Rabu, 24 Februari 2010

Sikap Beberapa Guru 'Seni' Terhadap Fenomena Cyber

Ketidakdewasaan Terhadap Umpatan Facebook

Di era ini, mulai benar-benar terasa geseran realitas daru nyata ke dunia maya. Sebagaimana kekhawatiran Mark Slouka, kini jutaan warga dunia berduyun-duyun bermigrasi ke cyber space. Fenomena Facebook salah-satu contohnya. Kita saksikan dahsyatnya dukungan terhadap Prita lewat koin yang digalang mula-mula dari dunia maya. Di samping itu, kita juga terima kenyataan, dunia maya adalah dunia kebebasan. Kita bisa menjadi siapapun, dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun. Menyamar dan menghilangkan identitas diri, termasuk jenis kelamin.
Mark Sluoka dalam buku yang diterjemahkan berjudul “Ruang Yang Hilang” mengungkapkan, cyber menjanjikan sebuah dunia sempurna. Sama halnya para agamawan menjanjikan surga sebagai tempat sempurna impian kita. Surga maupun cyber merupakan dunia ketiadaan jasad. Di situ apa yang kita mau akan segera tersedia. Tak ada lagi larangan, hanya kesenangan.
Para ahli teknologi telah mampu menjelmakan surga di dunia ini. Ruang yang dihuni pikiran-pikiran murni manusia. Kita sadar, ini memang bukan surga seperti imajinasi pada agama-agama. Sebuah tempat sejuk dengan sungai yang mengalir di bawahnya. Tempat yang tak mungkin terdapat di gurun pasir yang seperti neraka.
Dunia maya telah memiliki tempat spesial di otak kita. Atau lebih tepatnya, sebagian jiwa kita telah berada terperangkap di dalamnya. Tepat seperti tulisan pamflet, yang disebar Blogger UIN Jakarta beberapa waktu lalu, “PART OF YOUR MIND IS ON THE CYBER SPACE”.
Bisa dikata, cyber adalah dunia alternatif, terutama untuk gagasan dan ide yang riskan diumbar di realitas nyata. Satu lagi fenomena di facebook, yakni berdirinya Partai Komunis Indonesia (PKI). Kita tahu, otak bangsa Indonesia telah dicuci oleh Rezim Orde Baru, bahwa PKI adalah partai yang membahayakan umat Indonesia. Karenanya tak mungkin ia tumbuh dalam lingkungan nyata sehari-hari. Tapi di ruang maya, PKI bisa berdiri tegak.
Pernyataan Rene Descrates, “aku berfikir, maka aku ada” mungkin tepat untuk disematkan pada fenomena cyber. Sekali lagi, di dunia baru ini hanya ada pikiran-pikiran manusia. Tak ada kelembutan kulit, tak ada kehangatan belai usapan tangan ibu atau kekasih di kelapa kita. Semua itu dapat terjadi di ruang maya dengan pikiran kita.
Siapa sanggup menghentikan laju pikiran manusia. Ketika raga terpenjara, pikiran tetap berjalan. Teror mental pun, tak selalu ampuh mematikan pikiran, mungkin hanya membelokkan.
Dunia maya telah memiliki teretorial sendiri. Sebuah teretorial dengan luas ratusan kali lipat dari jagad nyata. Dengan kecepatan tinggi, ruang itu semakin melebar, merambah, dan menjarah dunia nyata.
Beberapa waktu lalu, empat siswa SMAN 4 Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, dikeluarkan sekolah karena mencaci seorang guru kesenian di Facebook (kompas.com). Menyusul kemudian Wahyu, mahasiswa di sebuah universitas negeri di Jember, didakwa oleh jaksa dengan pasal 310 ayat 2 dan Pasal 311 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman empat tahun. Ini bermula ketika Wahyu meluapkan kekesalannya terhadap Tri Basuki di facebook, salah-seorang instrukturnya di Jember Marching Band. (Kompas 21/2/2010 hal. 26)
Apapun, tak seharusnya itu terjadi. Apalagi sanksi pengeluaran dari sekolah hanya gara-gara mencaci guru di FB. Ini justru menandakan kita (terutama para guru di SD itu) tidak punya kedewasaan. Hukuman drop out adalah tindakan final. Tentu tak sebanding dengan cacian d FB. Dunia maya hanyalah realitas dari pikiran-pikiran yang berkeliaran. Tanpa harus dituangkan di dinding FB, ketiga siswa itu tatap mencaci. Dan ketika mereka ungkap di FB dengan kejujuran, balaslah dengan kejujuran pula di dunia maya (FB dsb).
Para penggugat, yang kebetulan keduanya bergerak di bidang ‘seni’ sangat tak layak. Janganlah dulu orang-orang semacam itu diberi kesempatan mengajar. Biarkan mereka mengasah jiwanya, nuraninya, hatinya untuk tidak selalu berlaku sebagai munafik yang selalu menyimpan kejujurannya dalam kebusukan otak dan hati.

Jumat, 12 Februari 2010

Selasa, 02 Februari 2010

Parfum dan Kecoa


Sabtu (30/1) kemarin, amunizi band memulai garapan track lagu di Takaza Record. Recording ini direncanakan hingga tiga shift, dengan durasi enam jam per shift-nya. Sengaja kuniatkan malam minggu bersama lima personel band asal Kota Ciputat itu.
Ba’da isya, melalui sms M. Yan (drumer), mengabarkan rekaman segara digelar. Mendung berusaha menghalangi, namun itu tak menciutkan nyaliku melangkah. Tas plus sweeter merangkulku. Aku siap berangkat.
Saat mataku jelalatan mencari kunci kamar, terdengar suara asing di telinga. Kresek-kresek. Aku diam sejenak.
“Ah, siapa nih?” pikirku horor.
Aku tinggal di kamar kontrakan satu petak. Dalam deret panjang, bangunan ini memiliki empat ruang. Hanya dua kamar yang berisi. Kamarku sendiri terapit dua ruang kosong.
“Tak mungkin suara itu berasal dari kamar samping.”
Aku diam. Makin lama, suara itu makin mantap dan jelas. Kudekati tumpukan buku di pojok ruangan. Musik di winamp komputer telah mati. Suara kresek-kresek itu timbul tenggelam. Kudekatkan telinga di samping tumpukan buku-buku filsafat. Berharap para filsuf, yang telah mati bangkit dari teks-teksnya.
Tepat ketika daun kupingku menyentuh Democracy and Education-nya Jhon Dewey, mataku terbelalak kakiku menjingkat spontan. Seekor kecoa lari terbirit-birit seolah ketahuan mau mencuri buku. Aku sendiri takut, geli dan salah-tingkah. Kecoa itu berputar-putar menantang. Sesekali ia mencari sela persembunyian.
Tak Ada Sapu di sini. Akalku berputar mencari senjata pemusnah kecoa. Kebetulan di samping kardus penyimpan baju, tergeletak botol farfum casablanca. Tanpa ampun ku tembak kecoa intelek itu berulang-ulang. Lima kali semprotan luput. Darahnya tak bercecer. Ia kembali pada tumpukan buku. Aku menunggunya. Dua menit berselang, ia seakan nyaman dengan persembunyiannya. Tapi aku tak rela menitipkan kamar pada sang kecoa.
Akhirnya, kulempar dua butir kamper sebagai granat kearah persembunyian musuhku. Ia bergeming. Kulancarkan kembali serangan casablanca. Nah, musuhku tak tahan juga. Ngacir ia menuju selangkangan monitor komputer. Ah sialan pikirku. Aku tak tega melukai komputer dengan senapan wangi ini. Kecoa pun menjawab. Ia lari menuju motor temanku yang kebetulan lagi dititipkan di sini. Tepat di bawah ban depan, gencatan parfum kembali kulancarkan.
“Sayang juga parfum ini dikasih kecoa, pikirku. Tapi tak apalah sedekah. Lagian kecoa pasti nggak pernah mandi. Biar dia merasakan wangi sebelum ajal.” Setelah muter empat lima kali, kecoa tak sadarkan diri telentang. Hanya kaki kanan belakangnya saja masih bergerak. Sepertinya, bidikanku telah menembus hidungnya.
Usai memastikan kecoa tak mungkin bertingkah, kutinggalkan kamar dalam kondisi terkunci. Dua puluh meter berjalan, gerah meradang. Keringat bercucuran. Aku asing dengan tubuhku. “Sepertinya ini bukan raga yang biasa kujalankan.”
Satu menit berfikir, sadarlah aku pergi tak memakai parfum. Aku pun balik kanan ke kamar. “Masa kecoa dipakain parfum, aku tidak.”

Minggu, 24 Januari 2010

Allah Usia Lima Tahun

Aku Lahir Bersambut Azan Dan Iqamat

Tariak Tangis Seolah Kesediaan

Terima Sadar Satu Pengakuan

Atas Satu Di antara Ribuan

Tuhan Yang Dibelai

Manusia Tak Terhitung

Katanya Ini Takdir

Aku Berjamin surga

Dalam Perjanjian Di Tepi Realitas Tertinggal

Allah, Aku melafalnya Alloh dengan w sesudah a

Tak pernah terutara

Tiap Mengucapnya

Umurku Lima tahun

Bayang imut Manis

Semacam Pijaran

Tuhan, sering kudilarang

Karena dibalik Hantu

Tiap mengucapnya

Umurku Lima Tahun

Ondel-ondel Besar Yang selalu ada dibelakang kita

Mengejar menakuti

Malaikat

Besar tinggi berjubah putih... gagah perkasa

Sosialisasi Sebaya Sebabtisan Setakdir

Membawa keisengan mengadu

Bagiku malaikat jagoan

Kutanya Ibu

“Ma, Allah Sama Malaikat menang malaikat kan ma?”

“Ya menang Allah”

Aku Tak Paham

Kuda Terus mengayuh pada belasan

Terasa Doa Dan Nikmat Allah Terpancar

Kenapa Dia misteri

Diakah Allah

Selain Agamaku, Doa-doa orang hanya kecohan setan?

Mendekat duapuluhan

Semakin Nikmat banyak terbuka

Yakin Tuhan Ada

Tapi Tak Tahu Siapa

Benarkah Nikmat selain agamaku hanya dunia?

Kafir Murtadkah pikiranku

Yang Berjalan Sendiri menanya-nanya siapa sebenarnya Kamu?

Menjelang Dhuha

Saling Atas Nama Tuhan Di mataku

Menggali Sumur darah

Atas Nama Surga masing-masing

Poin Di surga bertambah dari nyawa saudara

Seonggok daging

Kenikmatan Di Akhirat

Mati Juga Surga

Kok Begini

Tuhan Sarana Perang

Aku Menjarak

Tuhan Masih Sayang

Aku Mendekat Tuhan Makin Sayang

Tapi Tak Berdaya

Menjagal Tuhan Lainnya

Yang Tergantung di leher saudara-saudaraku

Selasa, 19 Januari 2010

Untuk Saudara, Kawan dan Lawanku di Dunia, Aku Pamit


Meneguk air kematian
Patahkan waktu
Setelah Surat Izin Mati Ku kantongi
Ssssst Jangan tertawa…
Kuputus tali kehidupan
Ini Bukan keputusasaan
Ini Keputusan
Menyerah
Mengaku Lemah
Karena Dia satu-satunya
Yang Maha Kuat
Ternyata Lorong Barzah
Begitu Berwarna
Kekosongan
Kesendirian
Berpadu
Mencipta harmoni
Terwujud nyanyian
Menyumpal telingaku
Dari Pekik Kontradiksi
Tak ada Lagi cinta
Tak ada rasa
Tak ada benci
Tak ada nafsu
Siluet penyempurnaan hidup yang tak sempurna
Lenyap lengkap
Di tempat timbangan amal kusendiri
Aku Yakin sangat Yakin
Ini Bukan Mimpi
Di dunia sana aku tahu saat ini
19 Januari 2010
Aku telah tinggalkan Bumi

Wahai wanita yang kukenal sehari
ku tahu kau tak sanggup sesali pergiku ini
Wajahmu abadi
Saat mencium si kecil dihadapanku
Ku tunggu di alam ini
atau kuganti sepuluh bidadari

Minggu, 10 Januari 2010

Lanjutan Cita-Citaku Chapter III


Aku Menyesal Bercita-cita Menjadi Orang Berguna Bagi Nusa, Bangsa Serta Aga
ma
Dari teman-teman aktivis Pramuka saat ku SMP ini, ku dapat cita-cita baru, yang menurutku kala itu sangat mulya, abstrak dan luhur. Dahulu ada kebiasaan menuliskan profil di diary masing-masing. Bahkan ada kesalahan menurutku, yakni buku diary adalah buku yang memuat profil-profil teman saja. Dalam profil tersebut lengkap tercantum nama, TTL, alamat, hobby hingga cita-cita. Banyak di antaranya, termasuk aku yang menuliskan cita-cita: “menjadi orang yang berguna bagi nusa , bangsa serta agama.”
Cita-cita itu aku pegang teguh hingga mendarah daging. Aku telah merasa pas “ ingin menjadi orang berguna bagi nusa bangsa serta agama. Ini kubawa hingga jenjang pendidikan SMA. Terlebih masa SMA aku habiskan di sebuah Pesantren milik pamanku. Dalam doktrin di Pesantren ini, diperkuat dengan doktrin keluargaku, yang rata-rata kiyai, “Seorang penuntut ilmu hendaklah tak memikirkan apapun. Artinya, seorang santri hendaklah berfikir menuntut ilmu belaka. Masalah harta, sandang, pangan dan papan itu akan datang sendiri.”
Meski pernah kubuktikan bahwa selama jatah hidup kita ada, selama itupula riski untuk makan mengalir, tapi salahku tak menentukan kran atau pipa ledeng riskiku. Ya hidupku mengalir saja. Walau sempat ku mengerucutkan cita-cita menjadi tiga, yakni politisi, agamawan dan penulis, namun hatiku masih memegang keinginan menjadi orang berguna. Sampai pada saat awal masuk kuliah dosenku bertanya tentang cita-cita, aku masih menjawabnya demikian.
Mungkin cita-cita ingin menjadi orang yang berguna inilah yang membuatku selalu kalah. Aku baru menyadarinya lima tahun setelah aku kuliah S1 dan belum lulus-lulus. Dalam renunganku kurefleksikan mengapa aku selalu kalah dalam persaingan? Serang teman menjawab pertanyaanku. Menurutnya aku orangnya terlalu mudah berkorban tanpa memedulikan bagaimana kondisiku. Lalu aku berfikir, “Ah, apa ini karena pengaruh dari cita-citaku ingin menjadi orang berguna?” jadi terlalu gampang aku berkorban bagi orang, bagi organisasi yang mengatasnamakan idealisme, demi nusa bangsa dan sebagainya.” Wah kalau begitu aku menyesal telah bercita-cita jadi orang berguna. Bagaimana kalau aku sekarang membalik cita-cita, “Bukan menjadi Orang Yang berguna, Tatapi Menjadi Orang yang Menggunakan.” Sebab capai kalau jadi orang yang berguna melulu.
Bersambung...

Cita-citaku Chapter II


Posturku Lebih Mirip Sosok Jin Daripada Manusia

Kelas VI SD, pertengahan tahun menjelang lulus, kembali ku didera demam olahraga. Kali ini sepak bola. Waktu itu TV telah menjadi kebutuhan tiap rumah warga kampungku. Di rumahku juga ada. Banyak kawan yang sering mengajakku nonton pertandingan bola, baik liga lokal maupun Eropa.
Sebenarnya aku masih sadar, fisikku tak cocok menyandang gelar atlet atau olahragawan. Aku kurus, pendek, sakit-sakitan postur tubuh tak seimbang. Ukuran kepalaku terlalu besar untuk badan. Bahkan aku sempat bertanya-tanya dalam hati, “Benarkah aku ini keturunan manusia? Kalau melihat ciri-ciri fisikku lebih mirip gambaran fisik Jin, dalam buku Dialog Dengan Jin Muslim. Ya, seingatku buku itu menjelaskan, fisik Jin itu kepalanya terlihat lebih besar dari badannya.
Tapi semua itu tak kuhiraukan. Meski beberapa kali teman-teman menertawaiku cara lariku saat coba-coba ikut main bola, aku tak peduli. Bagiku Tuhan Maha Kuasa. Jika dia menghendaki keinginanku menjadi pesepak bola handal, pastilah bisa. Aku memilih ingin menjadi seorang penjaga gawang. Cita-cita ini bertahan hingga aku di jenjang pendidikan SMP.
Kugambar kaos timku dengan nomor punggung satu. Namun teman-temanku selalu menertawakanku saat berada di lapangan. Aku menjadi bahan komedi. Lama-kelamaan aku menyerah. Sebab aku juga tak pernah masuk timnas kampungku. Aku tersingkir dan hanya bermain bola iseng di jalanan. Ketersingkiranku ini kuganti dengan selalu mengamati pertandingan-pertandingan di TV serta Highlight-highlight-nya.
Masa SMP yang kulewati tanpa kedua orang tua kujalani monoton. Ortuku di Riau bersama dua adikku. Aku tinggal bersama kakek nenekku di Lampung. Hari-hariku hanya di isi sekolah dan TV. Hari minggu aku selalu ikut kegiatan pramuka. Begitulah, aku mngisolasi diri dari kawan bermain. Karena berbagai kekurangan. Tak ada hari istimewa selain hari sabtu. Di hari tersebut aku selalu menyambut dengan hati tersenyum saat bel pulang sekolah berbunyi. Pasalnya, macam-macam acara olahraga, seperti highlight sepak bola bertaburan.
Di tengah ketakjelasan skill hoby sepak bolaku, beberapa tetangga berusia bapak-bapak sering mampir nonton acara Gelar Tinju Profesional (GPU). Akupun ikut hanyut. Dan karenanya, sempat pula aku ingin menjadi seorang petinju. Nenekku, hanya melihat heran saat kuisi sebuah kantong beras dengan pasir. Kugantungkan kantong itu pada kayu-kayu kaso atau range genting yang terletak dipinggir rumah. Ku tonjok-tonjok karung itu tiap pagi dan sore. Nenek marah-marah. “Nanti lama-lama karung itu bisa membuat rumah kita roboh,” kata nenekku. Kupindah karung isi pasir itu pada sebatang pohon di belakang rumah. Kuteruskan aktivitasku.
Terus kutonton GPU tiap malam jumat. Lama-lama aku berfikir, “kuatkah kepalaku ditonjok-tonjok seperti itu. Bisa kacau otakku. Orang jatoh di jalan dari sepeda aja aku pingsan.” Akhirnya, ku alihkan fokus pada kegiatan eks-school Pramuka. Harapanku ingin masuk menjadi anggota Pramuka Garuda yang ikut perlombaan tingkat Internasional dan mengharumkan nama bangsa Indonesia.
Lagi-lagi, itu semua jauh arang dari panggang. Menurut cerita, dahulu kala jauh sebelum aku masuk, Gugus Depan Pramuka yang aku geluti sempat jaya. Setidakkya di tingkat propinsi. Tapi saat ku masuk, semua tinggal kenangan. Tingkat kecamatan pun tak diperhitungkan. Apa karena ada aku? Aku tak tak tahu.
Berlanjut Ke Chapter III : Aku Menyesal Bercita-cita Menjadi Orang Berguna Bagi Nusa, Bangsa Serta Agama

Cita-citaku Chapter I

Ingin Jadi Guru, Astronot, Petinju, Kiper Hingga Pebulu Tangkis
Aku tak ingat cita-citaku sebelum masuk SD. Kalau tidak salah, aku sempat ingin jadi kiyai. Itu tak lepas dari latar belakang keluargaku. Dari kakek buyut hingga bapak dan saudara-saudara kami, rata-rata adalah tokoh agama dan masyarakat. Bapakku seorang mubaligh. Ya aku keturunan kiyai. Karenanya aku ingin melanjutkan status keluarga kiyai ini.
Menginjak kelas III SD, aku berubah arah ingin jadi seorang guru. Mungkin karena doktrin, ‘guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa’. Itu sangat digembar-gemborkan pada masaku dulu. Aku meleleh dalam doktrin mulya tersebut.
Salah-satu guru SD faforitku adalah Ibu Narti. Dia mengajar Ilmu Pengetahuan Alam. Ia mengenalkanku pada benda-benda angkasa, hingga ku dibuat terpesona dan sadar, ternyata di luar sana terbentang ruang yang luas tak kutahu batasnya.
Takjub pada benda-benda langit, memicu benakku menjadi astronot. Aku sangat serius waktu itu. Semua buku tentang planet dan angkasa luar aku lahap. Kutata kamar tidur secanggih mungkin, biar serasa di angkasa. Begitu seriusnya, sampai-sampai aku bertanya, “kalau nanti aku jadi astronot, lalu aku terbang meninggalkan bumi, kemanakah arah kiblat saat aku shalat?” Pertanyaan itu ku ajukan pada guru ngajiku, yang tak lain adalah santri bapakku sendiri. Guru ngajiku menjawab sambil tersenyum tak percaya, “ya yang penting niat nyembah Allah.”
Belum hilang kekaguman pada semesta raya, demam bulutangkis menyerangku. Kalau tak salah kelas IV, saat Ricki Subagia dan Rexy Mainaki menjadi pemboyong mendali emas di Olimpiade pada cabang bulu tangkis.
Aku sendiri tak menonton pertandingannya. Tahun itu, TV di kampungku belum banyak. Hanya orang-orang kaya yang butuh TV. Salah-satunya tetanggaku. Seperti malam sebelumnya, dalam terang bintang kususuri jarak sepuluh meter menuju rumah Lisnawati, tetanggaku. Aku dan beberapa teman hanyut dalam sebuah sinetron. Kalau nggak salah lagi, sampai jam 21.00.
Entah karena apa, aku lupa. Yang jelas hal itu membuat aku sedikit gengsi nonton pertandingan itu. Kalau tak salah nih, yang memberitahuku tentang jadwal pertandingan itu adalah teman yang sedang aku benci. Sehingga aku merasa gengsi kalau ikut nonton karena ajakan dia. Aku jawab saja, “halah bulu tangkis, ngapain ditonton, mendingan tidur.”
Pagi hari di sekolah, aku cuma bengong saat semua teman membincang kemenangan Ricki dan Rexy. Lagi-lagi karena gengsi, kukatakan semalam aku juga nonton. Larut dalam euforia kemenangan, hampir setiap orang mengisi waktu luangnya dengan bulutangkis. Tak terkecuali aku dan teman-teman sekelas.
Walau merasa rugi karena tak mendapatkan kegimbaraan seperti yang lain yang nonton langsung pertandingan, tapi aku ikut saja saat dua siswi dan satu siswa sekelas mengajakku bermain pukul bulu itu. Begitu leburnya dalam keasyikan, kami mengidentikan diri masing-masing pada para pebulutangkis nasional. Teman-teman membaiatku sebagai Ricki Subagia. Aku bangga-bangga saja dipanggil demikian. Sejak itulah cita-citaku ingin jadi pemain bulu tangkis nasional.
Berbagai pertarungan kecil-kecilan kami gelar. Baik di sekolah saat jam istirahat atau pada jam mainku pulang sekolah. Kesadaranku kembali pulih. Kutahu fisikku tak merelakanku untuk bergelut di bidang olahraga fisik. Lagi pula, modal gemar saja ternyata tak cukup. Aku selalu kalah telak saat bertanding.
Pada moment yang tak berjauhan, aku membentuk sebuah genk Power Rangers. Aku bersama lima teman lainnya kebetulan sama-sama suka nonton serial Power Rangers. Di genk ini aku berperan sebagai Tommy, sang RangerPutih.
Masa itu aku lewatkan dengan imajinasi ada kekuatan dahsyat yang menimpaku. Dan aku benar-benar menjadi Sang Super Hero penakluk monster. Akupun berkhayal terbang ke berbagai penjuru jagad. Hinggap di planet-planet terluar dari Tata Surya memakai baju Ranger Putih. Tapi sayang, genk Power Rangers ini tak berjalan lama. Kawan-kawanku buru-buru bosen dengan genk kanak-kanakan ini. Bahkan setiap senin kami ketemu, tak lagi mendiskusikan serial Power Rangers yang tanyang hari minggu. Sebagian sudah beralih hoby nonton Dragon Balls, yang jam tayangnya bentrok dengan Power Rangers. Jadilah aku single rangers.
Berlanjut Ke Chapter II: Posturku Lebih Mirip Sosok Jin Daripada Manusia

Rabu, 30 Desember 2009

"Kesetian Itu Hanya Milik Perempuan, Bukan Untuk Laki-Laki"


Seorang Kawan yang sekaligus sebagai kakak dan orang tuaku berkata, "Kesetian Itu Hanya Milik Perempuan, Bukan Untuk Laki-Laki" Awalnya aku kurang sepakat. Sebab walau aku juga laki-laki, tapi aku kurang sepakat jika ada pembedaan hak dan kewajiban dalam gender.
Tapi sebuah Peristiwa terjadi dalam proses hidupku. Dulu, aku menembak hati seorang wanita. Dia sangat bahagia bersamaku. Sebeb denganku, ia menemukan kenyamanan tak terhingga. Ia sangat takut kehilangan aku. Terlebih setelah ia tahu bahwa sisa cintaku terhadap wanita, yang dulu ku kejar-kejar sebelum dia, masih berarak di dalam hatiku.
Dia pun selalu bertanya padaku, apakah aku akan setia padanya, mau menikahinya, dan akan selalu cinta dia, bagaimanapun kondisi dia, masa lalunya dan keluarganya.
Aku hanya bisa menjawab dengan lagu Bang Iwan, "... hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini. Entah esok hari, atau lusa nanti, Entah..."
Berbeda dengannya yang terus berjanji setia padaku. Ia ucap sumpah setia atas nama Yang Maha Suci dalam hidupnya, Tuhan, Ibu, nenek dan binatang kesayangannya. berulangkali ia nyatakan bisa menerima aku apa adanya. pastinya dengan segala kekuranganku. Bahkan ia sempat menyuruhku mengejar wanita yang dulu jadi idamanku. jika nanti gagal mendapatkannya, kembalilah padanya. Keinginannya nanti setelah menikah, ia akan memelukku tiap libur kerja akhir pekan.
Kemanapun aku pergi, selalu ia awasi. Jika aku tak ada kabar, ia menghubungi teman-temanku dan marah-marah padaku. Ia selalu ingin tahu semua kegiatanku. Bahkan ia sempat menculikku karena menurutnya aku tak punya waktu jika ia tak melakukan itu.
Ia memaksaku untuk mengucap janji setia padanya, ataas nama yang suci Bagiku, yakni Ibuku.

Aku Ucapkan Itu.

Saat datang wanita-wanita menggodaku, aku palingkan muka. Datang pula hati seorang wanita yang dulu kukejar-kejar, namun ku abaikan dia. semua hanya demi cintaku yang pertama.
Walau sibuk, capai dsb, ku sempatkan sms tlp dan menerima panggilan dia... bukan aku pamrih, tapi karena merasa ini kewajiban dan kebutuhan jalinan cinta kita berdua. Ku kurangi aktivitasku demi memberinya sekuntum waktu. Dengan nyaman ia mengungkap semua aib dan masa lalunya padaku. Walau menyakitkan, aku terima segalanya. Justru kekurangannya membuatku semakin cinta. Ku cintai kekurangannya, bukan kelebihan. sebab siapapun bisa mencintai kelebihan. tapi tak semua orang bisa mencintai kekurangan.

Tapi

Saat ia temukan dunia baru, kawan baru, aktivitas baru, ia abaikan aku. Saat aku mengcomplinenya, ia tak terima. Menurutnya aku tak paham dia. Aku cuma mau dia ada waktu untukku,, hatinya tetap padaku.. walau mungkin agak berlebihan tapi bukankah itu maunya. Siapa wanita yang tak mau dicintai setulushati oleh kekasihnya?
Dia bilang itu mengganggu. Dia bilang aku psikopat. Aku bodoh. karena telah sering disakiti masih saja mau mencintai. Aku jatuh cinta lagi padanya untuk kesekian kalinya. Jatuh cinta berulang-ulang pada orang yang sama. Tapi saat kutanyakan, "Kamu cinta dan sayang aku g?" Jawabnya, "itu pertanyaan konyol, dua tahun pacaran masih bertanya seperti itu."
Saat kuminta ia untuk berjanji atas nama yang suci-suci, ia tak berani. Padahal aku telah membelanya dihadapan ibuku yang dulu tak setuju aku pacaran dengannya.... Di dunia ini hanya ibuku yang aku keramatkan... dia adalah sosok tersuciku...
Aku memang belum punya banyak uang untuk dikorbankan untuk kekasihku.. Tapi Atas Nama Ibuku itu sudah sangat terlalu.
Kini dia acuhkan aku.. Ia ajukan putus.. dan menunggu jawaban 'ya' dariku. Tak pernah sms atau terima tlpku. Tak ingat janji atas nama Ibu, Nenek, Binatang kesayangan dan adik2nya.
Salahkah aku setia padanya? kenapa dia bilang aku bodoh mencintainya yang banyak kekurangan.
Beberapa telpon dan sms nya terhadapa cowok lain tak boleh kulihat. Dia tak mau kutelpon pukul 01.00 dengan alasan ngantuk, tapi jam 02.00 menelpon lelaki lain. Berulang kali ia berbohong padaku atas aktivitasnya. dan aku tak boleh mengcompline-nya.
Tak bisakah Wanita mencintai orang yang tulus mencintainya...
kenapa rata2 wanita terpesona pada lelaki playboy yang jelas2 sering menyakiti hati. benarkah wanita sebenarnya tak butuh kesetian dan ketulusan? Wallahu a'lam
Jika benar demikian, nyatalah bahwa "Kesetian Hanya Milik Perempuan, Bukan Untuk Laki-Laki"
Kini ia tak pernah nyaman bersamaku....
Aku hanyalah pengganggu, pengusik hari-harinya....
Aku menagih Janji atas nama yang suci. Aku tak rela karena nama ibuku telah ku angkat...
Kembalilah kasih...
Kepergianmu dariku adalah malapetaka...
Doakan aku pembaca

Rabu, 23 Desember 2009

Tumben


Senin itu aku jumpa pukul tujuh

Tanpa lemas kusapu ilerku

Lolong anjing tak berganti kicau

Ku hampar kasur pada sinar

Keringat yang telah jadi bagiannya melayang

Duduk di tepi

Menyalakan melodi gitar tua

Sesajen hitam dan sekepul kretek menghiasi

Jalan raya membuka bajunya

Mobil sedan menggebu dengan tuannya

Ke kantor katanya

Pemuda lesu terburu membawa sebungkus makalah

Mau presentasi

Pembantu tua menyapu halaman

Pembantu muda menyuapi anak majikan

Anak itu nakal

Kelak ia akan Menikah juga

Pergi tiap pagi Juga

Sekolah juga

Menyapu juga

Punya anak lagi

Anak yang Nakal pula

Mobil tak pernah berhenti di tengah jalan raya

Angin enggan tidur di kamar saja

Kemana mereka semua menuju

Untuk apa semua mereka berjalan

Apakah dunia yang sempurna itu nikmat

Ketika semua yang kita ingin kita dapat

Minggu, 20 Desember 2009

Menagih janji yang belum terucap.

Radar nalarku menyasak dinding kamar
Membelah tulang kepala
Menjamah nuansa kosong

Lagu kenangan telah usai
Melempar ruang waktu yang hilang
Menyisa sayatan di ujung hati

Darah berlari sia-sia
Birahi memanjat tak ada guna

Kemana arwahku merayap

Janji-janji tak lagi bermahkota sumpah
Perbandingan nyata menindas pujian buta
Telapak hatinya tengkurap
Berpisau nalar menatap hina
Mengumpan sekeping koin
Yang terbungkus selembar kulit basah
Membeli ikrar lusuh yang lacur
Mengganti belai jiwa
Yang terampas senyum munafikin

Nanar mata duduk menyala
Nuansa yang kutunggu tak jua pulang
Sejak pamit ke Alaska
Tak sepucuk memori pun ia titipkan
Bakal mentahan nostalgia sepah
Memeluk senyum kekhawatiran

Menepi
Berontak dari air yang mengulum dadaku
Melompat dari raga
Berteriak di padang simpati

Setelah massa menyembah berhalaku
Nuansa menusuk perutnya karena malu
.
Bulir-bulir waktu jatuh
Sesal bersujud di kaki yang menggantung
Meneduh muka
Merapat meratap
Kuayun sebilah dendam di pipi betonnya
Menagih janji yang belum terucap.

Jumat, 04 Desember 2009

Kurangi Budaya Gotong Royong

gotong royongIni adalah secuil rekaman obrolan santai Sokre, Aris, Jame dan Deskro mahasiswa Filsafat UIN Jakarta.di Kantin Ushuluddin, Rabu 2/12/09. Sebagaimana mafhum, kantin adalah tempat perjumpaan dan pergumulan warga kampus dengan segala ide yang ditenteng di kepala. Kopi setengah gelas plastik menjadi saksi senyum Sokre. Tak tahu berawal darimana, tibalah ia melontarkan pembahasan tentang pendidikan di Indonesia.

Sokre mengatakan, kalau jadi Mentri Pendidikan, saya akan menghapus pendidikan jenjang SMA. Itu hanya buang-buang waktu dan umur. Jadi seperti di luar negeri, misalnya Prancis, sesudah jenjang SMP langsung ke perguruan tinggi.

Aris menyepakati Sokre. Ia ikut bicara. “Betul juga, banyak mata pelajaran SMP diulang di SMA. Itu pemborosan. Banyak pelajaran seperti Bhs Arab (untuk MTs), Indonesia dsb, sama dengan di MA/SMA. Masuk ke Perguruan Tinggi, pelajaran itu terulang lagi. Tapi anehnya banyak yang nilainya tetap jelek. Berarti pembelajaran di SMP dan SMA gagal/percuma. Mendingan dipadatkan tiga tahun, pasti lebih efektif.”

Jame menolak pendapat itu dan berujar, “Kenapa sih harus selalu meniru barat. Sistem pendidikan yang cocok dengan Indonesia itu adalah pesantren. Ini budaya kita dari zaman kerajaan sampai sekarang. Kelemahan banyak pesantren mungkin hanya terletak pada kurangnya keterbukaan pada dunia luar. Perhatikanlah, rata-rata santri pesantren lebih barhasil menyerap apa yang mereka pelajari. Karena di pesantren mereka langsung mengaplikasikan apa yang mereka dapat sebagai bagian dari keseharian.”

Akhirnya, Deskro angkat suara. “Sebenarnya manusia Indonesia butuh pengutan karakter individu. Kalau secara individu kita kuat, maka bayangkan jika bersatu. Otomatis akan lebih kuat. Selama ini dari jenjang pendidikan SD-Perguruan Tinggi, kita selalu didoktrin bahwa bangsa kita punya budaya gotong-royong. Kita harus melestarikan budaya tersebut. Karena ini bagian dari jati diri bangsa.

Banyak yang menyebut, nilai-nilai itu telah terkikis. Tapi kenyataannya, doktrin itu bersemayam dalam jiwa manusia Indonesia. Padahal gotong-royong punya sifat negatif, yang membuat masing-masing individu tegantung pada kekuatan massa. Kita merasa menjadi pribadi lemah, jika tanpa kawan. Ketika individu-individu lemah itu bersatu, berbuahlah persatuan yang lemah, terutama pada jiwa dan pikiran.

Dalam kerumunan massa yang besar, individu telah hilang. Mereka tak lagi menjadi individu, melainkan telah menyatu dalam massa. Lebih lagi jika mereka secara pribadi memang lemah.

Kita pasti paham, bahwa massa tak kenal pengetahuan, etika atau akhlak. Massa hanya butuh perintah dan komando saja. Mereka siap gebuk siap pukul tanpa pertimbangan rasio dan etika.

Karenanya, yang paling bangsa Indonesia butuh adalah penguatan karakter Individu. Selama ini, doktrin gotong-royong terlampau dilebih-lebihkan. Sehingga menciptakan pribadi-pribadi berkualitas lemah. Bukan berarti gotong-royong sepenuhnya buruk. Ini perlu ada sebagai penyeimbang. Tapi jangan berlebihan.

Jangan terlalu khawatir/merasa kita telah kehilangan budaya gotong-royong. Sebab, manusia secara naluriah memilikinya. Sedangkan kekhawatiran hilangnya budaya ini hanya akan memengaruhi alam bawah sadar/jiwa bangsa Indonesia menjadi manusia lemah yang takut sendirian... hehehe

pic source : http://teresakok.com

Selasa, 01 Desember 2009

Iklan Gratis; Percayakan Produk Anda Di Sini

Salam Kreatif

“Kebahagiaan hanya akan nyata jika dibagai.” Bagitu ungkap Alexander Supertramp menjelang akhir hidupnya dalam pengembaraan ke alam buas di Alaska. Tentu makna dan kalimat di atas tak berakhir di situ. Silakan lanjutkan sendiri.

Baiklah kawan,

Berkembangnya teknologi dan informasi, tidaklah harus mengikis nilai kemanusian kita. Sebagai insan berakal, manusia adalah mahluk kreatif. Dalam setiap raga terdapat jiwa kreatif yang mampu mencipta. Ciptaan kita tak berarti jika hanya terpajang di kamar.

Karenanya, Bermodal Page Rank 2 dan jalinan komunikasi dengan berbagai komunitas dan organisasi di kampus-kampus se-Jabotabek, kami membuka kesempatan kawan-kawan dari dunia nyata dan maya untuk mengiklankan kreatifitas dan produknya. Untuk bulan pertama, pemasangan benner iklan di blog ini gratis. Selanjutnya, hanya akan dipungut biaya Rp.10.000. Pemasangan banner iklan bisa langsung hubungi sdr Pandi Merdeka atau saya sendiri. Bisa juga ketemu di facebook Pagar Dewo. Baik online maupun offline.

Demikian, sebagaimana tersebut di atas, tujuan kami tak lain untuk mengembangkan semangat kreatifitas

Berwisata Ke Kawah Putih Lembang Bandung



Tiba-tiba mataku terbuka. Sadar bahwa mentari telah tinggi, segera kugapai HP-ku. Tertera di layar 32 panggilan tak terjawab dan empat pesan pendek. Ini gawat jam 08.30. Aaah, telat. Aku sudah ikhlas dan siap kalau ditinggal. Sebab bukan hanya aku dan kekasihku yang berangkat dan ikut dalam rencana. Melainkan tiga teman cewekku, yakni Heni, Ahdika, Rika dan satu lagi Iyang, sepupu cewekku yang nunggu di Bandung.
Dengan muka natural bangun tidur, kuangkat telpon.
“Halo, udah berangkat ya?”
“Udah, nih udah di Lebak Bulus.. Kamu ngapain aja sih semalem? Tidur jam berapa? Nggak enak ama anak-anak...”
“Ya udah ga papa, kamu sama teman-teman berangkat aja.”
Telpon tertutup. Ku hisap sebatang puntung rokok sisa semalam. Bersiap mendengarkan cerita dari Bandung. Sepuluh menit kemudian, telpon berdering. Icha, cewekku menyuruh segera ke Lebak Bulus. Nggak usah mandi. Cuci muka saja. Buruan.
Kukemas mukaku semanis mungkin. Setengah jam berdandan tanpa mandi, sampailah aku di Lebak Bulus. Kami Berangkat dengan Bus Primajasa Jurusan Garut. Kata kondekturnya kita bisa ke Bandung naik bus ini. Nanti sampai Cibaduyut kita turun lalu naik angkot ke Luwi Panjang. Dan ternyata, dari Luwi Panjang ke Lembang, Kawah Putih jauh sekali. Belum lagi dari pintu masuk menuju kawah putih masih 5 km lagi. Tapi tak apa, seluruhnya menakjupkan. Mulai dari jalanan yang berkelok. Sopir angkot yang handal. Dengan kecepatan tinggi melewati jalan berkelok-kelok. Kebun-kebun stroberi dan macem-macem lah.



Sampai di Kawah Putih jam setengah tiga. Tak lama kabut mulai menyelimuti. Bareng dengan gerimis. Aku benar-benar menikmati pemandangan ini. Serasa bukan berada di planet bumi. Wauow sungguh luar biasa.
Menjelang magrib kami beranjak. Belum puas sebenarnya foto-foto. Tapi mau apalagi, kabut makin tebal. Telapak tangan makin tak terasa. Apalagi Rika sudah mulai batuk-batuk. Sesuai peringatan, kalau sudah menjumpai gejala batuk-batuk, maka segera menghindar dari kawah.
Setelah makan stroberi berbagai olahan. Kami menutup jalan-jalan ini berbelanja. Otomatis ke Cibaduyut lagi. Jam sembilan malam, berangkat lagi deh ke Jakarta. Masih pengen lagi ke Kawah Putih. Semoga bisa ke sana lagi.... bagi yang belum, kesanalah.. di jamin g rugi.




Sebenarnya, wisata ke Kawah Putih ini berawal dari ajakan Vina, mahasiswi Tafsir Hadits FUF UIN Jakarta. Katanya tempat wisata satu ini sangat mempesona. Kemudian ide itupun aku sampaikan pada kekasihku. Beberapa bulan kemudian, tersusunlah rencana. Bulatnya tekad kami pun kusampaikan pada Vina. Tapi ia masih menunggu konfirmasi dari boy friend-nya. Hingga satu hari menjelang keberangkatan, belum ada kepastian darinya. Maafin Aku ya Fin..... Kapan2 kita Ke Kawah Putih lagi dengan banyak kawan

Rabu, 25 November 2009

Hsun Tsu; Sang Rasionalis China 300 SM

Kodrat Asli Manusia Adalah Buruk

Hsun Tzu adalah salah-satu pemikir dan filsuf China yang lahir di Negara Chao sekitar tahun 300 SM. Meski berabad-abad lalu, namun pemikirannya masih berpengaruh dan relevan dengan zaman sekarang. Salah-satu buah pikir kontraversial ialah ketika secara tegas Hsun Tzu menyatakan, kodrat manusia adalah buruk. Hsun Tzu mengawali pembahasan tersebut sebagai berikut:


“Kodrat manusia adalah buruk. Apapun kebaikan yang baik yang terdapat dalam dirinya adalah akibat latihan yang diperolehnya. Manusia lahir dengan kesukaan atas keuntungan. Jika kecenderungan ini diikuti, maka mereka akan gemar bertengkar serta rakus, sama sekali tidak mengenal basa-basi dan tidak memperhatikan orang lain. Sejak lahir mereka penuh dengan sifat iri dan benci terhadap orang lain. Apabila sifat-sifat ini dikekang mereka menjadi ganas serta keji, sama sekali tidak memunyai ketelusan dan i’tikad baik. Saat dilahirkan, manusia membawa serta kesenangan melalui telinga dan mata, kesukaan akan bunyi dan warna. Jika ia berbuat seperti apa yang ia diinginkan oleh hal-hal tersebut, maka ia akan menjadi jangak serta resah, dan tidak memperhatikan li atau keadilan atau sikap tengah-tengah.”

Bagi Hsun Tzu, berbuat sesuai kodrat manusia adalah sejalan dengan naluri yang menimbulkan kesukaan bertengkar, ketamakan dan keresahan yang menyebabkan umat manusia mengalami suasana penuh kekerasan. Menurut Hsun Tzu, hanya dengan bimbingan para guru dan hukum serta li atau keadilan, manusia dapat menemukan basa-basi serta kebijaksanaan. Atas dasar ini, Hsun Tzu menyimpulkan kodrat asli manusia adalah buruk. Ia menjadi baik hanya bila melalui latihan yang diperolehnya. Sebagaimana pedang yang majal, harus digosok atau diasah supaya menjadi tajam. Begitu halnya manusia, harus digarap para guru dan hukum serta dilengkapi li agar menjadi manusia yang jujur dan tertib. Tanpa guru dan hukum, manusia akan mementingkan diri sendiri, jahil dan tidak adil. Tanpa mengenal li serta keadilan, mereka susah diatur, suka memberontak dan resah.

Hsun Tzu menyangkal argumen Mencius (pemikir sezamannya) yang mengatakan, kenyataan manusia dapat belajar membuktikan kodrat asali manusia adalah baik. Lebih lanjut hemat Hsun Tzu, Mencius tak paham apa itu kodrat manusia. Mencius tak mampu membedakan secara lihai antara kodrat asli dengan watak yang diperoleh kemudian. Kodrat manusia adalah apa yang telah dikarunikan Tuhan sejak lahir. Ini tak dapat diupayakan, pun dipelajari. Sesuatu yang bisa dipelajari dan diupayakan adalah watak yang diperoleh kemudian, bukan asali.

Kodrat manusia yang dimaksud Hsun Tzu setara dengan orang yang lapar pasti ingin menjejali mulutnya dengan makanan, orang bekerja yang harus istiraha. Akan tetapi ada beberpa orang yang menahan laparnya demi mendahulukan orang yang lebih tua atau kurang mampu. Hal ini bertentangan dengan kodrat manusia. Jika ia menuruti kodratnya, maka saat ia lapar, ia akan melahap saja makanan dihadapannya tanpa peduli orang tua atau yang kurang mampu.

Pemuja Rasionalitas

Hsun Tzu hampir sepenuhnya mengesampingkan faktor keagamaan. Hal ini bukan hanya dari wawasannya mengenai li tapi juga seluruh pemikirannya. Hantu, menurutnya hanya dibayangkan oleh mereka yang pikirannya rancu, padahal mereka tidak benar-benar melihatnya. Hsun Tzu juga memberi contoh, jika seseorang berdoa meminta turun hujan lalu hujan pun turun, itu bukan karena doanya. Meskipun orang tidak berdoa hujan juga akan turun.

Tak hanya itu, Hsun Tzu menertawakan Mo Tzu (pemikir China juga) yang menganggap, hasil panen yang baik dan kemujuran merupakan pertanda Tuhan membenarkan kebijakan seorang penguasa yang baik. Sebaliknya jika bencana berulang kali melanda sebuah negara. Bag Hsun Tzu yang harusnya diamati dan diselidiki ialah bagaimana seorang penguasa memerintah. Sudahkah sesuai dengan keinginan rakyat, apakah rakyat sejahtera atau menderita. Bukan dengan mengamati datangnya bintang berekor atau gerhana bulan.
Rasinalitas Hsun Tzu juga tampak dalam menyikapi upacar-upacara kurban. Baginya, itu tak ada bayang-bayangnya (pahala di akhirat kelak). Upacara ini layak dihargai karena nilai kemasyarakatannya untuk menyalurkan perasaan dengan cara yang sudah diakui dan bermanfaat.

Tuhan dan Li

Hsun Tzu tidak mengesampingkan gagasan ketuhanan. Tapi ia mendefinisikan ulang konsep ketuhanan itu. Menurutnya, Tuhan sekadar tatanan alam. Dia tak pernah campur tangan dalam menjalankan hukumnya, melalui mu’jizat misalnya. Tuhan adalah tatanan alam dan orang harus memelajari hukum-hukum Tuhan dan berbuat sesuai dengan hukum-hukum tersebut.

Sementara itu Li, menurut Hsun Tzu diciptakan para raja bijaksana, namun bukan diciptakan dengan semau-maunya. Li memberikan keindahan, kepentingan, irama serta pengendalian terhadap seluruh aktivitas manusia.

Kelas Masyarakat Dalam Negara Adalah Keniscayaan

Hsun Tzu sepakat dengan pembagian kelas masyarakat. Pembagian ni bukan dalam rangka penindasan terhadap yang lemah. Melainkan menjaga negara dari kekacauan. Sebab bagi Hsun Tzu, jika semua orang berada pada kekuasaan yang sama, maka sama halnya tak ada kekuasaan/pemerintahan. Pengandaian lain, jika setiap orang punya kekuasaan yang sama, lalu menyukai atau tidak menyukai hal yang sama, maka akan terjadi perebutan dan kekacauan. Pembagian kelas itu sudah sewajarnya, sebagaimana ada langit ada bumi.

Gagasan Hsun Tzu tentang pemerintahan pada dasarnya sama dengan Confusicianisme, pemerintahan adalah untuk rakyat bukan untuk penguasa. Tindakan penguasa yang memelaratkan rakyat dan para sarjana, berarti memancing malapetaka. Fungsi penguasa adalah memilih mentri yang bajik dan mempu menjalankan tugasnya secara baik tanpa melihat hubungannya dengan dia dan tanpa pilih kasih. Seorang yang bajik tak dapat diganggu gugat. Sebaliknya, penguasa yang jahat bukan lagi penguaasa dan harus diturunkan dari singgahsana.

Demikianlah, semoga kita mampu mengambil hikmah yang mungkin belum kita temukan. Walau mungkin kita, anda, saya dan mereka beda keyakinan, tapi aku yakin kita sepakat bahwa hikmah merupakan barang hilang yang harus terus kita cari. Dan resume ini tak lepas dari kekurangan. Bila ada yang sudi menambahkan, dengan lapang senyum kusambutnya.

Sumber Bacaan: Alam Pikiran Cina, H. G. Creel

Minggu, 01 November 2009

Menjadi Muslim Tangguh Ala Setan

Bercerminlah Pada Setan

MSW-Siapa bilang setan selalu mengarahkan manusia pada keburukan. Siapa bilang setan adalah biang segala perbuatan keji dan mungkar. Yang pada ujungnya,karena setanlah manusia bisa masuk neraka. Tak selamanya setan itu menakutkan. Terdapat hal-hal positif yang melekat pada sifat dan tabiat setan. Tentu saja, ini hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang berfikir.
Pertama, sebagai penghargaan atas intelektualitas, setan adalah makhluk yang cerdas. Tanpa kecerdasan, ia pasti kehabisan akal untuk menggoda manusia.
Kedua, Tabiat setan yang patut ditiru adalah sifat pantang menyerah. Ini sudah pasti. Sebagaimana petuah mereka yang berada di atas angin, ‘orang sukses adalah orang yang mampu memertahankan semangat.’ Di sinilah kunci sukses besar setan di planet bumi. Sepanjang sejarah, setan selalu menjadi sasaran cacimaki dan hujatan. Bahkan para ulama dan guru ngaji telah memastikan setan masuk neraka, dan kekal selama-lamanya. Sering pula, orang-orang dewasa memakai kata ‘setan!’ untuk mengungkapkan kemarahan dan kebencian pada sesuatu.
Sangat jarang bahkan tak pernah, orang menggunakan kata ‘setan’ untuk menggambarkan sebuah keindahan atau kenikmatan. Biasanya, untuk pengungkapan sesuatu yang indah, orang lebih memilih kata ‘wow’, ‘anjrit’, ‘anjing’ dan sebagainya. Misalnya, ketika anda lagi ber-make up dan melihat wajah Anda dikaca begitu keren dan tampan, mungkin Anda bisa berkata, ‘Wow ganteng banget gue’ atau ‘Anjiiing keren banget gue’. Tapi rasanya tak mungkin mengatakan, ‘Setan! Ganteng banget gue’.
Bisa kita rasakan betapa berbeda rasa yang timbul dari kalimat di atas. Kata ‘Setan’ lebih cocok dipakai untuk penyesalan. Sementara kata ‘Anjing, wow dan anjrit’ pantas dipakai untuk mengungkapkan kebanggaan atau kehebatan.
Namun demikian, setan tak pernah minder dan putus asa. Ia tahu, banyak manusia membencinya. Entah karena hasutan siapa. Tapi semangatnya tak pernah kendur. Ia terus saja menggoda manusia sepanjang masa. Agar, katanya, nanti masuk neraka.
Ketiga, Setan adalah lambang profesionalitas, disiplin dan totalitas. Secara takdir, setan telah dicipta dan ditugaskan Tuhan untuk menggoda dan menjerumuskan manusia. Selama masa karirnya, setan melakukan tugas tersebut secara disiplin dan penuh totalitas. Ia fokus mengemban amanah Tuhan sebagai mahluk penggoda. Ia tak pernah menyeleweng dari perintah Tuhan. Hal itu menjadikan ia makhluk yang profesional dan ahli di bidangnya.
Keempat, Tak ada kebajikan dan kebaikan tanpa adanya setan. Sebagai komandan pasukan keburukan, keberadaan setan mempertegas adanya kebaikan dan kebajikan. Coba pikir, apakah ‘kebaikan’ itu akan ada tanpa adanya ‘keburukan.’ Sama halnya, jika seluruh penduduk bumi pandai apakah mereka disebut pandai? Karenanya, adanya keburukan mempertegas adanya kebaikan. Semakin buram keburukan, maka buramkan kebaikan.
Itulah, sekelumit pelajaran dari setan. Semoga kita tergolong mahluk yang berfikir. Sehingga mampu menangkap pesan dan spirit moral yang ada pada setan. Terlepas ada tidaknya setan, di sini kita andaikan setan itu ada. Meski mungkin wujudnya tak berupa materi. Melainkan energi atau semacam wujud cahaya yang belum bisa kita lihat. Sebagaimana signal HP yang tak bisa kita lihat, raba maupun terawang. Setan adalah lambang survive kehidupan.

Jumat, 30 Oktober 2009

Aku Dia dan Tuhan*

Ku hisap pesonamu
Kuremas bumi yang mengkerut
ku masukan dalam kantong-kantong jiwa
Matamu penuh energi

Mengejutkan

Ujung rambutmu tak habis kurayapi
Senyummu bertabur pelangi

Memijar
Berfusi memadat.
Menyala

Bulan Terpesona mengitarimu
Siapa sanggup menolak keindahan subjektif ini

Sungguh
Pesonamu merambat
kuserap
Jumud mematikan tiap cicak yang mendekat
Kau hanya pembunuh tanpaku
Aku
mayat tanpamu

*Judul Ini memang sama persis dengan Judul cerpen Pandi Merdeka, yang dimuat di Tabloid Institut edisi III. Namun isi tulisan ini beda. Sengaja ku pilih judul itu karena tiba-tiba ia menonjokku di depan gerbang metafisika yang tersingkap ini. Tanks Pandi Merdeka atas kedatangan kalimatmu... Semoga Tuan Kost Dunia Ini memberkatimu.....

17

Panas dingin udara itu
Hari tak terlupakan
Bagiku entah orang lain
Kau tahu
Aku tak sanggup mengungkap kata-kata
Bukti diri pada hati

Dia datang
membawa secangkir kilau air
Di tengah tak menentunya hati langit

Bumi Ganjing

Jantung bumi menyanyikan cord angin
mawar merekah di wajahnya
Diukirnya otakku
Menyulam jala intan

Dan mawar itu
Tak segera bersayap
Meminta keabadian
tanpa materi

Tangan mata mengalir di rambutnya
Jatuh di depan teras nol
Kutuang magnet dalam bejana kosong
Dia hanya tanah
Pohon anggur yang tak habis ku petik
Melihatnya tanpa sadar
Menangkap bayangmu di sungai yang tenang

Kau tanggalkan cemari
Langit pun mengangkat airnya
Tapi cord angin telah memilikiku
Kau salib kalbuku di alun-alun
Dan aku jadi tuhan
Aku atau Kau yang menyembah

Minggu, 25 Oktober 2009

Lorong

Benarkah tak ada jalan selain jalan raya
Salahkah pembuat lorong-lorong kecil dalam gang
Yang berpesta di sana semut dan kalajengking
Memiara gajah dan memberi makan singa

Kenapa aku di tilang karena tak pakai helm
Aku di jalan setapak
Melepas kebisingan roda-roda besar
Mewah katanya
Aku benci bising motor
Erangan mobil
Busuk asap kenalpot
Siapa yang mau memberiku izin lewat jalan ini
Ku bayar dengan hidupku
Benarkah
Mudah-mudahan
Asal aku bahagia
Apa? Bahagia?
Kata apa itu, ku tak tahu
Aku benci jalan raya
Aku mau mendaki gunung saja.
Siapa yang sanggup peduli
Siapa yang sanggup memberi izin
Siapa yang mau menemani
Mendaki
Ya,, orang ini yang akan ku bayar
Ku bayar dengan hidupku semampu
Temaniku mendaki gunung
Berat tapi indah
Nikmat sejuk dan alami
Tak ada kemunafikan
Tak ada dalam keranjang hitam
Pohon itu selalu menjawab pertanyaanku
Di mendengarku dan memberiku segarnya angin
Huuuu Pohon

0

Tak bisa ku ingkari nurani

Dia Ada dalam aku

Sebaliknya sebaiknya

Luka sembuh tak berbekas

Semua ringan

Semua baik

Semua orang

Tak ada yang menenangkan dan memuakkan

Di titik nol ini jalan lurus

Meniti jembatan sirotolmustaqim

Keseimbangan penuh

Tak berat kanan kiri

Hanya ada nikmat tanpa asal tujuan

Itukah

Mendaki gunung-gunung ABC

Lembah xyz

Ayunkan lengan kibaskan tapak

Rumah berdiri

cukup

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html