN lebih bagus dari pada zaman IAIN. Salah satu contohnya, MAHASISWA DARI ZAMAN IAIN JAKARTA belum ada yang bisa JADI PRESIDEN RI. Tapi lihat mahasiswa (dari masa) UIN Jakarta, INSYAALLAH ada yang jadi Presiden.

Rengekan Ala Muda (RAM)

Rengekan ala muda, remaja kekanak-kanakan memelukku. Dekapan mesra hina tapi memabukkan.. Aku mabuk kepayang.
Aku ikut menikmatinya. Dia memelukku erat dari belakang. Tak tahu, sebelumnya ia datang dari mana.
Di dapur hati ini aku sendiri. Semua penghuni rumah jiwa telah pergi. Sebagian terlelap dalam tidur pagi nan panjang. Saat aku termenung di depan kompor itu, dia menyergapku. Aku menoleh dan menengok, mencari tahu siapa dia. Alangkah kagetnya, di usia tua ini rengekan ala remaja masih berani menggodaku. Melankolis.
Tepat kala ku menolehkan wajah, dia menusuk mulutku dengan pisau tak bertulang. Lidahnya.
Ah…, bau mulut itu membuatku makin bernafsu.
Aku kuasai diri. Ku ayunkan pukulan ke perutnya agar dia menjauh. Tapi hatiku memeluknya erat. Ia semakin beringas.
Ia menangkapku, merebahkankanku di atas ranjang lamunan. Kini hatiku menolak, berusaha menendang-nendang dia. Tapi sekucur tubuhku pasrah tak terkira. Gemetar dan berkucur keringat tak terkira. Aku semakin terbang tak tauu entah kemana entah dimana. Penasaran atas apa yang terjadi
An…
Aku nggak kuat, aaaaaaaaaa ..ing
Aku sudah tua, Dunia menantiku
Aaaaaaaaah jantungku berdegup keras.
Mati aku, oh tidak o ya ooooh ya oh yaaaaa
Annnnn….ing…….

Sabtu, 08 Agustus 2009

Nasib Patahan Budaya IAIN/UIN Jakarta Ciputat

MS Wibowo - Puluhan mahasiswa saling berkomplot di bawah rindangnya pohon, teras-teras fakultas dan rerumputan. Asap rokok mengepul makin tinggi. Terdapat segelas kopi hitam di tengah lingkaran para pecandu diskusi itu. Bila kopi tinggal beberapa milli dari dasar gelas, pertanda diskusi terancam putus. Kecuali bila diisi ulang.

Situasi tersebut membuat buku menjadi lubang penyimpan kekayaan dan persenjataan individu, yang kapanpun bisa diambil. Barangsiapa menjauhi buku, konsekwensi paling minimnya ialah akan tampak culun, berwawasan sempit dan lingkungan akan menganggapnya pemalas.

Dalam kondisi ini, ratusan teori dan wacana berevolusi menjadi karya tulis atau opini yang dimuat media lokal maupun nasional. Hal ini adalah syarat yang harus dicapai jika ingin dianggap sebagai manusia yang layak disebut mahasiswa.

Teori dan wacana yang diadon matang, mewujudkan gagasan dan solusi bagi kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama. Tak hanya sebatas wacana, hal itu juga selalu coba diaplikasikan dan didakwahkan. Meski kadang masyarakat malah mencaci dan membenci.

Masyarakat awam biasanya selalu ingin memertahankan apa yang sudah turun-temurun dari zaman dulu. Padahal kehidupan selalu berkembang dan berubah. Karenanya para intelektual selalu berusaha menangkap hakikat sesuatu atau misalnya ajaran Nabi, agar selalu kontekstual dengan zaman.

Kultur di atas terjaga sejak kepemimpinan Rektor Harun Nasution. Laiknya sebuah batang panjang yang tak diketahui ujung akhirnya. Tapi pada kisaran tahun 2000 batang itu retak dan patah sekitar tahun 2004. Sebuah patahan yang meninggalkan puing atau kepingan.

Kepingan itu adalah angkatan 2005 (selanjutnya disebut keping). Sekeping generasi yang mewarisi tradisi patahan pertama (zaman Harun Nasution-2004), tapi jatuh terjebak dalam lingkungan dan kultur baru di patahan kedua (angkatan 2006 - ). Keping ini terus menerus terbawa arus zaman dan melebur bersamanya tapi tak menyatu. Terbawa keterasingan bagi yang ingin memaksakan kembali dalam patahan pertama, dan mengalami kebingungan bagi berusaha menyatu dengan patahan kedua.

Dari hari ke hari, masa ke masa, keping makin terasing terhadap zaman, ruang dan budaya yang ada. Tak mungkin kembali ke patahan pertama. Karena seiring estafeta waktu, patahan kedua makin menjauh dari patahan pertamanya. Dan patahan kedua menawarkan banyak kesenangan dan kesuksesan semu. Tawaran-tawaran itu membuat banyak orang bergabung dengan gaya hidup dan budayanya. Dan Keping pertama makin menderita dengan keterasinganya. Ia meratap dan terus meronta...

Bersambung...

Kerabo

MS WIBOWO - Kerabo. Aku belum pernah kesana. Tapi tempat itu menyadarkanku bahwa dia muak dengan semua jalan yang telah kita lalui. Jalan yang berulang. Dia yang pertama kali mengajakku kesana. Tapi aku yakin dia akan mengelak pernyataan terahir ini. Dia pasti akan menyatakan, akulah yang dulu mengajak dia kesana.

Dan kami saling berdebat menuduh. Ujung perdamaian kami akan berkata, bukan aku dan dia yang berjalan ke situ. Tapi sesuatu yang lain. Sesuatu seperti api. Dan dalam hati masih saling menuduh satu sama lain. Oh.., apakah ini harus diakhiri dengan keotentikan diri? Aku belum sanggup. Tapi coba kupersiapkan. Karena jawaban-jawaban dinginnya yang tak bersahabat. Oke.

Senin, 03 Agustus 2009

Pengganti Imamku, Iblis

MS Wibowo - Aku tahu dan aku sadar, Iblis atau setan atau apalah namanya, telah bersarang lama di otakku, di hatiku dan menyatu dengan jiwaku.
Ia sering menjadi pengganti Jiwa Murniku untuk memimpin ragaku. Aku ingin sekali mengurungnya, agar tak semena-mena menjadi imam ragaku. Keinginan ini ada sejak kecil. Sejak masa sebelum aku usia TK. Sebab selama itulah ia selalu datang menengokku, lalu membimbingku. Dan sebagai martir aku patuh, meski sesudahnya aku menyesal.
Biasanya, seorang yang berkuasa, akan melukai atau menciderai orang yang diperintah, bila perintahnya tak diindahkan. Tapi Iblisku beda. Sebaliknya ia akan menciderai hati dan ragaku kala aku tunduk menjalankan perintahnya.
Aku sadar itu. Walau begitu, aku tetap menjalankan perintahnya. Kau tahu kan, aku adalah martir.
Jiwa murniku atau Raja Jiwaku, sebenarnya dendam padanya. Tahukah engkau bahwa Raja Jiwaku seorang wanita? Dan Iblisku adalah seorang pria? Mereka melakukan perselingkuhan terlarang. Perselingkuhan memang terlarang kan? Mereka sering melakukan perbuatan mesum. Kau tahu itu apa? Ya, mereka sering ML.
Aku tahu, sebenarnya Raja Jiwa sering menolak saat diajak berhubungan. Tapi juga kadang pasrah bahkan mengharapkan. Tapi baik terpaksa atau tidak, raja jiwaku pasti selalu menikmati hubungan itu. Batinnya menolak, tapi satu sisi ia tak sanggup menyingkirkan dan menyembunyikan rasa senangnya.
Gelagat Sang Raja Jiwa itu tak dapat disembunyikan. Iblis pun mengetahuinya. Maka tanpa rasa bersalah, ia pura-pura memaksa Raja Jiwa agar mau menuruti nafsunya. Padahal tanpa paksaan pun Raja Jiwa mau. Pemaksaan itu hanya syarat belaka.
Setelah hilangnya rasa nikmat itu, Raja Jiwa merasa apa yang terjadi itu salah. Tapi tak mungkin dipungkiri bahwa ia sering menginginkan hubungan itu kembali secepatnya. Menunggu Iblis melakukan paksaannya. Eh, maksudku pura-pura memaksa.
Nah, ketika Raja Jiwa benar-benar sadar bahwa dirinya diperalat, ia melapor pada martir-martirnya, seperti Aku. Lalu memerintahkan kami mengusir Iblisku. Tapi percuma, rumah ini telah menjadi milik Iblis juga. Selain Raja Jiwa, Iblis juga pemimpin kami. Kami tak bisa menolak saat ia memerintah.
Raja Jiwaku terjebak dalam perasaan salah dan menyalahkan. Akupun menyalahkannya. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Sebab Iblis selalu menerorku dan juga Raja Jiwa. Iblisku datang tak kenal waktu. Sesering mungkin. Tak peduli kala ramai atau sepi.
Dia pandai. Tak peduli kala ramai atau sepi, ia datang saat aku dan Raja Jiwa melupakan kebencian padanya. Dia datang untuk memperbarui kebencian yang sebentar nanti musnah. Lalu ia munculkan kembali dan seterusnya.
Dia datang dengan senyuman dan tongkat sabitnya. Mengenakan jubah hitam panjang yang menutup kepala hingga ujung kaki. Tak ada yang melihatnya selain aku. Raja Jiwa bahkan tak pernah benar-benar sadar ia datang, sebelum tiba-tiba iblis itu menyergapnya. Dan langsung mengambil alih kekuasaan.
Raja Jiwa kadang setengah meronta. Tapi ya percuma. Iblis menyergapnya bukan setengah-setengah. Akhirnya, terulanglah tragedi itu. Karena mereka sama-sama menikmati.

Kamis, 30 Juli 2009




Ya, tapi bukan itu yang penting sayang. Dan Aku makin sadar, mungkin kau akan lebih baik tanpaku.
.

Kini tak Ada yang meluluhkanku lagi,,
.
.
.memang haruskah kusendiri. paksa jiwa kosongkan raga?


Saat, jingga langit senja makin menghilang
Tertusuk cahaya lampu remang-remang.
Debu menimbunku dalam langkah yang berisik. Memantulkan irama alam,
kurung cintaku...
/

/
mfin mas ya sayang, mas tadi terlalu terbawa emosi,,
mas sayank... banget ma kamu,,
cinta kadang membuat orang kehilangan kedewasaan
,
'
.
Tiada yang bisa kuharapkan kecuali sendiri
Tiada yang bisa menolong kecuali sendiri
Aku tak boleh terlalu percaya padanya
karena ia jarang menyimpan kata-kataku.
Bersiaplah untuk kemungkinan yang pahit

yaah, haruslah diterima dengan lapang dada.. apa saja.. hehe

Anak Muda,,, sedihlah, menangislah,,, aku juga pernah mengalami hal itu,,
enak ya kali jadi orang dewasa....?
AKu mau menjadi yang ku mau, inginku harus kurengkuh...


Jumat, 24 Juli 2009

Hidup Sesudah Mati, Mau ngapain ya?



Oleh MS WIBOWO

Mati atau kematian adalah fakta. Tak seorangpun mampu menolaknya. Tapi sampai sekarang, hal ini masih misteri. Pasalnya, belum ada orang kembali dari alam kubur dan menceritakan keadaan di sana. Jika orang tak percaya adanya Tuhan atau akhirat, hal itu bisa dimaklumi atau ditolerir. Tapi kalau orang tak percaya akan kematian, hal ini tak mungkin bisa ditolerir. Sebab, kematian adalah fakta, sedangkan akhirat bukan fakta melainkan suatu keyakinan yang diperkuat dengan agumen-argumen logis.

Banyak pemikir menyibukkan diri dan berusaha mengungkap teori tentang kematian. Sigmun Freud misalnya, mengatakan bahwa hal yang paling ditakuti manusia adalah kematian. Karena kematian tak dapat ditolak, manusia mencari perlindungan kepada hal yang bersifat supranatural, yakni Tuhan. Tuhan, tutur Freud, adalah imajinasi manusia itu sendiri, yang seolah-olah bisa membantu menyelesaikan misteri yang paling ditakutinya. Jadi menurut Freud, manusia yang percaya Tuhan adalah manusia lemah yang butuh perlindungan dari zat yang lebih besar. Hal ini tak ubahnya seperti anak kecil yang masih butuh bimbingan dari kedua orang tuanya.

Sementara Sartre, seorang tokoh eksistensialis yang sangat menegaskan kebebasan manusia, pada ahirnya mengakui bahwa manusia tak bebas lagi manakala menghadapi kematian. Bagi Sartre maut adalah suatu yang absurd. Ia tak dapat ditunggu, melainkan hanya diharapkan kedatangannya. Tapi kapan datangnya maut, kita tak dapat memastikan. Lebih lanjut Sartre mengatakan, dengan kematian, eksistensi berakhir dan kita kembali ke esensi.

Konsep tentang kehidupan sesudah mati terdapat hampir di semua agama-agama besar di dunia. Baik agama samawi maupun agama ardi. Agama Budha misalnya, menekankan pada nirwana, yakni Keadaan yang tidak ada atau tidak bertepi. Menurut kepercayaan agama Budha, selama berada di dunia, jiwa manusia terpenjara di dalam tubuh. Untuk membebaskannya, ia harus menyucikan diri dari rayuan hawa nafsu agar dapat kembali ke alam spiritual yang tak bertepi.

Sementara dalam agama Hindu, kelahiran kembali atau reinkarnasi menjadi ajaran pokok karena kelahiran inilah yang menjadi ukuran bagi perbuatan manusia di dunia. Jika semasa di dunia tak dapat melepaskan diri dari keinginan duniawinya, maka ia akan terlahir kembali dalam bentuk manusia atau mahluk lainnya. Sebaliknya, jika ia mampu melepaskan diri dari ikatan-ikatan duniawi, maka ia akan mengalami moksa, yakni bersatunya roh dengan Sang Hyang Widi. Moksa dalam ajaran Hindu merupakan tujuan hidup umat Hindu. Ketika moksa manusia tak hanya bersatu dengat zat tertinggi, tapi juga mengalami kebahagian dan ketentraman.

Dalam Agama Islam, kehidupan sesuadah mati adalah kehidupan yang hakiki. Karena diyakini bahwa kehidupan di akhirat, lebih tinggi dari kehidupan di dunia. Kitab Suci umat Islam, yakni al-Quran, banyak di dalamnya ayat yang menerangkan beberapa gambaran tentang kehidupan sesudah mati. Dimana, setiap manusia akan diminta pertanggungjawabannya atas segala perbuatan semasa hidup di dunia. Amal-amal perbuatan manusia akan ditimbang. Hasilnya, jika amal baik lebih berat dari amal buruknya, maka ia akan ditempatkan di surga. Sebaliknya, bila amal buruknya lebih berat, maka neraka menjadi suaka bagi mereka. Keyakinan-keyakinan semacam ini tak hanya ada dalam Islam, tapi terdapat pula dalam agama Kristen dan Yahudi.

Kehidupan Sesudah Mati Sebagai Doktrin Agama

Manusia, sebagai mahluk yang dikarunia akal dan nafsu, selalu memiliki keinginan-keinganan dan tujuan-tujuan tertentu dalam hidupnya. Tak jarang, tujuan dan keinginan tersebut saling bertentangan antara satu dan lainnya. Bahkan terkadang, demi mencapai hal yang diidam-idamkan, sifat rakus manusia menyetir untuk menghalalkan segala cara. Sehingga timbullah saling tindas menindas dan sebagainya. Kondisi tersebut, kerap menimbulkan ketidakadilan.

Ketidakadilan, juga sering terasa bila kita melihat golongan atau oknum yang berbeda dengan kita. Misalnya antara rakyat dan penguasa. Antara orang kaya dan dan orang miskin. Contoh kasus, seorang koruptor yang tak mendapat hukuman setimpal dengan perbuatannya, akibat politik uang dan kelicikannya memermainkan hukum. Sementara yang bekerja keras dan jujur tetap tersinggirkan, tapi yang malas dan tak jujur hidup mewah dengan harta melimpah dan menduduki jabatan yang tinggi. Keadaan semacam itu, membuat manusia ingin mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya. Keadilan semacam itu hanya bisa ditegakkan oleh Sang Maha Adil, yakni Tuhan. Dan bila keadilan di dunia tak terlaksana, kaum agamawan yakin bahwa keadilan Tuhan akan dilangsungkan di akhirat kelak.

Inilah doktrin hidup yang diajarkan hampir di semua agama. Tujuannya tak lain agar manusia berbuat baik dan berakhlak mulia. Meskipun kebenaran dari keadilan Tuhan di akhirat belum bisa dibuktikan secara riil, tapi siapapun orangnya pasti tak ingin disiksa dan dibakar dalam kobaran api neraka. Dan telah menjadi kodrat manusia, akan bahagia dan senang bila ditempatkan dalam surga, yang digambarkan penuh dengan kesenangan dan kebahagiaan.

Penegakan keadilan di akhirat adalah argumen moral yang mendukung keabadian pribadi sesudah mati. Sebagaimana diungkapkan Immanuel Kant, setiap manusia memerjaungkan nilai moral yang tertinggi. Dengan matinya seseorang, tak semua kesempurnaan moral tercapai di dunia. Kesempurnaan itu hanya bisa dicapai kalau ada kelangsungan hidup sesudah hidup yang sekarang.

Wujud Manusia Ketika Bangkit Kembali

Mengenai bagaimana manusia dibangkitkan setelah mati nanti, para pemikir dan filsuf agama berbeda pendapat. Al-Ghazali menolak pandangan para filsuf tentang kebangkitan jiwa saja. Menurutnya, Tuhan mampu menciptakan manusia dari tiada menjadi ada. Maka, akan lebih mudah lagi membangkitkan yang pernah ada dari pada yang belum pernah ada.

Berbeda dengan Ibn Rusyd yang menyatakan bahwa yang dibangkitkan kelak hanyalah jiwa belaka. Penggambaran dalam al-Qur’an mengenai kebangkitan yang bersifat badani, menurut Ibn Rusyd hanyalah penjelasan untuk orang awam saja. Dalam kitabnya Tahafut at-Tahafut, ia menambahkan bahwa Nabi pernah menggambarkan akhirat dengan ungkapan yang lebih bersifat ruhani, ‘surga itu tidak dapat dilihat, didengar dan terlintas dalam hati manusia.’ Ibn Abbas juga pernah berkata, “di akhirat itu tidak ada yang seperti di dunia kecuali nama-nama.” Di pihak lain, Ibn Sina berpendapat bahwa yang bangkit setelah mati adalah jiwa manusia. Menurut Ibn Sina, jasad dan jiwa diciptakan bersamaan. Namun jiwa bersifat kekal. Jiwa tidak rusak dan tidak rusak. Sedangkan jasad sebaliknya.

Sains modern menyatakan, kepribadian atau kejiwaan manusia berpusat pada otaknya. Jika ia mati, maka otak tak berfungsi lagi. Dengan kata lain, kepribadian atau sifat kejiwannya pun ikut musnah. Tapi hipotesa ini tak memunyai bukti yang dapat menyatakan benar atau pun salah.Terkait hal ini, Harun Nasution menulis, selain memunyai fungsi produktif diantara benda-benda materi ada yang memiliki sifat transmitif (meneruskan). Di sini otak manusia memiliki fungsi transmitif bukan produktif. Otak tak memiliki fungsi produktif, melainkan di baliknya ada ada yang menggerakkan otak untuk membina manusia. Sebagaimana yang diungkapakan oleh Henri Bergson, otak adalah alat akal. Tanpa otak, akal tak dapat berfikir.

Percaya kepada kehidupan seseorang sesudah mati mungkin mempunyai arti lain. Ada kelangsungan hidup dalam arti biologi, yakni kelangsungan benih dari generasi ke generasi lain. Dalam arti ini, tak ada kelangsungan hidup di hari kemudian. Ada pula kelangsungan hidup secara sosial, atau warisan pengaruh atau sumbangan social. Hal ini biasanya tidak menjadi masalah. Terdapat sedikit orang yang menjadi tersohor dalam sejarah, pengaruhnya atau sumbangannya tetap berlangsung walaupun ia mati. Ada pula kelanggengan impersonal, yang berarti orang atau jiwa menjadi satu dengan asalnya, atau jiwa alam, atau zat yang mutlak.

Asketisme

Di samping itu, perbincangan persoalan-persoalan eskatologi melahirkan asketisme. Sebuah pandangan hidup yang menjadikan alam akhirat sebagai tujuan utama dalam hidupnya tanpa melupakan kewajibannya di alam dunia.
Begitu besar pengaruhnya perbincangan tentang eskatologi sehingga ia sering juga diartikan dengan realitas surga dan neraka. Bahkan, gambaran kronologis tentang keduanya telah diungkapkan di dalam Kitab Suci.

Berita-berita maupun tanda-tanda tentang hari akhir banyak disinggung di dalam al-Qur’ān. Banyak sekali ayat-ayat yang berkaitan erat dengan kebangkitan dan kehidupan setelah mati. Bahasa-bahasa yang digunakan sebagai simbol yang menunjukkan kepastian Hari Akhir beragam sekali seperti Hari Penegasan (Yawm al-Qiyāmah), Hari Akhir (al-Yawm al-Ākhir), Hari yang Dijanjikan (al-Yawm al-Maw‘ūd), Hari Keputusan (Yawm al-Fashl), dan lain sebagainya. Seperti yang tercantum di dalam ayat yang berarti: “Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan, yaitu hari (yang pada waktu itu ditup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok, dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu, dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.”

Dari seluruh bahasa simbol tentang hari akhir (eskatologi) yang digunakan di dalam al-Qur’ān, pada hakekatnya, hanya mengandung satu pesan yakni keimanan. Dengan kata lain, eskatologi di dalam Kitab Suci tersebut selalu identik dengan keimanan. Banyak sekali ayat-ayat yang menyandingkan keimanan kepada Tuhan dengan hari akhir (eskatologi), di antaranya: “Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan akan adanya kehidupan (akhirat).


Minggu, 28 Juni 2009

UIN Jakarta Dan Kiamat


MS Wibowo - Di sela waktu Ujian Akhir Semester Rabu (24/6) lalu, seorang teman bertanya, mengapa banyak orang takut dan ngeri akan hari kiamat? Mengapa banyak manusia risau akan datangnya bencana global warming yang akan menghancurkan dunia? Bukankah jika semua hancur, segala masalah di dunia akan berakhir pula? Dan kita tak perlu menanyakan lagi, kenapa ketimpangan sosial masih terjadi? Termasuk apa atau siapa yang salah, manusianyakah atau sistem negaranya, semisal demokrasi?
Teman tersebut menambahkan, hidup ini sungguh tak jelas. Manusia selalu dihadapkan pada masalah. Padahal kalau kita mau kompak, semua masalah itu akan tiada. Misalnya, seluruh dunia bergotong-royong merakit nuklir secara paralel mengelilingi bumi lalu diledakkan bersamaan. Hancurlah bumi beserta kemiskinan dan masalah-masalah lainnya. Termasuk pusing memikirkan bayaran kuliah dan kebutuhan hidup?
Kenapa mesti takut akan hancurnya dunia ini? Kehidupan manusia itu membosankan. Perhatikanlah, rantai kehidupan manusia tak ubahnya pengulangan-pengulangan yang telah terjadi sejak zaman purba. Manusia lahir, kecil, lalu dewasa terus sekolah, kuliah, kerja, kawin, punya anak, kecil yang akan mengulang hal sama?
Ungkapan teman tadi mungkin ada benarnya. Karena manusia adalah makhluk yang dikutuk untuk memaknai. Di manapun dan kapanpun, indera manusia selalu mengalami perjumpaan dengan hal di luar dirinya. Dalam perjumpaan itu, manusia selalu memaknai apa yang ia jumpai. Termasuk kehidupan yang telah berlangsung sejak jutaan tahun silam ini.
Teman tersebut di atas memaknai hidup sebagai rutinitas yang berulang-ulang. Itu karena dia memandang hidup secara umum. Padahal kalau kita terjun langsung pada kehidupan secara lebih spesifik, tak demikian adanya. Sama halnya dengan kita melihat wilayah geografis Indonesia beberapa puluh kaki di atas angkasa. Maka yang terlihat hanya seonggok bongkahan-bongkahan hijau yang tersembul di atas perairan. Padahal kalau kita mendarat di atas bongkahan pulau-pulau itu, kenyataan akan berubah. Menjadi komplek, begitu ribet penuh perjuangan dan tantangan.
Perjuangan menjalani rute yang berulang-ulang tadi menjadi berdarah-darah. Aktivitas mengungkap makna kehidupan menjadi sangat rumit dan penuh gesekan antar sesama makhluk. Namun itu merupakan fitrah manusia. Sebagaimana kita tahu, manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan dengan berbeda-beda pola hidup, pikiran, perasaan dan lain-lain. Beda dengan malaikat, binatang, tumbuhan dan sebagainya. Mereka semua satu tipe, satu pola hidup. Serba satu, tanpa beda kecuali wujud fisiknya.
Soal mengenai hidup, adalah masalah klasik yang hingga kini tak ada jawaban memuaskan tentangnya. Dan hidup memang bengal. Kadang terasa indah, tapi tak jarang begitu memuakkan dan terlihat tak penting. Aku sering yakin, rata-rata manusia, terutama kaum awam umat beragama, memandang hidup ini merupakan ujian. Ujian yang akan mengakibatkan manusia mendapat hasil dua macam. Surga dangan segala nikmatannya, dan neraka dengan segala siksanya. Jadi kesusahan hidup coba dihalau dengan ketakutan masuk neraka.
Tapi tetap saja kehidupan ini menjadi misteri. Kenapa ada kehidupan? Apakah Tuhan merasa kesepian, sehingga menciptakan makhluk bernama manusia untuk menghibur kesendiriannya? Atau benarkah pandangan para saintis, bahwa dunia dan kehidupan di dalamnya ini hanya berupa serangkaian kejadian yang terjadi secara acak tanpa ada tujuan di balik adanya dunia?
Ketidakjelasan ini pun dimiliki manusia. Rutinitas berulang-ulang jalan hidup manusia seperti terpapar di atas adalah salah-satunya. Lalu masalah ekonomi juga menjadi hal penting yang diperebutkan manusia. Masih banyak lagi persoalan manusia. Antara lain, karena orang kaya selalu bisa menikmati fasilitas lebih daripada orang miskin, munculah pertanyaan apakah uang/harta merupakan sarana mutlak untuk menjadikan hidup menjadi penting? Pertanyaan ini dijawab tidak karena nyatanya orang kaya juga banyak yang hidup susah dan menderita secara batin.
Salah-seorang dosenku mengatakan, hidup ini menjadi penting manakala kita bisa menjadi bermakna/berarti bagi diri sendiri dan orang lain. Intinya masalah kepuasan batin. Tapi seperti apa sebenarnya yang disebut bermakna. Kadang kita merasa bahwa keberadaan kita dalam sebuah komunitas begitu dibutuhkan. Orang di sekitar kita merasa bahagia dengan adanya kita. Itulah kadang yang disebut bermakna.
Memang kadang saat kita merasa berarti bagi orang lain hidup kita terasa indah dan penting. Tapi toh, kegiatan semacam itu hanya berlalu sesaat saja. Selebihnya kita lebih banyak sendiri. Dalam kesendirian yang lebih lama inilah hidup kita kembali tak berarti. Padahal kondisi ini lebih lama dari pada saat kita membantu orang lain, misalnya.
Manusia memang benda atau makhluk yang tak henti-henti memaknai. Kegiatan memaknai itu laksana mengisi gelas tanpa alas alias bolong. Sampai kapanpun kita mengisi, gelas itu takkan pernah penuh. Dan karena itu manusia sering frustasi. Seolah tak ada hal lain yang bisa kita jalani.
Dalam hidup ini selalu ada kemungkinan dan selalu banyak pilihan. Oleh sebab itu, hidup ini takkan pernah terasa hambar. Selalu ada pilihan lain dan banyak jumlahnya. Misalnya kita terancam akan sesuatu. Kita bisa melawan atau menghancurkan ancaman itu. Atau kita bisa kabur atau juga bunuh diri agar terhindar dari ancaman itu. Satu-satunya pilihan yang tak punya kemungkinan lain untuk dipilih manusia hanyalah mati.
Sumber gambar: http://himastron.as.itb.ac.id/

Senin, 08 Juni 2009

Frustasi




Titik Jenuh, koma kejenuhan.
tanda seru tanda tanya
garis finis, finish,,, atau tengah lapangan,

Berabaring melayang bersama angin,, burung-burung dan awan
menari, tarian penghibur diri
tertawa seolah-olah

Atas tak terlihat, Bawah Kabur
diujung sana, kanan kiri hanya biru langit
termasuk di atas kepalaku,,,
karena aku terbaring,,, di angkasa
Bawahku hitam kelam, kadang ada berkas putih berkilau
kadang krumunan buasa riak laut, sepertinya...

Tak Ada yang tahu aku, tak ada yang mau peduli,, karena tak tahu,, barangkali...
Atau buat apa peduli,,
Ya, aku yakin mereka ada,,
sama sepertiku, melayang
meski mengatakan suatu kepastian mematikan
Empat tambah empat delapan

[MS Wibowo]



Senin, 18 Mei 2009

Muslim Indonesia Jangan Ucapkan Insya Allah ketika berjanji

MS Wibowo - Setiap hendak mengucapkan janji, seorang muslim biasanya mengucapkan Insya Allah. Kalimat ini diucapkan sebagai pernyataan bahwa Allah-lah Dzat yang Maha Kuasa. Selain itu, kalimat ini juga menyiratkan manusia sebagai mahluk lemah yang tak mengetahui aral atau rintangan yang akan menghadang jalan kita ke depan.
Insya Allah diucapkan setelah niat menepati janji tertancap dalam hati. Kalimat ini bisa berarti, ‘ya saya pasti datang atau ya saya bisa, kecuali ada halangan diluar kemampuanku untuk datang memenuhi janji’. Tapi umumnya, di Indonesia kalimat ini tak berfungsi demikian. Insya Allah sering menjadi pengganti kalimat ‘bisa ya bisa tidak’. Misalnya kita menjawab pertanyaan atau harapan, “Nanti datang ya?”. Jawaban yang terlontar biasanya, “ya” atau “ya Insya Allah”. Dengan mengucapkan Insya Allah, seolah-olah kita telah berhak datang atau tidak, semau kehendak kita. Padahal, dalam Insya Allah kita hanya boleh melanggar janji bila ada halangan di luar kemampuan kita.
Karena itu, bagi manusia Indonesia yang mengimani bahwa Tuhan Maha Kuasa, Maha Tahu yang terbaik buat kita, maka jangan mengatakan Insya Allah setiap berrjanji. Sebab, baik mengucap Insya Allah atau tidak, kuasa Allah tetap ada dan tak terhalang. Lagi pula, kalau kita tak menepati janji akibat hal di luar kemampuan kita, orang yang menunggu janji kita akan memahami.
Insya Allah di Indonesia tanpa sadar telah menjadi topeng kemunafikan. Kemunafikan yang kita amini bersama dengan diam-diam. Kita menyembunyikan kata ‘tidak’ dibalik Insya Allah agar seolah-olah terdengar ‘ya’. Karenanya, mulai saat ini, Jangan ucapkan Insya Allah saat berjanji, untuk menghindari tumbuhnya kemunafikan dalam diri. Bukan mendahului kehendak Tuhan. Melainkan lebih pada ketegasan kita sebagai seorang muslim, seorang Indonesia. Dengan demikian kita telah setapak menjadi bangsa yang tegas. Sekali lagi, kehendak Tuhan kapanpun tetap tak terhalang. Manakala janji kita terhalang oleh sesuatu diluar kemampuan, orang yang menunggu kita pasti akan mentolerir.

Jumat, 08 Mei 2009

Hidup Rutinitas Purba

MS WIBOWO - Seingatku, aku tak pernah, atau sangat jarang mengganggu orang. Dan aku jarang mencibir orang yang beda denganku. Baik secara penampilan, maupun pandangan. Tapi di sekitarku tak sedikit orang yang menganggapku aneh dan menganggapku Hina. Apa sebenarnya yang mereka mau? Apa mereka telah menemukan arti hidup. Yang rutenya hanya mengulang rutinitas purba?


Kecil-Sekolah-Kuliah/Sekolah-Kerja-Nikah-Punya anak-kecil lagi-Sekolah-Kuliah-Kerja-Nikah-Punya anak-Kecil lagi

APa hidup seperti itu saja......?

Selasa, 21 April 2009

Terapi Bete Ala Super Postmodern

Oleh MS Wibowo
Seri UIN Jakarta Seabad Mendatang

Tahun 2149 diperingati sebagai tahun BT (Boring Time) sedunia. Di tahun ini, sebagaimana dibayangkan kebanyakan orang 100 tahun lalu, kehidupan di dunia sudah super duper canggih. Serba mudah dan ultra mewah. Teknologi membantu manusia keluar dari segala masalah yang ada, serta selalu mampu mewujudkan impian dan keinginan.
Surga misalnya, yang pada tahun 2009 silam dikatakan ada setelah mati, ternyata bisa diciptakan di dunia dengan teknologi yang telah memadai. Tahun 2149 ini, semua gambaran tentang surga, bisa dibuat dan diadakan di dunia dengan sangat mirip sekali.
Bayangkan saja, siapapun orangnya yang menginginkan sesuatu pasti terkabul. Ingin punya mobil, tinggal pesan. Harga mobil seperti harga sebatang rokok tahun 1998 silam. Mau makan ini, itu, ada robot gratis dari pemerintah yang dibagikan ke semua warga negara. Robot ini bisa menyediakan ratusan ribu menu masakan dunia, bahkan resep masakan yang terbersit dibenak kita yang belum ditemukan oleh koki manapun.
Bidadari di surga, bisa diciptakan. Karena dengan bantuan teknologi, istri kita bisa berubah menjadi seribu macam wanita cantik. Begitu juga dengan gambaran Kitab Suci tentang surga yang di bawahnya mengalir sungai (Jannatin tajri min tahtihal anharu), bisa dibuat pula oleh manusia. Teknologi ini memanfaatkan tragedi bencana global warming yang melanda dunia pada tahun 2022. Ketika itu, hampir seluruh pulau di Indonesia terendam air laut. Namun karena canggihnya teknologi, manusia Indonesia bisa hidup di atas air, laksana istana nabi Sualaiman AS, saat menyambut kedatangan Ratu Bilqis.
Di tahun 2149 ini, nyaris tak ada keinginan manusia yang tak bisa dituruti, keculai untuk tidak mati. Tapi lama-kelamaan, setelah mencapai puncak kemauan yang tak pernah habis, manusia merasa kangen dengan rasa BT (Boring Time).
Adalah Ciputat (sebuah kecamatan/distrik yang terletak di pinggir selatan kota Jakarta) yang mendobrak semua kebahagiaan itu. Sebuah kelompok bernama Komunitas BT Abis, membuat terapi BT Super Postmodern atau Terapi BT Super Postmo. Tujuan dibentuknya komunitas ini adalah, agar manusia bisa menikmati, rasa BT, Pusing, Bingung dengan segala masalah yang ada seperti seratus tahun lalu.
Memanfaatkan bantuan teknologi pula, manusia yang ingin memakai fasilitas BT Super Postmo dihadapkan dengan berbagai persoalan dan keadaan sehingga ia akan merasa BT, Pusing, Bingung dan sebagainya. Tiap orang bebas memilih BT macam apa. Ada BT karena diputusin pacar, pacar selingkuh, nggak ada kegiatan, dihadapkan dengan berbagai pikiran, disuruh ngerjain banyak tugas oleh dosen, guru, bos dan sebagainya.
Dalam menikmati paket-paket BT ini, para BTer (sebutan buat orang yang ingin BT) tidak diperkenankan menggunakan teknologi macam apapun, supaya bisa benar-benar bingung dan tak tau harus ngapa dan gimana.
Hari berganti, kian lama komunitas ini makin banyak peminatnya. Banyak orang ketagihan dengan bermacam paket BT. Apalagi registrasinya cuma Rp.10.000 sekali BT. Namun karena keseringan memakai fasilitas BT Super Postmo ini, timbul efek negatif yang diderita para pelanggan, yaitu banyak yang kebablasan pusing terus jadi gila. Bahkan telah memakan korban jiwa bunuh diri karena tak kuat menahan rasa BT. Namun anehnya, orang-orang tak merasa ngeri tapi malah tertantang. Walhasil kisruhlah Indonesia disesaki orang-orang BT.
Pemerintah RI berusaha menenangkan kondisi ini. Tapi selama dua tahun tak mampu menemukan siapa penggagas awal ide gila itu. Akhirnya, pihak birokrasi Universitas Negeri Ciputat (dulu UIN Jakarta) tampil sebagai pahlawan. Ternyata otak sang empunya ide pertama itu adalah mahasiswa FISIP semester VII bernama Sumanso. Ditangkaplah dia. Setelah dibawa ke pos Satpam, ia dilarikan ke Polsek Ciputat untuk diintrograsi lebih lanjut. Saat ditanya, kenapa dia menciptakan ide gila itu sehingga banyak menelan korban gila? Sumanso menjawab, Biasa aja kaleeeee.

**Tulisan ini terinspirasi dari buku Blakc Interview, karya Andrea Syahreza

Jumat, 17 April 2009

Tuhan, kenapa Engkau Minta Tumbal

MS WIBOWO-Tuhan, Oh Tuhan. Engkau adalah tempat berteduh dari kegersangan dan keabsurdan hidup. Kau selalu jadi tempat meminta. Engkau tempat curhat di tiap malam sunyi. Kau selalu diharapkan memberi ketenangan dan menerangi hati hambamu.
Tapi mengapa, manusia tega menghalalkan darah manusia lainnya atas nama-Mu? Perang yang hingga kini berkobar juga atas tajuk membela-Mu. Bahkan kawan-kawan ormas Islam, yang menamakan Pembela agamamu, dengan tanpa rasa bersalah merusak rumah ibadah dan memukuli serta menghalalkan darah manusia lainnya. itu semua atas dasar mengagungkan nama-Mu ya Tuhan.
Apakah itu semua merupakan tumbal yang harus kami serahkan kepadamu demi mendapat ketentraman jiwa. Demi menghilangkan dahaga rohani, apakah kawan-kawan kami sesama manusia yang beda agama harus kami halalkan darahnya. Demi Engkau ya Tuhan. Atau kami harus menghancurkan badan ini, yang berakibat menghancurkan sekitar kami seperti Imam Samudera dan kawan-kawan? Hanya demi Engkau ya Tuhan?
Perang Palestina-Israel berkobar juga atas nama-Mu ya Robbi. Pasti Engkau tak akan mau disebut biang kekacauan dunia kan? Begitu pula hamba-hambamu. Aku yakin, Engkau ada di dalam hati setiap orang. Tak peduli agamanya. Karena agama dalam sejarahnya selalu menjadi alat politik untuk menggerakkan manusia agar saling bunuh. Dengan pedang mereka, dengan bom mereka, dengan senapan mereka dan dengan tank-tank baja.

Caleg Stress Karena Tak Kenal Tuhan

MS Wibowo-Uuuuooghhh, aku buka Facebook, ternyata banyak kawan-kawan yang sibuk ngobrolin caleg stres. Baik stres karena menang atau yang shock karena kalah.
Tapi ya sudahlah, itu tandanya calon-calon wakil rakyat kita memang tak siap menghadapi kenyataan hidup. Apalagi kenyataan bangsa yang semrawut ini. Bbeeerhhh, pasti tambah mumet.
Mereka mungkin kurang mengerti makna hidup. Bisa jadi juga karena mereka tak punya orientasi hidup yang jelas. Padahal rata-rata caleg itu orang beragama. Tapi, agama yang kerap menjadi dasar setiap individu dalam menjalani hidup, tak mampu menentramkan jiwa mereka. Sehingga sampai ada diantara mereka yang gila bahkan sampai mati.
Daripada ikutan stress membincang mereka, lebih baik kita membincang tuhan. Rabu (15/4/09) kemarin, aku mendapat jatah presentasi makalah di kelas pada matakuliah Filsafat Agama. Kami membahas tema “Aliran-Aliran Dalam Ketuhanan”. Aku menyuguhkan makalah yang isinya membahas beberapa isme ketuhanan yang ada dalam sejarah manusia. Antaralain Theisme, Deisme, Pantheisme, Panantheiseme.
Selesai melakukan presentasi, diskusi terbuka pun digelar. Tibalah kita pada pembahasan tentang bagaimana manusia mengenal atau berkenalan dengan Tuhan. Padahal Tuhan itu sendiri tak pernah memerkenalkan diri pada manusia.
Sejak lahir, manusia hanya mengenal Tuhan lewat tradisi dan doktrin-doktrin yang terpaksa harus dipercayai. Tapi dengan cara itu, benarkah manusia benar-benar mengenal Tuhan. Jika agama dijadikan pembenaran akan adanya Tuhan, tiap-tiap agama memunyai konsep ketuhanan yang berbeda. Oleh sebab itu, menurut Karen Amstrong, jika kita harus percaya bahwa Tuhan itu satu, maka konsep tentang Tuhan-lah yang tidak satu.
Para teolog yang coba memerkenalkan Tuhan lewat argumen-argumennya, tak lebih hanya berupa kecakapan berbahasa (hanya problematika bahasa). Nyatanya mereka malah terjebak dalam definisi. Dan jelas, para teolog dari masing-masing agama, berusaha sekuat argumennya untuk membenarkan agama dan tuhannya masing-masing.
Kadang mereka mengatakan bahwa manusia takkan sanggup untuk mengetahui Tuhan. Karena dzatnya sangat agung, maha besar dan sebagainya. Tuhan tidaklah seperti apapun yang kita bayangkan. Pernyataan seperti demikian secara tak langsung telah membatasi Tuhan itu sendiri. Yang juga berarti sotoy tentang Tuhan.
Untuk memecahkan masalah ini, ada tawaran yang berasal dari para kaum sufi. Umumnya mereka tak memunyai konsep tentang cara peribadatan dan ketuhanan. Namun mereka mengenal Tuhannya dengan cara mereka sendiri-sendiri (individu). Bahkan tak jarang, antara sufi satu dengan lainnya memunyai cara berbeda dalam menyatu, mendekat, mengenal dan berhunungan dengan Tuhan.
Perbedaan tersebut tak jarang terjadi dalam satu sekte atau kelompok tasawuf itu sendiri. Para filsuf muslim mengategorikan cara untuk menemukan kebenaran dengan jalan ini sebagai metode intuisi. Metode ini tak bisa didefinisikan dengan pasti. Apalagi dijabarkan cara atau langkahnya. Sebab intuisi sangat bersifat indifidualistik. Tak bisa dimengerti, diketahui atau dirasakan, kecuali oleh seorang yang menjalani itu sendiri. Ya, intuisi adalah metode huduri, yakni menghadirkan Tuhan dalam diri.
Namun apakah pencapaian para sufi itu bisa dipertanggungjawabkan? Apa jaminannya? Siapakah yang akan menjamin mereka tidak berbohong? Atau dalam arti bahwa mereka tidak akan salah?
Mungkinkah tuhan itu ada, atau tak ada? Bagaimana cara mengenalinya? Benarkah alam semesta ini bukti adanya Tuhan? Bagaimana kita bisa percaya adanya Tuhan kalau kita tak pernah kenal dengannya?
Manusia selalu ingin mewujud apa yang ia pikirkan. Contohnya, hingga sekarang banyak hal yang dulu seolah tak mungkin menjadi mungkin. Misalnya manusia ingin terbang, sekarang bisa terlaksana dengan pesawat terbang. Bisa jadi, manusia purba zaman dulu, yang merasa sebagai mahluk lemah kemudian memikirkan sesuatu dzat yang maha kuat dan menjadi penolong dari kesulitan-kesulitannya. Dan dzat itu adalah yang disebut dengan istilah Tuhan.
Karena itu, spiritualitas itu bersifat individual/personal. Tak bisa diajarkan, tak bisa disebarkan, dan tak boleh merasa paling benar atau merasa paling diridhoi Tuhan.[]

Minggu, 12 April 2009

Misteri Double Angka 22:22, 23:23, 01:01


MS Wibowo - Percaya atau tidak, hal inilah yang aku alami dalam hidupku akhir-akhir ini. Sejak dua tahun lalu, aku secara kebetuan sering melihat angka double antara jam dan menit di HP-ku, manakala aku merogohnya dari kantong.
Awalnya, aku merasa ini hanya kebetulan saja. Namun dalam sehari aku menjumpai angka tersebut sebanyak lima hingga sepuluh kali. Sehingga aku merasa aneh sendiri. Angka yang aku maksud misalnya, pas ketika aku memungut HP-ku dari kantong, entah karena ada sms, melihat jam atau cuma iseng, kebetulan pula angka menunjukan angka double. Seperti 22:22, 23:23, 01:01 dan seterusnya.
Setahun lalu, aku iseng dengan perasaan aneh menanyakan hal ini kepada seorang seniorku di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Institut. Aku menduga ia akan menjawab, ‘ah itu hanya perasaan kamu saja yang terlalu mendramatisir’. Tapi tidak. Ia justru menjawab, ‘sama aku juga sering mengalami seperti itu’. Ia juga menambahkan, berdasarkan pengalamanku, kamu akan dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sulit dan mengharuskan kamu untuk memilih. Pilihan itu akan membawamu pada perubahan yang ekstrim dalam hidupmu. Dan tentu berpengaruh dalam kehidupan yang kamu jalani. Yakin sajalah pada kemampuanmu. Begitulah jawaban pertanyaan yang aku lontarkan melalui layanan short mesege service (sms).
Apa yang aku alami itu, tak terjadi terus menerus selama dua tahun terahir ini. Ada kalanya hari-hari dan minggu-mingguku dihantui oleh jam double angka itu. Dan adakalanya aku terbebas dari perasaan aneh, risau campur galau, karena angka yang demikian jarang aku jumpai lagi. Tapi beberapa bulan lagi, angka-angka itu muncul dan kembali menerorku.
Aku tak tahu apakah ini benar atau salah. Tapi pada seringnya, ketika hari-hariku ditandangi angka-angka double itu, segera atau lambat aku akan dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit tentang dua hal. Keduanya sangat susah aku ketahui mana yang baik dan buruk. Membawa penyesalan atau sebaliknya, aku jarang bahkan belum pernah tahu.
Walau kondisi tersebut telah sering aku alami dan terpaksa harus aku jalani, tapi rasa aneh, khawatir, takut dan sebagainya selalu mengerubungi hati saat kujumpainya di HP-ku. Aku takut pilihanku salah atau bodoh, yang akan mengujung pada penyesalan dan keburukan. Telah kucoba pasrah, tapi senjata ini kupikir kurang ampuh.
Baru-baru ini, terhitung kira-kira sejak tiga hari yang lalu sampai sekarang, angka-angka itu datang lagi padaku. Aku takut. Aku telah merasa pilihan-pilihan sulit telah mengetuk pintu. Aku bingung, mana yang sebenarnya terbaik. Tolong, beri aku solusi… Disamping istikharoh, apa lagi?

Nyataku



Oleh MS Wibowo
Keteguhan ketudahnmu
Menyamankan diri dikala luka
Menyibak sedih
Menghalau duka
Menanamkan benih semangat hidup

Sejuk bagai air kehidupan
Engkaulah harapan
Memberiku asa pengobar gembira

Hanya dirimu yang bisa
Hanya dirimu yang nyata
Pernah ku menyakitimu
Pernah ku salah padamu
Tapi kau setia
Tetap setia padaku
Dengan ketulusanmu

Sejuk bagai air kehidupan
Engkaulah harapan
Memberiku asa pengobar gembira

Semua kosong terisi
Semua hampa terceraikan dari jiwa
Tetaplah bersamaku juwitaku

Abab



Oleh MS Wibowo

Dengus napas dari mulutmu membuat ingin menciumu sekarang juga
Sesekali matamu pasrah terobek pandanganku
Tingkahmu beberapa kali serba salah
Entah ada persaaan yang aku tak tahu itu apa
Jantungmu berdetak dibenakku

Sama

Dialog masih berlanjut
Kedalam yang harusnya diam
Menurutmu semua orang memerhatikan kita
Bagiku berdua
Tapi aku kalah dengan udara
Tersengat kenyamanan bila kulit ini sedikit menyentuh
Butur-butir magnet membara
Dengus napas dari mulutmu membuat ingin menciumu sekarang juga
Tapi ini udara berkuasa,
Aku tak punya arti jika
Tak boleh menentukan
Harus bersembunyi
Harus di tempat sunyi
Jika
Dengus napas dari mulutmu membuat ingin menciumu sekarang juga
Kau bukan untukku
Di sini
Dengus napas dari mulutmu membuat ingin menciumu sekarang juga

Pendekatan disingkat PDKT


MS Wibowo-Pendekatan disingkat PDKT, adalah sebuah tahapan awal yang lumrah dijalani seseorang sebelum mengungkapkan cinta pada pujaan hatinya. Berbagai macam cara bahkan teori PDKT banyak berkeliaran. Umumnya hal ini dilakukan oleh seorang pria terhadap wanita.
Hal ini dilakukan pula oleh Supriadi atau akrab disapa Dodoy. Ia tengah kasmaran dengan seorang wanita yang ia ketahui nama dan suaranya melalui temanya, Wildan. Wanita inceran Dodoy ini adalah seorang qori’ah atau wanita yang mahir mengumandangkan ayat-ayat Qur’an dengan nada-nada indah. Ia telah meraih segudang prestasi dalam Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) baik tingkat daerah maupun nasional.
Suatu hari, di kampung Wildan ada sebuah hajatan besar. Wildan terhitung sebagai salah-seorang panitia. Karena Wildan dan Qoriah tadi adalah mahasiswa di satu kampus, yakni UIN Jakarta, maka ia ditugaskan untuk menjemput Qoriah tersebut dari Ciputat ke kampungnya.
Sampai di Ciputat, Wildan masih punya waktu luang. Ia pun menyempatkan diri mampir di kamar kost Dodoy. Dodoy pun menanyakan perihal kedatangan Wildan di Ciputat. Pasalnya, itu adalah hari minggu. Tak mungkin ia ada kuliah di hari libur.
Terungkaplah bahwa Wildan hendak menjemput seorang Qoriah itu. Dodoy pun memaksa meminta nomor mahasiswi pelantun kalam ilahi itu. Tapi Wildan tak mengizinkannya. Dodoy pantang menyerah. Ia ajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai keberatan Wildan memberitahu nomor wanita itu.
“Ayolah Dan, lagian nggak mungkin gue macem-macem ma dia. Lo tahu gue kan,” harap Dodoy.
Dengan sedikit terpaksa Wildan memberikan nomor tersebut. Tentu dengan syarat agar Dodoy tak menyalahgunakannya. Selain itu, kedekatannya dengan Dodoy karena satu alumni di salah-satu Pondok Modern terbesar di Indonesia, membuat Wildan yaqin bahwa temannya tak akan menyalahgunakan nomor tersebut.
PDKT pun berlanjut. Tak disangka ternyata sang qori’ah enak juga diajak ngobrol lewat telepon. Beberapakali Dodoy rela merogoh kocek untuk membeli pulsa demi wanita dambaannya itu.
Diantara percakapan yang sempat terekam oleh memory kawan-kawannya di kamar kost, ialah saat mereka berdua bertelepon ria membincang masalah qira’at. Meski hanya terdengar suara dan kata-kata Dodoy, tapi dua kawan yang kebetulan lewat di samping Dodoy terpingkal-pingkal mendengarkannya. Berikut potongan percakapan mereka:

Qori’ah (menurut perkiraan) : Kak Dodoy bisa Qiraat juga nggak?”
Dodoy : Nggak.
Qori’ah (menurut perkiraan) : Lho, katanya alumni pesantren, kok nggak bisa Qira’at? Memang nggak ada pengajaran Qira’at di pesantren kakak?
Dodoy : Ada sih. Tapi di sana tuh, pengajaran qira’at itu, waktunya sehabis shalat magrib.
Qori’ah (menurut perkiraan) : Lah memang kenapa kalau ba’da magrib?
Dodoy : Begini, di pondokku habis magrib itu jadwalnya makan malam, jadi kakak nggak konsentrasi belajar qira’at. Makanya sampai sekarang nggak bisa.

Kamis, 09 April 2009

Shalat Sendiri Lebih Utama



Beberapa hari lalu, ketika menginap di Sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Aspirasi UPN Veteran Jakarta, seorang teman dari LPM Didaktika UNJ mengajak diskusi mengenai shalat berjamaah.
Ia menanyakan, apa sih sebenarnya inti dari shalat itu? Bukankah itu merupakan saat-saat kita berhubungan dengan Tuhan. Antara mahluk dan Tuhannya?
Pertanyaan itu kemudian menjalar ke masalah shalat berjamaah. Kenapa shalat berjamaah itu lebih diutamakan. Bahkan dengan iming-iming pahala 27 kali lipat dari shalat biasa.
Padahal kalau disadari, shalat berjamaah justru mengurangi kekhusuan dan keintiman hubungan antara mahluk dan Tuhannya. Konsentrasi yang harusnya terjadi menjadi sedikit tercemari.
Karena pertama, Dalam Shalat berjamaah seorang ma'mum, selain berkonsentrasi dan memantapkan hati serta pikiran menghadap Tuhan, ia juga harus berkonsentrasi mengikuti imam. Makmum dilarang khusu' sekhusu'-khusu'nya, sampai tak menghiraukan imam.
Kedua, pakaian-pakaian yang beraneka-ragam dari setiap makmum, apalagi terdapat tulisan macam-macam dipunggung, akan memecah konsentrasi dan melayangkan pikiran untuk membaca. Terlebih jika pemakai kaos semacam itu, berada dalam shof tepat di depan kita.
Ketiga, kadang terbersit perasaan lebih baik dari orang lain, yang itu artinya kita tidak ikhlas dalam beribadah.
Keempat, yang paling parah adalah, ketika usai shalat jamaah, tak jarang ada beberapa oknum yang memanfaatkan hal ini menjadikan ajang kampanye, baik lewat tausiyah atau selebaran dan sebagainya.
Pada zaman Nabi SAW, shalat berjamaah memang sangat dianjurkan. Banyak terdapat sabda-sabda Nabi SAW tentang keutamaan tersebut. Tapi lain dulu dan sekarang. Masa Nabi dulu, adalah masa awal-awal Islam lahir. Pasti banyak sekali goncangan dari sana-sini untuk menghambat dakwah Nabi SAW. Selain itu, karena Islam masih baru, masyarakat Arab tempo itu pasti masih banyak yang kurang paham dengan ajaran Islam.
Demi memermudah dakwah dan sosialisasi ajaran Allah SWT, maka sangat efektif Nabi menggunakan doktrin dan iming-iming pahala lebih bagi orang yang mau berjamaah. Tentu saja, hal ini agak mengesampingkan nilai ikhsan dari shalat itu sendiri.
Di sisi lain, beberapa dari ulama sufi mengatakan bahwa shalat sendiri justru lebih baik. Karena dengan itu, itu bisa lebih dekat dan khusu' menghadap kepada Tuhan.
Namun tak ada salahnya dan tak ada buruknya shalat berjamaah. Dan pasti itu bernilai positif bersyarat. Kenapa bersyarat?
Karena, umat Islam saat ini banyak yang tak mendapatkan esensi dari beragama itu sendiri. Agama justru sering menjadi alat politik. Menjadikan manusia dengan buas menghalalkan darah manusia lain yang berbeda agama. Dan Hingga kini, perang yang masih menyala adalah perang yang mengatasnamakan agama. Kenapa agama malah jadi pembuat kacau? Katanya agama itu turun dari Tuhan. Tapi kenapa menjadi sumber kekacauan dunia?
Pasti jawabannya, ya itu bukan salah agamanya, tapi salah orangnya. Lah, nyatanya para pejuang-pejuang agama itu selalu mendasarkan tindakannya atas doktrin-doktrin agama. Kenapa agama membiarkan demikian?
Agama yang terlembaga memang sangat mudah dijadikan mainan oleh politik segelintir orang. Makanya, beragama, bertuhan, itu cukuplah hubungan individu dengan Tuhannya. wallahu a'lam bishshawab.

Sabtu, 04 April 2009

Toto AR; kesetiaan Pada Seni Memertemukannya Dengan Nike Ardila



By MS Wibowo
Baginya, seni bukan hanya nafas, melainkan nyawa atau ruh dalam hayat. Ia telah mengabdikan hidupnya pada seni. Gitar, merupakan salah-satu sahabat paling setia dikala suka dan duka. Hingga kini, tak seharipun cemarinya terlewati tanpa belaian senar. Dari sentuhan mesranya, mengalun irama syahdu yang mampu meluluh-lantahkan gugusan hati manusia. “Seni itu suci, jangan menodainya dengan perbuatan dan prilaku kotor”, itulah pesan yang senantiasa ia sampaikan kepada murid-muridnya di setiap kesempatan.

Toto Budiono atau oleh para seniman sebayanya akrab dengan sebutan Toto AR. Lelaki supel dan luwes ini telah bergeleut dengan dunia seni sejak SD. Waktu itu, keterlibatannya pada sebuah acara tarik suara, membawanya lebih dalam ke ranah kedamaian dan keindahan ini. Adalah seorang guru seni SD-nya yang menyarankan Om Toto (begitu biasa ia dipanggil oleh para muridnya sekarang), agar memelajari alat musik, di samping vocal.

Bermodal gitar butut, diam-diam ia belajar gitar pada guru seninya tadi. Tiap pertemuan non formal itu,,Om Toto membawakan sebungkus rokok kretek kesukaan gurunya. Hasilnya sang guru mengajarkan tiga kord kunci, yakni A, G dan D. Tiga kunci gitar itu membawa Om Toto berani menyanyikan musik-musik dangdut yang lagi ngetrend saat itu, dalam tongkrongan anak-anak muda di kampungnya.

Perjuangan memang tak mudah. Ketika beranjak SMP, jejak awal romantisme Om Toto dengan gitar terganggu. Pasalnya, saat percumbuan dengan kekasih barunya itu berlangsung, senior-senior di kampung suka mengganggu dan menghardiknya. Jika sudah demikian, rumpun bambu belakang rumah adalah persembunyian aman untuk mengekspresikan diri dengan harmoni nada-nada.

Ketekunan dan kesetiannya pada gitar berbuah manis. Suatu ketika, manajemen (Alm) Nike Ardila mengadakan audisi gitaris pengiring tour Nike Ardila se-Indonesia. Dan kereta api jurusan Surabaya-Bandung-lah yang menjadi saksi bisu ketulusan cinta Om Toto pada seni musik.
Tiba di Bandung, ia harus mengahadapi pesaing / gitaris-gitaris handal dari segala penjuru tanah air. Usai audisi, ia pun segera angkat koper tanpa menunggu pengumuman terpilih. Dengan lepas, perasaan dan benaknya tak berharap muluk. Ia jadikan moment ini sebagai pengalaman dan kenangan yang akan hidup selama jantung berdetak.

Namun sebagaimana yang sering ia utarakan kepada sahabat dan murid-muridnya, dunia musik itu kadang bersifat mistis / penuh misteri. Apa yang akan terjadi, belum tentu bisa kita ramalkan. Satu minggu kemudian, rumahnya ditandangi surat dari Bandung. Isinya, ia terpilih sebagai gitaris pengiring Nike Ardila. Seiring itu, karirnya sebagai musisi pun terus menanjak. Dan kini, ia merupakan salah-satu gitaris terhandal di Indonesia. Tak sedikit musisi ternama yang selalu meminta masukan, wejangan dan sebagainya darinya. Walau ia lebih sering memilih kurang show up di media.

Di sisi lain, Om Toto juga aktif menjalin komunikasi dengan para seniman di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Blok-M Jakarta Selatan. Tak ketinggalan ia pun akrab dengan kalangan selebritis dan beberapa produser musik di Ibu Kota.

Sampai saat ini, jalur yang ia tempuh tak berubah, yakni seni musik. Selain mengajar hampir segala jenis alat musik dan olah vokal, baik di sekolah maupun privat untuk musisi-musisi junior dan pemula, tak jarang pula, permintaan less privat yang datang dari musisi yang sedang atau telah naik daun, Diantara muridnya yang kini belajar kepadanya adalah Apoy (Gitaris Wali Band), dan Rhaden (Vokalis @munizi Band).

Padatnya jadwal dan kegiatan itu tak menjadikan Om Toto angkat dagu. Ia tetap hidup bersahaja dan selalu ramah menerima siapa saja. Ia selalu siap menemani dan melakukan sharing pada semua orang. Setiap tamu yang sowan ke rumahnya di daerah Pondok Kranji, selalu ia terima dengan pintu terbuka.

Pengalaman dan ketulusan hati yang mendalam, dapat dirasakan setiap orang yang mendengarkan ucapannya. Di tepi lain, ia juga sosok yang humoris serta memunyai banyak cerita lucu, dari Sabang sampai Merauke yang dikumpulnya dari sahabat-sahabatnya dari berbagai penjuru tanah air pula. Anak-anak dari @munizi Band adalah mereka diantara yang sering melakukan share hingga menjelang subuh. Sepanjang sepi malam itu, cerita, wejangan, diskusi musik mewarnai kebersamaan. Tak jarang, Om Toto menyempatkan waktu bertandang ke kamp @munizi atau melihat anak-anak band itu latihan di studio.

Di usianya menjelang kepala empat, Ia telah dikaruniai dua sosok jagoan. Anak pertamanya tengah belajar di kelas IV SD. Sementara anak keduanya, masih berusia balita. Tapi bulan-bulan ini, Om Toto masih diliputi suasana duka. Karena kurang lebih dua bulan yang lalu, sang istri meninggalkannya di dunia. Istri yang begitu tabah mengarungi kerasnya hidup ini. Bahkan saking merasa kehilangan, Om Toto mengatakan telah kehilangan permata yang sangat berharga. Yang entah mungkin akan ia dapatkan lagi tidak dari perempuan manapun selain almarhumah istrinya. Semoga ia diterima di sisi Allah SWT, dengan sebaik-baik tempat dan diampuni segala dosa dan kesalahannya. Amin.
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html