Jumat, 24 Juli 2009

Hidup Sesudah Mati, Mau ngapain ya?



Oleh MS WIBOWO

Mati atau kematian adalah fakta. Tak seorangpun mampu menolaknya. Tapi sampai sekarang, hal ini masih misteri. Pasalnya, belum ada orang kembali dari alam kubur dan menceritakan keadaan di sana. Jika orang tak percaya adanya Tuhan atau akhirat, hal itu bisa dimaklumi atau ditolerir. Tapi kalau orang tak percaya akan kematian, hal ini tak mungkin bisa ditolerir. Sebab, kematian adalah fakta, sedangkan akhirat bukan fakta melainkan suatu keyakinan yang diperkuat dengan agumen-argumen logis.

Banyak pemikir menyibukkan diri dan berusaha mengungkap teori tentang kematian. Sigmun Freud misalnya, mengatakan bahwa hal yang paling ditakuti manusia adalah kematian. Karena kematian tak dapat ditolak, manusia mencari perlindungan kepada hal yang bersifat supranatural, yakni Tuhan. Tuhan, tutur Freud, adalah imajinasi manusia itu sendiri, yang seolah-olah bisa membantu menyelesaikan misteri yang paling ditakutinya. Jadi menurut Freud, manusia yang percaya Tuhan adalah manusia lemah yang butuh perlindungan dari zat yang lebih besar. Hal ini tak ubahnya seperti anak kecil yang masih butuh bimbingan dari kedua orang tuanya.

Sementara Sartre, seorang tokoh eksistensialis yang sangat menegaskan kebebasan manusia, pada ahirnya mengakui bahwa manusia tak bebas lagi manakala menghadapi kematian. Bagi Sartre maut adalah suatu yang absurd. Ia tak dapat ditunggu, melainkan hanya diharapkan kedatangannya. Tapi kapan datangnya maut, kita tak dapat memastikan. Lebih lanjut Sartre mengatakan, dengan kematian, eksistensi berakhir dan kita kembali ke esensi.

Konsep tentang kehidupan sesudah mati terdapat hampir di semua agama-agama besar di dunia. Baik agama samawi maupun agama ardi. Agama Budha misalnya, menekankan pada nirwana, yakni Keadaan yang tidak ada atau tidak bertepi. Menurut kepercayaan agama Budha, selama berada di dunia, jiwa manusia terpenjara di dalam tubuh. Untuk membebaskannya, ia harus menyucikan diri dari rayuan hawa nafsu agar dapat kembali ke alam spiritual yang tak bertepi.

Sementara dalam agama Hindu, kelahiran kembali atau reinkarnasi menjadi ajaran pokok karena kelahiran inilah yang menjadi ukuran bagi perbuatan manusia di dunia. Jika semasa di dunia tak dapat melepaskan diri dari keinginan duniawinya, maka ia akan terlahir kembali dalam bentuk manusia atau mahluk lainnya. Sebaliknya, jika ia mampu melepaskan diri dari ikatan-ikatan duniawi, maka ia akan mengalami moksa, yakni bersatunya roh dengan Sang Hyang Widi. Moksa dalam ajaran Hindu merupakan tujuan hidup umat Hindu. Ketika moksa manusia tak hanya bersatu dengat zat tertinggi, tapi juga mengalami kebahagian dan ketentraman.

Dalam Agama Islam, kehidupan sesuadah mati adalah kehidupan yang hakiki. Karena diyakini bahwa kehidupan di akhirat, lebih tinggi dari kehidupan di dunia. Kitab Suci umat Islam, yakni al-Quran, banyak di dalamnya ayat yang menerangkan beberapa gambaran tentang kehidupan sesudah mati. Dimana, setiap manusia akan diminta pertanggungjawabannya atas segala perbuatan semasa hidup di dunia. Amal-amal perbuatan manusia akan ditimbang. Hasilnya, jika amal baik lebih berat dari amal buruknya, maka ia akan ditempatkan di surga. Sebaliknya, bila amal buruknya lebih berat, maka neraka menjadi suaka bagi mereka. Keyakinan-keyakinan semacam ini tak hanya ada dalam Islam, tapi terdapat pula dalam agama Kristen dan Yahudi.

Kehidupan Sesudah Mati Sebagai Doktrin Agama

Manusia, sebagai mahluk yang dikarunia akal dan nafsu, selalu memiliki keinginan-keinganan dan tujuan-tujuan tertentu dalam hidupnya. Tak jarang, tujuan dan keinginan tersebut saling bertentangan antara satu dan lainnya. Bahkan terkadang, demi mencapai hal yang diidam-idamkan, sifat rakus manusia menyetir untuk menghalalkan segala cara. Sehingga timbullah saling tindas menindas dan sebagainya. Kondisi tersebut, kerap menimbulkan ketidakadilan.

Ketidakadilan, juga sering terasa bila kita melihat golongan atau oknum yang berbeda dengan kita. Misalnya antara rakyat dan penguasa. Antara orang kaya dan dan orang miskin. Contoh kasus, seorang koruptor yang tak mendapat hukuman setimpal dengan perbuatannya, akibat politik uang dan kelicikannya memermainkan hukum. Sementara yang bekerja keras dan jujur tetap tersinggirkan, tapi yang malas dan tak jujur hidup mewah dengan harta melimpah dan menduduki jabatan yang tinggi. Keadaan semacam itu, membuat manusia ingin mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya. Keadilan semacam itu hanya bisa ditegakkan oleh Sang Maha Adil, yakni Tuhan. Dan bila keadilan di dunia tak terlaksana, kaum agamawan yakin bahwa keadilan Tuhan akan dilangsungkan di akhirat kelak.

Inilah doktrin hidup yang diajarkan hampir di semua agama. Tujuannya tak lain agar manusia berbuat baik dan berakhlak mulia. Meskipun kebenaran dari keadilan Tuhan di akhirat belum bisa dibuktikan secara riil, tapi siapapun orangnya pasti tak ingin disiksa dan dibakar dalam kobaran api neraka. Dan telah menjadi kodrat manusia, akan bahagia dan senang bila ditempatkan dalam surga, yang digambarkan penuh dengan kesenangan dan kebahagiaan.

Penegakan keadilan di akhirat adalah argumen moral yang mendukung keabadian pribadi sesudah mati. Sebagaimana diungkapkan Immanuel Kant, setiap manusia memerjaungkan nilai moral yang tertinggi. Dengan matinya seseorang, tak semua kesempurnaan moral tercapai di dunia. Kesempurnaan itu hanya bisa dicapai kalau ada kelangsungan hidup sesudah hidup yang sekarang.

Wujud Manusia Ketika Bangkit Kembali

Mengenai bagaimana manusia dibangkitkan setelah mati nanti, para pemikir dan filsuf agama berbeda pendapat. Al-Ghazali menolak pandangan para filsuf tentang kebangkitan jiwa saja. Menurutnya, Tuhan mampu menciptakan manusia dari tiada menjadi ada. Maka, akan lebih mudah lagi membangkitkan yang pernah ada dari pada yang belum pernah ada.

Berbeda dengan Ibn Rusyd yang menyatakan bahwa yang dibangkitkan kelak hanyalah jiwa belaka. Penggambaran dalam al-Qur’an mengenai kebangkitan yang bersifat badani, menurut Ibn Rusyd hanyalah penjelasan untuk orang awam saja. Dalam kitabnya Tahafut at-Tahafut, ia menambahkan bahwa Nabi pernah menggambarkan akhirat dengan ungkapan yang lebih bersifat ruhani, ‘surga itu tidak dapat dilihat, didengar dan terlintas dalam hati manusia.’ Ibn Abbas juga pernah berkata, “di akhirat itu tidak ada yang seperti di dunia kecuali nama-nama.” Di pihak lain, Ibn Sina berpendapat bahwa yang bangkit setelah mati adalah jiwa manusia. Menurut Ibn Sina, jasad dan jiwa diciptakan bersamaan. Namun jiwa bersifat kekal. Jiwa tidak rusak dan tidak rusak. Sedangkan jasad sebaliknya.

Sains modern menyatakan, kepribadian atau kejiwaan manusia berpusat pada otaknya. Jika ia mati, maka otak tak berfungsi lagi. Dengan kata lain, kepribadian atau sifat kejiwannya pun ikut musnah. Tapi hipotesa ini tak memunyai bukti yang dapat menyatakan benar atau pun salah.Terkait hal ini, Harun Nasution menulis, selain memunyai fungsi produktif diantara benda-benda materi ada yang memiliki sifat transmitif (meneruskan). Di sini otak manusia memiliki fungsi transmitif bukan produktif. Otak tak memiliki fungsi produktif, melainkan di baliknya ada ada yang menggerakkan otak untuk membina manusia. Sebagaimana yang diungkapakan oleh Henri Bergson, otak adalah alat akal. Tanpa otak, akal tak dapat berfikir.

Percaya kepada kehidupan seseorang sesudah mati mungkin mempunyai arti lain. Ada kelangsungan hidup dalam arti biologi, yakni kelangsungan benih dari generasi ke generasi lain. Dalam arti ini, tak ada kelangsungan hidup di hari kemudian. Ada pula kelangsungan hidup secara sosial, atau warisan pengaruh atau sumbangan social. Hal ini biasanya tidak menjadi masalah. Terdapat sedikit orang yang menjadi tersohor dalam sejarah, pengaruhnya atau sumbangannya tetap berlangsung walaupun ia mati. Ada pula kelanggengan impersonal, yang berarti orang atau jiwa menjadi satu dengan asalnya, atau jiwa alam, atau zat yang mutlak.

Asketisme

Di samping itu, perbincangan persoalan-persoalan eskatologi melahirkan asketisme. Sebuah pandangan hidup yang menjadikan alam akhirat sebagai tujuan utama dalam hidupnya tanpa melupakan kewajibannya di alam dunia.
Begitu besar pengaruhnya perbincangan tentang eskatologi sehingga ia sering juga diartikan dengan realitas surga dan neraka. Bahkan, gambaran kronologis tentang keduanya telah diungkapkan di dalam Kitab Suci.

Berita-berita maupun tanda-tanda tentang hari akhir banyak disinggung di dalam al-Qur’ān. Banyak sekali ayat-ayat yang berkaitan erat dengan kebangkitan dan kehidupan setelah mati. Bahasa-bahasa yang digunakan sebagai simbol yang menunjukkan kepastian Hari Akhir beragam sekali seperti Hari Penegasan (Yawm al-Qiyāmah), Hari Akhir (al-Yawm al-Ākhir), Hari yang Dijanjikan (al-Yawm al-Maw‘ūd), Hari Keputusan (Yawm al-Fashl), dan lain sebagainya. Seperti yang tercantum di dalam ayat yang berarti: “Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan, yaitu hari (yang pada waktu itu ditup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok, dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu, dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.”

Dari seluruh bahasa simbol tentang hari akhir (eskatologi) yang digunakan di dalam al-Qur’ān, pada hakekatnya, hanya mengandung satu pesan yakni keimanan. Dengan kata lain, eskatologi di dalam Kitab Suci tersebut selalu identik dengan keimanan. Banyak sekali ayat-ayat yang menyandingkan keimanan kepada Tuhan dengan hari akhir (eskatologi), di antaranya: “Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan akan adanya kehidupan (akhirat).


Minggu, 28 Juni 2009

UIN Jakarta Dan Kiamat


MS Wibowo - Di sela waktu Ujian Akhir Semester Rabu (24/6) lalu, seorang teman bertanya, mengapa banyak orang takut dan ngeri akan hari kiamat? Mengapa banyak manusia risau akan datangnya bencana global warming yang akan menghancurkan dunia? Bukankah jika semua hancur, segala masalah di dunia akan berakhir pula? Dan kita tak perlu menanyakan lagi, kenapa ketimpangan sosial masih terjadi? Termasuk apa atau siapa yang salah, manusianyakah atau sistem negaranya, semisal demokrasi?
Teman tersebut menambahkan, hidup ini sungguh tak jelas. Manusia selalu dihadapkan pada masalah. Padahal kalau kita mau kompak, semua masalah itu akan tiada. Misalnya, seluruh dunia bergotong-royong merakit nuklir secara paralel mengelilingi bumi lalu diledakkan bersamaan. Hancurlah bumi beserta kemiskinan dan masalah-masalah lainnya. Termasuk pusing memikirkan bayaran kuliah dan kebutuhan hidup?
Kenapa mesti takut akan hancurnya dunia ini? Kehidupan manusia itu membosankan. Perhatikanlah, rantai kehidupan manusia tak ubahnya pengulangan-pengulangan yang telah terjadi sejak zaman purba. Manusia lahir, kecil, lalu dewasa terus sekolah, kuliah, kerja, kawin, punya anak, kecil yang akan mengulang hal sama?
Ungkapan teman tadi mungkin ada benarnya. Karena manusia adalah makhluk yang dikutuk untuk memaknai. Di manapun dan kapanpun, indera manusia selalu mengalami perjumpaan dengan hal di luar dirinya. Dalam perjumpaan itu, manusia selalu memaknai apa yang ia jumpai. Termasuk kehidupan yang telah berlangsung sejak jutaan tahun silam ini.
Teman tersebut di atas memaknai hidup sebagai rutinitas yang berulang-ulang. Itu karena dia memandang hidup secara umum. Padahal kalau kita terjun langsung pada kehidupan secara lebih spesifik, tak demikian adanya. Sama halnya dengan kita melihat wilayah geografis Indonesia beberapa puluh kaki di atas angkasa. Maka yang terlihat hanya seonggok bongkahan-bongkahan hijau yang tersembul di atas perairan. Padahal kalau kita mendarat di atas bongkahan pulau-pulau itu, kenyataan akan berubah. Menjadi komplek, begitu ribet penuh perjuangan dan tantangan.
Perjuangan menjalani rute yang berulang-ulang tadi menjadi berdarah-darah. Aktivitas mengungkap makna kehidupan menjadi sangat rumit dan penuh gesekan antar sesama makhluk. Namun itu merupakan fitrah manusia. Sebagaimana kita tahu, manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan dengan berbeda-beda pola hidup, pikiran, perasaan dan lain-lain. Beda dengan malaikat, binatang, tumbuhan dan sebagainya. Mereka semua satu tipe, satu pola hidup. Serba satu, tanpa beda kecuali wujud fisiknya.
Soal mengenai hidup, adalah masalah klasik yang hingga kini tak ada jawaban memuaskan tentangnya. Dan hidup memang bengal. Kadang terasa indah, tapi tak jarang begitu memuakkan dan terlihat tak penting. Aku sering yakin, rata-rata manusia, terutama kaum awam umat beragama, memandang hidup ini merupakan ujian. Ujian yang akan mengakibatkan manusia mendapat hasil dua macam. Surga dangan segala nikmatannya, dan neraka dengan segala siksanya. Jadi kesusahan hidup coba dihalau dengan ketakutan masuk neraka.
Tapi tetap saja kehidupan ini menjadi misteri. Kenapa ada kehidupan? Apakah Tuhan merasa kesepian, sehingga menciptakan makhluk bernama manusia untuk menghibur kesendiriannya? Atau benarkah pandangan para saintis, bahwa dunia dan kehidupan di dalamnya ini hanya berupa serangkaian kejadian yang terjadi secara acak tanpa ada tujuan di balik adanya dunia?
Ketidakjelasan ini pun dimiliki manusia. Rutinitas berulang-ulang jalan hidup manusia seperti terpapar di atas adalah salah-satunya. Lalu masalah ekonomi juga menjadi hal penting yang diperebutkan manusia. Masih banyak lagi persoalan manusia. Antara lain, karena orang kaya selalu bisa menikmati fasilitas lebih daripada orang miskin, munculah pertanyaan apakah uang/harta merupakan sarana mutlak untuk menjadikan hidup menjadi penting? Pertanyaan ini dijawab tidak karena nyatanya orang kaya juga banyak yang hidup susah dan menderita secara batin.
Salah-seorang dosenku mengatakan, hidup ini menjadi penting manakala kita bisa menjadi bermakna/berarti bagi diri sendiri dan orang lain. Intinya masalah kepuasan batin. Tapi seperti apa sebenarnya yang disebut bermakna. Kadang kita merasa bahwa keberadaan kita dalam sebuah komunitas begitu dibutuhkan. Orang di sekitar kita merasa bahagia dengan adanya kita. Itulah kadang yang disebut bermakna.
Memang kadang saat kita merasa berarti bagi orang lain hidup kita terasa indah dan penting. Tapi toh, kegiatan semacam itu hanya berlalu sesaat saja. Selebihnya kita lebih banyak sendiri. Dalam kesendirian yang lebih lama inilah hidup kita kembali tak berarti. Padahal kondisi ini lebih lama dari pada saat kita membantu orang lain, misalnya.
Manusia memang benda atau makhluk yang tak henti-henti memaknai. Kegiatan memaknai itu laksana mengisi gelas tanpa alas alias bolong. Sampai kapanpun kita mengisi, gelas itu takkan pernah penuh. Dan karena itu manusia sering frustasi. Seolah tak ada hal lain yang bisa kita jalani.
Dalam hidup ini selalu ada kemungkinan dan selalu banyak pilihan. Oleh sebab itu, hidup ini takkan pernah terasa hambar. Selalu ada pilihan lain dan banyak jumlahnya. Misalnya kita terancam akan sesuatu. Kita bisa melawan atau menghancurkan ancaman itu. Atau kita bisa kabur atau juga bunuh diri agar terhindar dari ancaman itu. Satu-satunya pilihan yang tak punya kemungkinan lain untuk dipilih manusia hanyalah mati.
Sumber gambar: http://himastron.as.itb.ac.id/

Senin, 08 Juni 2009

Frustasi




Titik Jenuh, koma kejenuhan.
tanda seru tanda tanya
garis finis, finish,,, atau tengah lapangan,

Berabaring melayang bersama angin,, burung-burung dan awan
menari, tarian penghibur diri
tertawa seolah-olah

Atas tak terlihat, Bawah Kabur
diujung sana, kanan kiri hanya biru langit
termasuk di atas kepalaku,,,
karena aku terbaring,,, di angkasa
Bawahku hitam kelam, kadang ada berkas putih berkilau
kadang krumunan buasa riak laut, sepertinya...

Tak Ada yang tahu aku, tak ada yang mau peduli,, karena tak tahu,, barangkali...
Atau buat apa peduli,,
Ya, aku yakin mereka ada,,
sama sepertiku, melayang
meski mengatakan suatu kepastian mematikan
Empat tambah empat delapan

[MS Wibowo]



Senin, 18 Mei 2009

Muslim Indonesia Jangan Ucapkan Insya Allah ketika berjanji

MS Wibowo - Setiap hendak mengucapkan janji, seorang muslim biasanya mengucapkan Insya Allah. Kalimat ini diucapkan sebagai pernyataan bahwa Allah-lah Dzat yang Maha Kuasa. Selain itu, kalimat ini juga menyiratkan manusia sebagai mahluk lemah yang tak mengetahui aral atau rintangan yang akan menghadang jalan kita ke depan.
Insya Allah diucapkan setelah niat menepati janji tertancap dalam hati. Kalimat ini bisa berarti, ‘ya saya pasti datang atau ya saya bisa, kecuali ada halangan diluar kemampuanku untuk datang memenuhi janji’. Tapi umumnya, di Indonesia kalimat ini tak berfungsi demikian. Insya Allah sering menjadi pengganti kalimat ‘bisa ya bisa tidak’. Misalnya kita menjawab pertanyaan atau harapan, “Nanti datang ya?”. Jawaban yang terlontar biasanya, “ya” atau “ya Insya Allah”. Dengan mengucapkan Insya Allah, seolah-olah kita telah berhak datang atau tidak, semau kehendak kita. Padahal, dalam Insya Allah kita hanya boleh melanggar janji bila ada halangan di luar kemampuan kita.
Karena itu, bagi manusia Indonesia yang mengimani bahwa Tuhan Maha Kuasa, Maha Tahu yang terbaik buat kita, maka jangan mengatakan Insya Allah setiap berrjanji. Sebab, baik mengucap Insya Allah atau tidak, kuasa Allah tetap ada dan tak terhalang. Lagi pula, kalau kita tak menepati janji akibat hal di luar kemampuan kita, orang yang menunggu janji kita akan memahami.
Insya Allah di Indonesia tanpa sadar telah menjadi topeng kemunafikan. Kemunafikan yang kita amini bersama dengan diam-diam. Kita menyembunyikan kata ‘tidak’ dibalik Insya Allah agar seolah-olah terdengar ‘ya’. Karenanya, mulai saat ini, Jangan ucapkan Insya Allah saat berjanji, untuk menghindari tumbuhnya kemunafikan dalam diri. Bukan mendahului kehendak Tuhan. Melainkan lebih pada ketegasan kita sebagai seorang muslim, seorang Indonesia. Dengan demikian kita telah setapak menjadi bangsa yang tegas. Sekali lagi, kehendak Tuhan kapanpun tetap tak terhalang. Manakala janji kita terhalang oleh sesuatu diluar kemampuan, orang yang menunggu kita pasti akan mentolerir.

Jumat, 08 Mei 2009

Hidup Rutinitas Purba

MS WIBOWO - Seingatku, aku tak pernah, atau sangat jarang mengganggu orang. Dan aku jarang mencibir orang yang beda denganku. Baik secara penampilan, maupun pandangan. Tapi di sekitarku tak sedikit orang yang menganggapku aneh dan menganggapku Hina. Apa sebenarnya yang mereka mau? Apa mereka telah menemukan arti hidup. Yang rutenya hanya mengulang rutinitas purba?


Kecil-Sekolah-Kuliah/Sekolah-Kerja-Nikah-Punya anak-kecil lagi-Sekolah-Kuliah-Kerja-Nikah-Punya anak-Kecil lagi

APa hidup seperti itu saja......?

Selasa, 21 April 2009

Terapi Bete Ala Super Postmodern

Oleh MS Wibowo
Seri UIN Jakarta Seabad Mendatang

Tahun 2149 diperingati sebagai tahun BT (Boring Time) sedunia. Di tahun ini, sebagaimana dibayangkan kebanyakan orang 100 tahun lalu, kehidupan di dunia sudah super duper canggih. Serba mudah dan ultra mewah. Teknologi membantu manusia keluar dari segala masalah yang ada, serta selalu mampu mewujudkan impian dan keinginan.
Surga misalnya, yang pada tahun 2009 silam dikatakan ada setelah mati, ternyata bisa diciptakan di dunia dengan teknologi yang telah memadai. Tahun 2149 ini, semua gambaran tentang surga, bisa dibuat dan diadakan di dunia dengan sangat mirip sekali.
Bayangkan saja, siapapun orangnya yang menginginkan sesuatu pasti terkabul. Ingin punya mobil, tinggal pesan. Harga mobil seperti harga sebatang rokok tahun 1998 silam. Mau makan ini, itu, ada robot gratis dari pemerintah yang dibagikan ke semua warga negara. Robot ini bisa menyediakan ratusan ribu menu masakan dunia, bahkan resep masakan yang terbersit dibenak kita yang belum ditemukan oleh koki manapun.
Bidadari di surga, bisa diciptakan. Karena dengan bantuan teknologi, istri kita bisa berubah menjadi seribu macam wanita cantik. Begitu juga dengan gambaran Kitab Suci tentang surga yang di bawahnya mengalir sungai (Jannatin tajri min tahtihal anharu), bisa dibuat pula oleh manusia. Teknologi ini memanfaatkan tragedi bencana global warming yang melanda dunia pada tahun 2022. Ketika itu, hampir seluruh pulau di Indonesia terendam air laut. Namun karena canggihnya teknologi, manusia Indonesia bisa hidup di atas air, laksana istana nabi Sualaiman AS, saat menyambut kedatangan Ratu Bilqis.
Di tahun 2149 ini, nyaris tak ada keinginan manusia yang tak bisa dituruti, keculai untuk tidak mati. Tapi lama-kelamaan, setelah mencapai puncak kemauan yang tak pernah habis, manusia merasa kangen dengan rasa BT (Boring Time).
Adalah Ciputat (sebuah kecamatan/distrik yang terletak di pinggir selatan kota Jakarta) yang mendobrak semua kebahagiaan itu. Sebuah kelompok bernama Komunitas BT Abis, membuat terapi BT Super Postmodern atau Terapi BT Super Postmo. Tujuan dibentuknya komunitas ini adalah, agar manusia bisa menikmati, rasa BT, Pusing, Bingung dengan segala masalah yang ada seperti seratus tahun lalu.
Memanfaatkan bantuan teknologi pula, manusia yang ingin memakai fasilitas BT Super Postmo dihadapkan dengan berbagai persoalan dan keadaan sehingga ia akan merasa BT, Pusing, Bingung dan sebagainya. Tiap orang bebas memilih BT macam apa. Ada BT karena diputusin pacar, pacar selingkuh, nggak ada kegiatan, dihadapkan dengan berbagai pikiran, disuruh ngerjain banyak tugas oleh dosen, guru, bos dan sebagainya.
Dalam menikmati paket-paket BT ini, para BTer (sebutan buat orang yang ingin BT) tidak diperkenankan menggunakan teknologi macam apapun, supaya bisa benar-benar bingung dan tak tau harus ngapa dan gimana.
Hari berganti, kian lama komunitas ini makin banyak peminatnya. Banyak orang ketagihan dengan bermacam paket BT. Apalagi registrasinya cuma Rp.10.000 sekali BT. Namun karena keseringan memakai fasilitas BT Super Postmo ini, timbul efek negatif yang diderita para pelanggan, yaitu banyak yang kebablasan pusing terus jadi gila. Bahkan telah memakan korban jiwa bunuh diri karena tak kuat menahan rasa BT. Namun anehnya, orang-orang tak merasa ngeri tapi malah tertantang. Walhasil kisruhlah Indonesia disesaki orang-orang BT.
Pemerintah RI berusaha menenangkan kondisi ini. Tapi selama dua tahun tak mampu menemukan siapa penggagas awal ide gila itu. Akhirnya, pihak birokrasi Universitas Negeri Ciputat (dulu UIN Jakarta) tampil sebagai pahlawan. Ternyata otak sang empunya ide pertama itu adalah mahasiswa FISIP semester VII bernama Sumanso. Ditangkaplah dia. Setelah dibawa ke pos Satpam, ia dilarikan ke Polsek Ciputat untuk diintrograsi lebih lanjut. Saat ditanya, kenapa dia menciptakan ide gila itu sehingga banyak menelan korban gila? Sumanso menjawab, Biasa aja kaleeeee.

**Tulisan ini terinspirasi dari buku Blakc Interview, karya Andrea Syahreza

Jumat, 17 April 2009

Tuhan, kenapa Engkau Minta Tumbal

MS WIBOWO-Tuhan, Oh Tuhan. Engkau adalah tempat berteduh dari kegersangan dan keabsurdan hidup. Kau selalu jadi tempat meminta. Engkau tempat curhat di tiap malam sunyi. Kau selalu diharapkan memberi ketenangan dan menerangi hati hambamu.
Tapi mengapa, manusia tega menghalalkan darah manusia lainnya atas nama-Mu? Perang yang hingga kini berkobar juga atas tajuk membela-Mu. Bahkan kawan-kawan ormas Islam, yang menamakan Pembela agamamu, dengan tanpa rasa bersalah merusak rumah ibadah dan memukuli serta menghalalkan darah manusia lainnya. itu semua atas dasar mengagungkan nama-Mu ya Tuhan.
Apakah itu semua merupakan tumbal yang harus kami serahkan kepadamu demi mendapat ketentraman jiwa. Demi menghilangkan dahaga rohani, apakah kawan-kawan kami sesama manusia yang beda agama harus kami halalkan darahnya. Demi Engkau ya Tuhan. Atau kami harus menghancurkan badan ini, yang berakibat menghancurkan sekitar kami seperti Imam Samudera dan kawan-kawan? Hanya demi Engkau ya Tuhan?
Perang Palestina-Israel berkobar juga atas nama-Mu ya Robbi. Pasti Engkau tak akan mau disebut biang kekacauan dunia kan? Begitu pula hamba-hambamu. Aku yakin, Engkau ada di dalam hati setiap orang. Tak peduli agamanya. Karena agama dalam sejarahnya selalu menjadi alat politik untuk menggerakkan manusia agar saling bunuh. Dengan pedang mereka, dengan bom mereka, dengan senapan mereka dan dengan tank-tank baja.

Caleg Stress Karena Tak Kenal Tuhan

MS Wibowo-Uuuuooghhh, aku buka Facebook, ternyata banyak kawan-kawan yang sibuk ngobrolin caleg stres. Baik stres karena menang atau yang shock karena kalah.
Tapi ya sudahlah, itu tandanya calon-calon wakil rakyat kita memang tak siap menghadapi kenyataan hidup. Apalagi kenyataan bangsa yang semrawut ini. Bbeeerhhh, pasti tambah mumet.
Mereka mungkin kurang mengerti makna hidup. Bisa jadi juga karena mereka tak punya orientasi hidup yang jelas. Padahal rata-rata caleg itu orang beragama. Tapi, agama yang kerap menjadi dasar setiap individu dalam menjalani hidup, tak mampu menentramkan jiwa mereka. Sehingga sampai ada diantara mereka yang gila bahkan sampai mati.
Daripada ikutan stress membincang mereka, lebih baik kita membincang tuhan. Rabu (15/4/09) kemarin, aku mendapat jatah presentasi makalah di kelas pada matakuliah Filsafat Agama. Kami membahas tema “Aliran-Aliran Dalam Ketuhanan”. Aku menyuguhkan makalah yang isinya membahas beberapa isme ketuhanan yang ada dalam sejarah manusia. Antaralain Theisme, Deisme, Pantheisme, Panantheiseme.
Selesai melakukan presentasi, diskusi terbuka pun digelar. Tibalah kita pada pembahasan tentang bagaimana manusia mengenal atau berkenalan dengan Tuhan. Padahal Tuhan itu sendiri tak pernah memerkenalkan diri pada manusia.
Sejak lahir, manusia hanya mengenal Tuhan lewat tradisi dan doktrin-doktrin yang terpaksa harus dipercayai. Tapi dengan cara itu, benarkah manusia benar-benar mengenal Tuhan. Jika agama dijadikan pembenaran akan adanya Tuhan, tiap-tiap agama memunyai konsep ketuhanan yang berbeda. Oleh sebab itu, menurut Karen Amstrong, jika kita harus percaya bahwa Tuhan itu satu, maka konsep tentang Tuhan-lah yang tidak satu.
Para teolog yang coba memerkenalkan Tuhan lewat argumen-argumennya, tak lebih hanya berupa kecakapan berbahasa (hanya problematika bahasa). Nyatanya mereka malah terjebak dalam definisi. Dan jelas, para teolog dari masing-masing agama, berusaha sekuat argumennya untuk membenarkan agama dan tuhannya masing-masing.
Kadang mereka mengatakan bahwa manusia takkan sanggup untuk mengetahui Tuhan. Karena dzatnya sangat agung, maha besar dan sebagainya. Tuhan tidaklah seperti apapun yang kita bayangkan. Pernyataan seperti demikian secara tak langsung telah membatasi Tuhan itu sendiri. Yang juga berarti sotoy tentang Tuhan.
Untuk memecahkan masalah ini, ada tawaran yang berasal dari para kaum sufi. Umumnya mereka tak memunyai konsep tentang cara peribadatan dan ketuhanan. Namun mereka mengenal Tuhannya dengan cara mereka sendiri-sendiri (individu). Bahkan tak jarang, antara sufi satu dengan lainnya memunyai cara berbeda dalam menyatu, mendekat, mengenal dan berhunungan dengan Tuhan.
Perbedaan tersebut tak jarang terjadi dalam satu sekte atau kelompok tasawuf itu sendiri. Para filsuf muslim mengategorikan cara untuk menemukan kebenaran dengan jalan ini sebagai metode intuisi. Metode ini tak bisa didefinisikan dengan pasti. Apalagi dijabarkan cara atau langkahnya. Sebab intuisi sangat bersifat indifidualistik. Tak bisa dimengerti, diketahui atau dirasakan, kecuali oleh seorang yang menjalani itu sendiri. Ya, intuisi adalah metode huduri, yakni menghadirkan Tuhan dalam diri.
Namun apakah pencapaian para sufi itu bisa dipertanggungjawabkan? Apa jaminannya? Siapakah yang akan menjamin mereka tidak berbohong? Atau dalam arti bahwa mereka tidak akan salah?
Mungkinkah tuhan itu ada, atau tak ada? Bagaimana cara mengenalinya? Benarkah alam semesta ini bukti adanya Tuhan? Bagaimana kita bisa percaya adanya Tuhan kalau kita tak pernah kenal dengannya?
Manusia selalu ingin mewujud apa yang ia pikirkan. Contohnya, hingga sekarang banyak hal yang dulu seolah tak mungkin menjadi mungkin. Misalnya manusia ingin terbang, sekarang bisa terlaksana dengan pesawat terbang. Bisa jadi, manusia purba zaman dulu, yang merasa sebagai mahluk lemah kemudian memikirkan sesuatu dzat yang maha kuat dan menjadi penolong dari kesulitan-kesulitannya. Dan dzat itu adalah yang disebut dengan istilah Tuhan.
Karena itu, spiritualitas itu bersifat individual/personal. Tak bisa diajarkan, tak bisa disebarkan, dan tak boleh merasa paling benar atau merasa paling diridhoi Tuhan.[]

Minggu, 12 April 2009

Misteri Double Angka 22:22, 23:23, 01:01


MS Wibowo - Percaya atau tidak, hal inilah yang aku alami dalam hidupku akhir-akhir ini. Sejak dua tahun lalu, aku secara kebetuan sering melihat angka double antara jam dan menit di HP-ku, manakala aku merogohnya dari kantong.
Awalnya, aku merasa ini hanya kebetulan saja. Namun dalam sehari aku menjumpai angka tersebut sebanyak lima hingga sepuluh kali. Sehingga aku merasa aneh sendiri. Angka yang aku maksud misalnya, pas ketika aku memungut HP-ku dari kantong, entah karena ada sms, melihat jam atau cuma iseng, kebetulan pula angka menunjukan angka double. Seperti 22:22, 23:23, 01:01 dan seterusnya.
Setahun lalu, aku iseng dengan perasaan aneh menanyakan hal ini kepada seorang seniorku di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Institut. Aku menduga ia akan menjawab, ‘ah itu hanya perasaan kamu saja yang terlalu mendramatisir’. Tapi tidak. Ia justru menjawab, ‘sama aku juga sering mengalami seperti itu’. Ia juga menambahkan, berdasarkan pengalamanku, kamu akan dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sulit dan mengharuskan kamu untuk memilih. Pilihan itu akan membawamu pada perubahan yang ekstrim dalam hidupmu. Dan tentu berpengaruh dalam kehidupan yang kamu jalani. Yakin sajalah pada kemampuanmu. Begitulah jawaban pertanyaan yang aku lontarkan melalui layanan short mesege service (sms).
Apa yang aku alami itu, tak terjadi terus menerus selama dua tahun terahir ini. Ada kalanya hari-hari dan minggu-mingguku dihantui oleh jam double angka itu. Dan adakalanya aku terbebas dari perasaan aneh, risau campur galau, karena angka yang demikian jarang aku jumpai lagi. Tapi beberapa bulan lagi, angka-angka itu muncul dan kembali menerorku.
Aku tak tahu apakah ini benar atau salah. Tapi pada seringnya, ketika hari-hariku ditandangi angka-angka double itu, segera atau lambat aku akan dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit tentang dua hal. Keduanya sangat susah aku ketahui mana yang baik dan buruk. Membawa penyesalan atau sebaliknya, aku jarang bahkan belum pernah tahu.
Walau kondisi tersebut telah sering aku alami dan terpaksa harus aku jalani, tapi rasa aneh, khawatir, takut dan sebagainya selalu mengerubungi hati saat kujumpainya di HP-ku. Aku takut pilihanku salah atau bodoh, yang akan mengujung pada penyesalan dan keburukan. Telah kucoba pasrah, tapi senjata ini kupikir kurang ampuh.
Baru-baru ini, terhitung kira-kira sejak tiga hari yang lalu sampai sekarang, angka-angka itu datang lagi padaku. Aku takut. Aku telah merasa pilihan-pilihan sulit telah mengetuk pintu. Aku bingung, mana yang sebenarnya terbaik. Tolong, beri aku solusi… Disamping istikharoh, apa lagi?

Nyataku



Oleh MS Wibowo
Keteguhan ketudahnmu
Menyamankan diri dikala luka
Menyibak sedih
Menghalau duka
Menanamkan benih semangat hidup

Sejuk bagai air kehidupan
Engkaulah harapan
Memberiku asa pengobar gembira

Hanya dirimu yang bisa
Hanya dirimu yang nyata
Pernah ku menyakitimu
Pernah ku salah padamu
Tapi kau setia
Tetap setia padaku
Dengan ketulusanmu

Sejuk bagai air kehidupan
Engkaulah harapan
Memberiku asa pengobar gembira

Semua kosong terisi
Semua hampa terceraikan dari jiwa
Tetaplah bersamaku juwitaku

Abab



Oleh MS Wibowo

Dengus napas dari mulutmu membuat ingin menciumu sekarang juga
Sesekali matamu pasrah terobek pandanganku
Tingkahmu beberapa kali serba salah
Entah ada persaaan yang aku tak tahu itu apa
Jantungmu berdetak dibenakku

Sama

Dialog masih berlanjut
Kedalam yang harusnya diam
Menurutmu semua orang memerhatikan kita
Bagiku berdua
Tapi aku kalah dengan udara
Tersengat kenyamanan bila kulit ini sedikit menyentuh
Butur-butir magnet membara
Dengus napas dari mulutmu membuat ingin menciumu sekarang juga
Tapi ini udara berkuasa,
Aku tak punya arti jika
Tak boleh menentukan
Harus bersembunyi
Harus di tempat sunyi
Jika
Dengus napas dari mulutmu membuat ingin menciumu sekarang juga
Kau bukan untukku
Di sini
Dengus napas dari mulutmu membuat ingin menciumu sekarang juga

Pendekatan disingkat PDKT


MS Wibowo-Pendekatan disingkat PDKT, adalah sebuah tahapan awal yang lumrah dijalani seseorang sebelum mengungkapkan cinta pada pujaan hatinya. Berbagai macam cara bahkan teori PDKT banyak berkeliaran. Umumnya hal ini dilakukan oleh seorang pria terhadap wanita.
Hal ini dilakukan pula oleh Supriadi atau akrab disapa Dodoy. Ia tengah kasmaran dengan seorang wanita yang ia ketahui nama dan suaranya melalui temanya, Wildan. Wanita inceran Dodoy ini adalah seorang qori’ah atau wanita yang mahir mengumandangkan ayat-ayat Qur’an dengan nada-nada indah. Ia telah meraih segudang prestasi dalam Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) baik tingkat daerah maupun nasional.
Suatu hari, di kampung Wildan ada sebuah hajatan besar. Wildan terhitung sebagai salah-seorang panitia. Karena Wildan dan Qoriah tadi adalah mahasiswa di satu kampus, yakni UIN Jakarta, maka ia ditugaskan untuk menjemput Qoriah tersebut dari Ciputat ke kampungnya.
Sampai di Ciputat, Wildan masih punya waktu luang. Ia pun menyempatkan diri mampir di kamar kost Dodoy. Dodoy pun menanyakan perihal kedatangan Wildan di Ciputat. Pasalnya, itu adalah hari minggu. Tak mungkin ia ada kuliah di hari libur.
Terungkaplah bahwa Wildan hendak menjemput seorang Qoriah itu. Dodoy pun memaksa meminta nomor mahasiswi pelantun kalam ilahi itu. Tapi Wildan tak mengizinkannya. Dodoy pantang menyerah. Ia ajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai keberatan Wildan memberitahu nomor wanita itu.
“Ayolah Dan, lagian nggak mungkin gue macem-macem ma dia. Lo tahu gue kan,” harap Dodoy.
Dengan sedikit terpaksa Wildan memberikan nomor tersebut. Tentu dengan syarat agar Dodoy tak menyalahgunakannya. Selain itu, kedekatannya dengan Dodoy karena satu alumni di salah-satu Pondok Modern terbesar di Indonesia, membuat Wildan yaqin bahwa temannya tak akan menyalahgunakan nomor tersebut.
PDKT pun berlanjut. Tak disangka ternyata sang qori’ah enak juga diajak ngobrol lewat telepon. Beberapakali Dodoy rela merogoh kocek untuk membeli pulsa demi wanita dambaannya itu.
Diantara percakapan yang sempat terekam oleh memory kawan-kawannya di kamar kost, ialah saat mereka berdua bertelepon ria membincang masalah qira’at. Meski hanya terdengar suara dan kata-kata Dodoy, tapi dua kawan yang kebetulan lewat di samping Dodoy terpingkal-pingkal mendengarkannya. Berikut potongan percakapan mereka:

Qori’ah (menurut perkiraan) : Kak Dodoy bisa Qiraat juga nggak?”
Dodoy : Nggak.
Qori’ah (menurut perkiraan) : Lho, katanya alumni pesantren, kok nggak bisa Qira’at? Memang nggak ada pengajaran Qira’at di pesantren kakak?
Dodoy : Ada sih. Tapi di sana tuh, pengajaran qira’at itu, waktunya sehabis shalat magrib.
Qori’ah (menurut perkiraan) : Lah memang kenapa kalau ba’da magrib?
Dodoy : Begini, di pondokku habis magrib itu jadwalnya makan malam, jadi kakak nggak konsentrasi belajar qira’at. Makanya sampai sekarang nggak bisa.

Kamis, 09 April 2009

Shalat Sendiri Lebih Utama



Beberapa hari lalu, ketika menginap di Sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Aspirasi UPN Veteran Jakarta, seorang teman dari LPM Didaktika UNJ mengajak diskusi mengenai shalat berjamaah.
Ia menanyakan, apa sih sebenarnya inti dari shalat itu? Bukankah itu merupakan saat-saat kita berhubungan dengan Tuhan. Antara mahluk dan Tuhannya?
Pertanyaan itu kemudian menjalar ke masalah shalat berjamaah. Kenapa shalat berjamaah itu lebih diutamakan. Bahkan dengan iming-iming pahala 27 kali lipat dari shalat biasa.
Padahal kalau disadari, shalat berjamaah justru mengurangi kekhusuan dan keintiman hubungan antara mahluk dan Tuhannya. Konsentrasi yang harusnya terjadi menjadi sedikit tercemari.
Karena pertama, Dalam Shalat berjamaah seorang ma'mum, selain berkonsentrasi dan memantapkan hati serta pikiran menghadap Tuhan, ia juga harus berkonsentrasi mengikuti imam. Makmum dilarang khusu' sekhusu'-khusu'nya, sampai tak menghiraukan imam.
Kedua, pakaian-pakaian yang beraneka-ragam dari setiap makmum, apalagi terdapat tulisan macam-macam dipunggung, akan memecah konsentrasi dan melayangkan pikiran untuk membaca. Terlebih jika pemakai kaos semacam itu, berada dalam shof tepat di depan kita.
Ketiga, kadang terbersit perasaan lebih baik dari orang lain, yang itu artinya kita tidak ikhlas dalam beribadah.
Keempat, yang paling parah adalah, ketika usai shalat jamaah, tak jarang ada beberapa oknum yang memanfaatkan hal ini menjadikan ajang kampanye, baik lewat tausiyah atau selebaran dan sebagainya.
Pada zaman Nabi SAW, shalat berjamaah memang sangat dianjurkan. Banyak terdapat sabda-sabda Nabi SAW tentang keutamaan tersebut. Tapi lain dulu dan sekarang. Masa Nabi dulu, adalah masa awal-awal Islam lahir. Pasti banyak sekali goncangan dari sana-sini untuk menghambat dakwah Nabi SAW. Selain itu, karena Islam masih baru, masyarakat Arab tempo itu pasti masih banyak yang kurang paham dengan ajaran Islam.
Demi memermudah dakwah dan sosialisasi ajaran Allah SWT, maka sangat efektif Nabi menggunakan doktrin dan iming-iming pahala lebih bagi orang yang mau berjamaah. Tentu saja, hal ini agak mengesampingkan nilai ikhsan dari shalat itu sendiri.
Di sisi lain, beberapa dari ulama sufi mengatakan bahwa shalat sendiri justru lebih baik. Karena dengan itu, itu bisa lebih dekat dan khusu' menghadap kepada Tuhan.
Namun tak ada salahnya dan tak ada buruknya shalat berjamaah. Dan pasti itu bernilai positif bersyarat. Kenapa bersyarat?
Karena, umat Islam saat ini banyak yang tak mendapatkan esensi dari beragama itu sendiri. Agama justru sering menjadi alat politik. Menjadikan manusia dengan buas menghalalkan darah manusia lain yang berbeda agama. Dan Hingga kini, perang yang masih menyala adalah perang yang mengatasnamakan agama. Kenapa agama malah jadi pembuat kacau? Katanya agama itu turun dari Tuhan. Tapi kenapa menjadi sumber kekacauan dunia?
Pasti jawabannya, ya itu bukan salah agamanya, tapi salah orangnya. Lah, nyatanya para pejuang-pejuang agama itu selalu mendasarkan tindakannya atas doktrin-doktrin agama. Kenapa agama membiarkan demikian?
Agama yang terlembaga memang sangat mudah dijadikan mainan oleh politik segelintir orang. Makanya, beragama, bertuhan, itu cukuplah hubungan individu dengan Tuhannya. wallahu a'lam bishshawab.

Sabtu, 04 April 2009

Toto AR; kesetiaan Pada Seni Memertemukannya Dengan Nike Ardila



By MS Wibowo
Baginya, seni bukan hanya nafas, melainkan nyawa atau ruh dalam hayat. Ia telah mengabdikan hidupnya pada seni. Gitar, merupakan salah-satu sahabat paling setia dikala suka dan duka. Hingga kini, tak seharipun cemarinya terlewati tanpa belaian senar. Dari sentuhan mesranya, mengalun irama syahdu yang mampu meluluh-lantahkan gugusan hati manusia. “Seni itu suci, jangan menodainya dengan perbuatan dan prilaku kotor”, itulah pesan yang senantiasa ia sampaikan kepada murid-muridnya di setiap kesempatan.

Toto Budiono atau oleh para seniman sebayanya akrab dengan sebutan Toto AR. Lelaki supel dan luwes ini telah bergeleut dengan dunia seni sejak SD. Waktu itu, keterlibatannya pada sebuah acara tarik suara, membawanya lebih dalam ke ranah kedamaian dan keindahan ini. Adalah seorang guru seni SD-nya yang menyarankan Om Toto (begitu biasa ia dipanggil oleh para muridnya sekarang), agar memelajari alat musik, di samping vocal.

Bermodal gitar butut, diam-diam ia belajar gitar pada guru seninya tadi. Tiap pertemuan non formal itu,,Om Toto membawakan sebungkus rokok kretek kesukaan gurunya. Hasilnya sang guru mengajarkan tiga kord kunci, yakni A, G dan D. Tiga kunci gitar itu membawa Om Toto berani menyanyikan musik-musik dangdut yang lagi ngetrend saat itu, dalam tongkrongan anak-anak muda di kampungnya.

Perjuangan memang tak mudah. Ketika beranjak SMP, jejak awal romantisme Om Toto dengan gitar terganggu. Pasalnya, saat percumbuan dengan kekasih barunya itu berlangsung, senior-senior di kampung suka mengganggu dan menghardiknya. Jika sudah demikian, rumpun bambu belakang rumah adalah persembunyian aman untuk mengekspresikan diri dengan harmoni nada-nada.

Ketekunan dan kesetiannya pada gitar berbuah manis. Suatu ketika, manajemen (Alm) Nike Ardila mengadakan audisi gitaris pengiring tour Nike Ardila se-Indonesia. Dan kereta api jurusan Surabaya-Bandung-lah yang menjadi saksi bisu ketulusan cinta Om Toto pada seni musik.
Tiba di Bandung, ia harus mengahadapi pesaing / gitaris-gitaris handal dari segala penjuru tanah air. Usai audisi, ia pun segera angkat koper tanpa menunggu pengumuman terpilih. Dengan lepas, perasaan dan benaknya tak berharap muluk. Ia jadikan moment ini sebagai pengalaman dan kenangan yang akan hidup selama jantung berdetak.

Namun sebagaimana yang sering ia utarakan kepada sahabat dan murid-muridnya, dunia musik itu kadang bersifat mistis / penuh misteri. Apa yang akan terjadi, belum tentu bisa kita ramalkan. Satu minggu kemudian, rumahnya ditandangi surat dari Bandung. Isinya, ia terpilih sebagai gitaris pengiring Nike Ardila. Seiring itu, karirnya sebagai musisi pun terus menanjak. Dan kini, ia merupakan salah-satu gitaris terhandal di Indonesia. Tak sedikit musisi ternama yang selalu meminta masukan, wejangan dan sebagainya darinya. Walau ia lebih sering memilih kurang show up di media.

Di sisi lain, Om Toto juga aktif menjalin komunikasi dengan para seniman di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Blok-M Jakarta Selatan. Tak ketinggalan ia pun akrab dengan kalangan selebritis dan beberapa produser musik di Ibu Kota.

Sampai saat ini, jalur yang ia tempuh tak berubah, yakni seni musik. Selain mengajar hampir segala jenis alat musik dan olah vokal, baik di sekolah maupun privat untuk musisi-musisi junior dan pemula, tak jarang pula, permintaan less privat yang datang dari musisi yang sedang atau telah naik daun, Diantara muridnya yang kini belajar kepadanya adalah Apoy (Gitaris Wali Band), dan Rhaden (Vokalis @munizi Band).

Padatnya jadwal dan kegiatan itu tak menjadikan Om Toto angkat dagu. Ia tetap hidup bersahaja dan selalu ramah menerima siapa saja. Ia selalu siap menemani dan melakukan sharing pada semua orang. Setiap tamu yang sowan ke rumahnya di daerah Pondok Kranji, selalu ia terima dengan pintu terbuka.

Pengalaman dan ketulusan hati yang mendalam, dapat dirasakan setiap orang yang mendengarkan ucapannya. Di tepi lain, ia juga sosok yang humoris serta memunyai banyak cerita lucu, dari Sabang sampai Merauke yang dikumpulnya dari sahabat-sahabatnya dari berbagai penjuru tanah air pula. Anak-anak dari @munizi Band adalah mereka diantara yang sering melakukan share hingga menjelang subuh. Sepanjang sepi malam itu, cerita, wejangan, diskusi musik mewarnai kebersamaan. Tak jarang, Om Toto menyempatkan waktu bertandang ke kamp @munizi atau melihat anak-anak band itu latihan di studio.

Di usianya menjelang kepala empat, Ia telah dikaruniai dua sosok jagoan. Anak pertamanya tengah belajar di kelas IV SD. Sementara anak keduanya, masih berusia balita. Tapi bulan-bulan ini, Om Toto masih diliputi suasana duka. Karena kurang lebih dua bulan yang lalu, sang istri meninggalkannya di dunia. Istri yang begitu tabah mengarungi kerasnya hidup ini. Bahkan saking merasa kehilangan, Om Toto mengatakan telah kehilangan permata yang sangat berharga. Yang entah mungkin akan ia dapatkan lagi tidak dari perempuan manapun selain almarhumah istrinya. Semoga ia diterima di sisi Allah SWT, dengan sebaik-baik tempat dan diampuni segala dosa dan kesalahannya. Amin.

Suroto Dan Jebolnya Tanggul Situ Gintung

MS WIBOWO-Jebolnya tanggul Situ Gintung, mengingatkanku pada masa kecil dulu. Permah suatu hari, kala aku masih kelas IV SD, saat jam pelajaran menginjak masa injury time, guru kelasku menanyakan pada seluruh murid di kelas, tentang cita-cita kami nanti di masa depan. Rata-rata, semua anak menjawab dengan cita-cita tinggi, muluk, aneh hingga yang abstrak. Mulai dari ingin jadi guru, dokter, astronot, superhero hingga orang yang berguna bagi nusa, bangsa, agama dan keluarga.
Namun ada satu siswa yang jawabannya menyulut gelak tawa seluruh kelas, termasuk aku. Bahkan aku membawanya dalam obrolanku dengan ibuku. Tak hanya aku, mayoritas teman-temanku dulu mengejek cita-cita seorang teman bernama Suroto.
Giliran guruku menunjuknya untuk mengutarakan cita-citanya dengan lugu ia menjawab, “ingin jadi ili-ili (jaga tirta). Sontak seluruh kelas tertawa sembari mengejek cita-cita Soroto yang dianggap tak pantas menjadi sebuah cita-cita. Kondisi itu diperparah dengan omelan guru SD kami, yang menganggap cita-cita Suroto itu terlalu rendah. Suroto, yang bergigi agak tonggos, hanya bisa terdiam seperti kebingungan. Sesekali ia menengok kanan-kiri sambil berusaha mingkem rapat untuk menutupi ketidak-pede-annya.
Sedikit penjelasan, Jaga Tirta atau ili-ili adalah sebuah jabatan petugas irigasi, yang dipilih berdasarkan musyawarah Rukun Warga (RW). Dialah yang akan mengatur pengairan ke sawah-sawah warga. Tujuannya agar air terbagi adil dan merata. Sebab di desa dan kampung yang bermata pencaharian bercocok tanam, masalah pengairan kerap menjadi pemicu cek-cok antar warga.
Meski dipilih dan diangkat oleh masyarakat, pada prakteknya, jaga tirta atau ili-ili masih sering melakukan KKN. Ia bisa disuap atau kadang pilih kasih dalam menjalankan tugasnya. Karenanya banyak pula warga yang tak puas dan merasa terdzalimi. Hal inilah yang dialami keluarga Suroto, sehingga ia bercita-cita menjadi petugas pengairan yang adil.
Dipandang secara sederhana, sesuai dengan konteks mayoritas masyarakat desaku, cita-cita Soroto bisa jadi sebenarnya cukup realistis. Karena, kebanyakan warga desa yang hidupnya bergantung pada sebidang sawah, tak terlalu berharap anaknya akan menjadi ini itu. Mereka selalu mengajari anak-anak mereka agar pandai menggarap sawah. Selain untuk bekal di hari dewasa nanti, ini juga ditujukan untuk menggencet rasa malu kepada warga lain. Sudah umum di sana kala itu, seorang pemuda yang tak bisa bekerja di sawah akan menjadi bahan olok-olokan. Sebaliknya, seorang pemuda yang tekun dan rajin bekerja keras di sawah atau diladang, pasti pujian akan berdatangan dari mana-mana.
“Anak muda tu kaya’ si Anu tu, rajin bekerja, pintar mengerjakan kerjaan di sawah……” begitulah kira-kira pujian untuk anak yang rajin.
Sementara anak yang kurang mahir di sawah, kira-kira akan mendapat ejekan seperti ini, “Ih, si Anu tu, klelar-kleler kerjaannya, suruh kesawah nggak becus, mau jadi apa nanti kalau gede. Apalagi kalau udah nikah, mau dikasih makan apa anak istrinya?”
Dalam situasi dan kondisi masyarakat kala itu di sana, Suroto mungkin mencoba jujur. Karena sebagian besar teman kelas SD-ku saat itu memang dikemudian hari kalau tak punya atau bisa menggarap sawah dikatakan pengangguran. Meski tentu beda dengan konteks sekarang.
Bila menilik lebih lebar, Negara kita memang kurang memerhatikan atau mementingkan masalah pengelolaan air. Negara kita ini, wilayah perairannya lebih luas dari daratannya. Kalau ini dikelola dengan baik, mulai garis pantai, laut sungai dan sebagainya, pasti akan memberikan penghasilan yang luar biasa.
Ironisnya, negeri kita justru sering bermasalah dengan air. Baik pencemaran maupun tidak maksimalnya pengelolaan hingga yang murni bencana. Sebagaimana terahir jebolnya tanggul Situ Gintung yang menelan ratusan korban jiwa dan milyaran materi.
Mungkin Suroto kini telah lupa dengan perisitiwa itu. Ia kini sibuk dibawah terik mentari dan belepotan lumpur sawah. Tapi darinya ada sebuah pelajaran yang patut untuk bangsa Indonesia. Sebuah wejangan yang mengatakan, “wahai bangsa Indonesia, air itu sember kehidupan. Tapi air juga bisa menjadi sumber malapetaka. Sebab tak jarang ditemui dikampung, orang berkelahi hingga bunuh-bunuhan. Indonesia yang diliputi penuh air seharusnya bersyukur karena sember kehidupan berlimpah. Kini, dunia tengah terancam krisis air global. Tapi Indonesia malah kerap menyia-nyiakan sumber hidup ini.”

Senin, 23 Maret 2009

MUI Majelis Ulama Indonesia / Irasional

MS WIBOWO-Tahukah Anda, Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah biang keladi pemicu munculnya ajaran dan aliran sesat di Indonesia. Tapi ironis, MUI merasa menjadi pemegang otoritas kebenaran Tuhan. Karenanya, MUI selalu sewenang-wenang memfatwa sesuatu atau aliran tertentu dengan label haram, sesat dan sebagainya.
Parahnya, banyak umat Islam yang mengimani fatwa MUI sebagai pembenaran untuk melakukan kekerasan, pengerusakan, pengusiran, pemukulan kepada aliran yang difatwa sesat. Sehingga ini menambah daftar hitam MUI. Selain pemicu munculnya aliran-aliran yang difatwa sesat, MUI juga merupakan penyulut terjadinya kekerasan, keonaran dan anti perdamaian. Dialah yang mengerdilkan jiwa anak bangsa. Membuat orang anti toleransi serta penghancur keberagaman, yang telah diciptakan Allah SWT.
Mungkin sebenarnya, nama MUI lebih tepat menjadi singkatan dari Majelis Ulama Irasional, sebagaimana yang dikatakan KH. Abdurrahman Wahid. Sebab mereka sering mengeluarkan fatwa-fatwa yang tak rasional.
MUI selalu menginginkan manusia seragam dibawah pemahaman mereka, tanpa ruang gerak bebas akal untuk berfikir dan bertanya. Padahal, merupakan kodrat manusia yang berakal, untuk selalu menanyakan sesuatu. Termasuk mengenai masalah keyakinan.
Karenanya tak heran, jika muncul banyak aliran-aliran tertentu karena ketidakpuasan terhadap Islam ala MUI. Bahkan mungkin sekali terjadi kaum muslim yang berpindah agama, karena tak menemukan kebenaran dalam Islam yang tak bisa dipertanyakan dan dipikirkan.
Seharusnya MUI lebih terbuka dan berusaha dewasa menghargai karunia Tuhan yang bernama akal. Sebab dengan akallah manusia bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dengan Akal, manusia berusaha memahami wahyu Tuhan. Akallah yang telah memberitahu manusia bahwa 1 + 1 = 2. Dan itu adalah benar. Tapi MUI menyalahkannya.

Jadi Superman Biar Nggak Melanggar RUU Pornografi


-->
Jendela berengsel atas itu terbuka dengan rongga bawah yang lebih lebar. Vina duduk di mulut jendela dengan ceria. Ia mengibas-ibaskan buku tulis ke arah tubuhnya untuk mengusir gerah dan panas. Sesekali ia menggeser pantat agar duduknya berasa nyaman.
Di ruang kost pacarnya itu Vina tak sendiri. Tiga pria personel band pacarnya, berada di sana melepas lelah pasca kuliah. Sementara sang pacar sedang sibuk di kamar mandi. Baru bangun tidur dan hendak menjalankan shalat dzuhur.
Agar tak terserang mati gaya, karena menunggu pacarnya keluar dari kamar mandi, Vina meminta salah-seorang personel band lain, yang tak lain adalah aku sendiri, untuk menemaninya. Aku oke-oke saja. Kan udah kenal lama, sejak di Play Group Ushuluddin. Kami pun asyik mengobrol hal-hal yang tak penting. Kemudian Vina menyapu sekeliling ruang depan kamar dengan matanya.
“Kok di sini banyak banget stiker Batman sama KungFu Panda sih?” Tanya Vina kepadaku.
“Terserah kita dong, ini kamar siapa?” Jawabku balik dengan pertanyaan yang nggak penting.
Vina pun tersenyum kecut. Lalu ia mengatakan, teringat masa lalunya gara-gara melihat stiker Super Hero Batman tadi.
“Tau nggak Bowo, dulu aku tuh terobsesi banget jadi Super Hero-Super Heroan gitu,” kata Vina.
“Waktu masih kecil?” Tanyaku.
“Iya,” jawab Vina. Dulu tuh, lanjut Vina, aku pengen jadi Superman. Padahal aku kan cewek ya. Tapi aku nggak mau jadi Super Women. Soalnya pakaiannya nggak menutupi aurat alias pornoaksi. Aku sering mencoba terjun dari ketinggian lima meter gitu. Pas mendarat, kakiku salah posisi. Jadinya terkilir. Pas pulang dengan jalan pincang, sampai pintu langsung diintrogasi mama.
“Kenapa itu kakinya.”
“Jatuh ma.”
“Iya jatuh kenapa?”
“Jatuh aja.”
“Iya jatuh gimana, kok bisa bengkak kaya gini, memangnya ngapain aja?”
“Jadi Superman-Supermanan,” jawab Vina polos.
Kembali ke kamar kost…
Aku yang tertarik dengan kisah-kisah masa kecil seseorang pun segera bertanya pada Vina.
“Waktu jadi Superman-Supermanan itu kelas berapa Vin?”
“Kelas III SMA,” jawa Vina polos juga.
“Kelas III SMA?! Itu mah bukan masa anak-anak, itu dah gede.”
“Iya bener kelas III SMA,” timpal Vina meyakinkan dengan sedikit senyum heran kepadaku.[]

Sabtu, 21 Maret 2009

Jendil-Jendil Merah

MS Wibowo -Di Sebuah kampung di daerah Jawa, tinggal sepasang suami isri yang kaya raya. Harta mereka adalah warisan dari orang tua sang suami. Semua itu tak membuat dua sejoli tersebut lantas bahagia. Ada yang ganjil meski tinggal serumah genap berdua. Sampai pada tiga tahun berikutnya, barulah mereka dikarunia seorang anak laki-laki.
Semua cinta dan perhatian pun kontan tercurah pada anak yang begitu lucu itu. Ketawanya seakan menghancurkan penat ayah sepulang kerja.
Rasa syukur meningkat manakala terdengar sang anak bisa meniupkan kata-kata. Itu pertama kali setelah usianya menginjak dua tahun. Entah ia dapat dari mana, kata yang keluar dari mulutnya pertama kali adalah ‘Jendil-jendil merah’. Ketika beranjak tiga tahun, kedua orang tua itu bertanya pada anaknya, mau hadiah apa di ultah ke tiga ini. Sang anak mengatakan, “aku mau jendil-jendil merah.”
Kedua orang tua itu pun bingung. Mereka tak tahu apa itu jendil-jendil merah. Ditanyalah anak semata wayangnya itu.
“Jendil-jendil merah itu apa nak,” Tanya ibunda.
“Jendil-jendil jendil merah ya jendil-jendil merah,” jawab sang anak dengan polos.
Akhirnya daripada bingung-bingung memikirkan apa itu jendil-jendil merah, mereka membelikan mobil-mobilan. Beberapa bulan kemudian, mobil-mobilan itu rusak dan membekaskan luka pada anak semata wayang tersebut. Pasalnya, mainan itu hendak dipinta oleh seorang temannya. Karena tak boleh, terjadilah perebutan dan saling tarik-menarik. Ujungnya, mobil-mobilan itu patah. Sang anak menangis. Temannya pun jengkel, lalu memukulkan patahan mobil mainan itu kemuka anak tadi.
Menginjak usia 10 tahun, suami istri tadi kembali merayakan ultah anaknya. Mereka berdua pun tak lupa bertanya kepada sang anak, mau hadiah apa di ultah ke 10 ini?
Tapi anak itu, masih seperti tujuh tahun yang lalu, ia tetap meminta jendil-jendil merah. Kedua orang tua pun bertanya lagi, “Jendil-jendil merah itu apa sih nak, ayah nggak tau nggak paham.” Anak itu tetap bilang, “jedil-jendil merah ya jendil-jendil merah.”
Tetap tak mau pusing, kedua orang tua itu membelikan sepeda BMX untuk hadiah ultah anak tercintanya. Dua minggu kemudian, sang anak pulang sekolah dengan kondisi lutut berdarah. Ternyata ia baru saja terjatuh dari sepeda hadiah ultahnya.
Pada hari lahirnya yang ke-20, anak itu kembali meminta hadiah ultah “Jendil-Jendil merah”. Berhubung sang anak tak mau atau tak bisa menjelaskan apa itu jendil-jendil merah, maka ayah dan ibunya membelikan sepeda motor. Menurut kedua orang tua tersebut, hadiah motor cukup pantas diberikan untuk anaknya di usia ini. Tak lupa, motor tersebut berwarna merah, dengan harapan itulah yang dimaksud dengan jendil-jendil merah.
Dua minggu kemudian, anak tersebut harus dirawat di UGD karena jatuh dari motor. Rupa-rupanya, keadaannya cukup kritis. Kedua orang tua itupun menunggu anaknya dengan setia dan sabar.
Melihat kondisi sang anak begitu kritis, ayah dan ibu anak itu teringat akan permintaan anaknya sejak kecil hingga kini. Sebuah permintaan yang membuat penasaran. Yang hingga kini belum mereka ketahui, apa yang dimaksud ‘Jendil-Jendil Merah’.
Mereka berdua menghampiri anaknya yang terkulai ditempat tidur UGD. Sang ibu memijit-mijit tangan anaknya, sementara sang ayah berdiri sambil mengelus-elus rambut buah hatinya itu. Dengan suara pelan, sang ayah bertanya, “Nak, sebenarnya ‘Jendil-Jendil Merah’ itu apa sih?”
Kali ini sang anak mau menjawab. Ia berkata, “Jendil-Jendil Merah adalah ..” plek, anak itu tak bernapas lagi.
Akhirnya ‘Jendil-Jendil Merah’ tetap menjadi misteri bagi kedua orang tua tersebut dari dunia hingga akhirat.[]

Selasa, 10 Maret 2009

Ketika Teman Menjadi Terpuruk, Hina, dianggap Nista, masihkah kau anggap temanmu?

Pernah suatu hari, aku nimbrung dalam tongkrongan dengan kawan-kawanku di sekitar Jl Pesanggrahan. Saat itu, kondisi lagi tinggi. Ibarat di udara sedang terbang, ibarat dilaut sedang menyelam. Salah-seorang temanku bertanya kepadaku perihal seseorang yang ia anggap buruk dan tak bermoral. “eh mana tuh si ****? Kemana dia nggak berani nongol, takut? Lo mau aja kerja bareng dia?”
Mendengar pertanyaan+pernyataan itu, entah kenapa tiba-tiba aku emosi. Menurutku, akulah yang lebih dekat dengan orang yang dia jelek-jelekkan itu. Dan aku tahu orang yang mencela itu tak lebih baik dari yang dicela. Dari segi keilmuan dan pengetahuan serta jaringan dan masih banyak lagi, orang yang dicela lebih baik dari pada teman yang mencela tadi. Hanya saja, temanku yang dicela itu melakukan kesalahan yang tidak dilakukan oleh sang pencela. Dan itu pun, sepengetahuanku tak murni kesalahan teman yang dicela. Di situ aku sudah mau marah saja. Dan ingin aku pukul saja teman pencela tadi. Tapi kawanku yang lain menghalangi.
Di kesempatan berikutnya, pencela tadi mengatakan, menanyakan dan menyatakan hal serupa. Ia tambah kuat ketika teman yang kemarin menahan amarahku ikut mendukungnya.
Tapi kali ini aku jawab dengan santai, hee Eng, El, yang namanya teman itu tetap teman. Seburuk apa pun ia tetap teman gue. Teman itu, bukan hanya kalau kelihatan baik (dalam arti moral) dan menguntungkan bagi kita. Tapi disaat ia dihina orang, di saat dia terpuruk tetap teman. Lo juga, meskipun gue tau kejelekan lo, sejelek-jelek lo tetep temen gue. Bagaimanapun orang menghina lo, gue tetap menganggep lo temen. Nggak usah ngejelek-jelekin temanlah. Lihat lo sendiri deh, masih punya kejelekan kaga? Lo banyak melakukan keburukan yang tidak dia lakukan. Sementara dia melakukan keburukan yang nggak lo lakukan. Ingat, sejelek-jelek, sehina-hina teman, tetap teman.
Mereka pun nggak membahas itu lagi, sampai sekarang. Mereka baru nyadar kali kalo kita sama-sama jelek kok. kitaaaa? eLo aja kalee ama beruk.

Menyikapi pernyataan Bang Adli Badrun

Menyikapi pernyataan Bang Adli Badrun, mantan Wapresma UIN Jakarta 2005-2006. Ini hanya sekadar luapan hati tak bermakna. Yang tercecer lewat papan ketik dan layar monitorku. Senin, 9 Maret 2009 dini hari, di kamar kostku dibilangan Semanggi II Cempakaputih Ciputat.
Tengah malam, kira-kira pukul 23.00 (masih tanggal 8), ada tamu dari Malang. Dia kawanku Roli. Kami sama-sama aktivis pers mahasiswa. Aku di UIN Jakarta, sedangkan dia di UIN Malang. Kami juga sama-sama ex. pengurus.
Usai melepas kangen di warung pecel lele Cak Agung di jl pesanggrahan, pukul 12 kurang aku ajak dia dan satu temannya lagi menginap di kamar kost-ku. Kamar yang merupakan basecamp sebuah band bernama @_munizi. Tapi kawan-kawan musisi tak ada di tempat saat itu.
Sampai di kamar, tidur tak segera digelar. Kami larut dalam obrolan tentang pers mahasiswa, kondisi dan keadaan kampus, Negara dan dunia. Beberapa saat kemudian Bang Adli masuk dan aku kenalkan dengan dua tamuku dari Malang itu. Bang Adli pun ikut dalam kelanjutan obrolan kami.
Sampailah kami pada tahap membicarakan poitik kampus. Kemudian membahas para player-player-nya. Salah-satunya adalah seorang alumni pers mahasiswa dari UIN Jakarta. Saya tak mau menyebutkan namanya. Alasannya satu, nggak enak, titik. Yang jelas dia mantan ketua. Dan yang pasti lagi dia alumni UIN Jakarta.
Kami saling membahasnya dengan asyik. Sampai pada kesimpulan bahwa sang tokoh yang kami bahas ini adalah orang cerdik, licik dan licin. Namun saya langsung menutup ijtihad bahwa sang tokoh adalah orang yang selalu meninggalkan image buruk di mana-mana. Roli pun mengiyakan itu. Sebab ia juga pernah mendengar cerita tentang tokoh ini dari orang-orang pers dan juga orang-orang Pantau (sebuah organisasi nirlaba yang diantaranya bergerak di bidang advokasi jurnalisme). Bahkan salah-satu orang Pantau mengatakan hubungan pers mahasiswa UIN Jakarta dengan Pantau menjadi buruk gara-gara sang tokoh yang kami bicarakan ini.
Tak hanya itu, semua sepak terjang sang tokoh di kampus, di organisasi, baik LPM maupun UKM atau yang lebih luas lagi, selalu meninggalkan kesan buruk. Ia banyak meraih untung untuk dirinya sendiri. Terutama dari segi materi. Tapi ia selalu mewariskan ketidakjelasan dan menempelkan image buruk bagi generasi setelahnya. Sebab bagaimanapun juga, generasi selanjutnya itu, kasarnya dianggap murid-murid dia.
Namun Bang Adli bilang, itu tak jadi soal bagi Bang Adli sendiri. Baginya itu lumrah dan dapat dimaklumi, kecuali dia melakukan sebuah tindakan pelecehan seksual atau perbuatan mesum atau semacamnya.
Pembahasan berhenti sampai di sini tentang tokoh itu. Dan setelah Bang Adli tidur, baru aku teringat bahwa tokoh yang kita bicarakan tadi juga punya noda buruk terhadap wanita. Tak hanya satu. Sebagaimana saya ketahui, satu orang berinesial S merasa pernah dilecehkan olehnya. S adalah junior sang tokoh. Kemudian, ada yang berinesial NO, setelah itu NA dan sebelumnya IS.
Kesimpulannya, Bang Adli tetap benar kalau berpendapat maneuver-manuver kelicikan politik itu ia benarkan. Ya itu terserah bang Adli lah. Tapi seandainya Bang Adli tahu perihal terahir, masihkah ia akan mengatakan tokoh yang kita bicarakan benar. Lagi pula, antara politik dan kelicikan individu dan seksualitas adalah dua hal yang berbeda. Kenapa Bang Adli tadi mengungkit masalah kemesuman dan pelecehan seksual? Tanya kenapa? Terserahlah.
Dan kalau pembaca bertanya kenapa saya menulis ini, atau kenapa aku tak langsung mengklarivikasi. Jawabannya ya, gw mau tanang aja. Lagi pula, pemhasan kamarin bukan pembahasan formal atau rutin. Jadi ya kapan-kapan kalau ada tiba-tiba dalam obrolan santai membahas dia lagi, akan gw mentahkan. Hehe. Silakan berkomentar.[]

Jumat, 06 Maret 2009

Tuhan Bersemayam Dalam Diri Kita

Dalam sebuah hadits qudsi Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, yang artinya kurang lebih demikian, "Barang siapa mengetahui dirinya sendiri, niscaya dia pasti akan mengetahui Tuhannya."

Tuhan, setiap manusia beragama pasti percaya akan keberadaan dan kekuasaan-Nya. Tuhan bisa diartiakan sebagai sesuatu yg diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia. Ia juga merupakan dzat yg Mahakuasa, Mahaperkasa dan sebagainya.
Tuhan erat kaitannya dengan keyakinan, kebenaran. Atau bisa dikatakan sesuatu Yang Mahakuasa,dan diyakini kebenarannya.

Setiap manusia dikarunia akal masing-masing. Persepsi setiap orang tentang segala sesuatu pasti berbeda. Tak ada yang benar-benar sama persis. Begitu pula, Tuhan menurut keyakinan dan pandangan setiap manusia. Pasti berbeda. Walaupun berada dalam satu agamu,tiap orang pasti memikirkan, mempersepsi, bahkan membayangkan Tuhan dalam abstraksi yang berbeda. Misalnya kita sama-sama beragama Islam. Kita sama-sama memunyai Tuhan yang Satu, yakni Allah SWT. Namun Islam menurut keyakinan hati dan fikiran saya pasti tak sama persis dengan yang ada pada keyakinan dan pikiran Anda. Tuhan yang saya sembah, belum tentu sama dengan apa yang Anda bayangkan.

Mungkin kita tak akan mampu membayangkan wujud Tuhan. Bahkan dalam agama, sebagian ulama melarang hal yang demikian. Tapi otak manusia selalu berjalan dan menggambarkan apa yang ia tuju, ia sebut, ia ucap dan seterusnya. ketika kita menyebut nama Allah, sengaja atau tidak, disadari atau tidak, tulisan lafadz Allah minimal terlintas di benak kita, walau setitik debu.
Dan kalau kita berusaha berkeyakinan bahwa Tuhan itu tidak sama dengan semua yang ada di dunia dan apa yang kita lihat, tak bisa dibohongi masih ada bayangan terbersit di pikiran dan benak kita. Sekeras apapun kita tak membayangkan sesuatu apapun, pasti masih ada bayangan dalam hati kita.

Karena itu, Tuhan adalah apa yang kita yakini benar. Keberadaanya selalu kita rasakan. Ia selalu memerintahkan dan melarang kita dari dalam diri kita bagi orang yang menyadari. Ia akan menentang bila kita berbuat tak seperti maunya. kegelisahan akan didapat manakala tutunannya dilanggar. Bahagia akan diberikannya dan kita rasakan saat kita melakukan yang sesui dengan-Nya.
Tuhan, adalah Tuntunan Hati Nurani. Ia ada dalam diri sendiri. Bukan dalam orang lain. Meski kadang kenampakan-Nya pada kita melalui orang lain. Tuhan Bersemayam Dalam Diri Kita

Sailormoon Ke VI

Oleh MS Wibowo

Masa kecil kadang dilalui manusia dengan berbagai tingkah, prilaku atau imajinasi, yang tak jarang bersifat konyol. Sering pula, masa lalu itu lucu dan menggelikan. Seperti yang diceritakan oleh Titin, mahasiswa semester VIII Farmasi Fakultas Kedokteran UIN Jakarta. Selagi SD (Sekolah Dasar), ia adalah penggandrung setia serial kartun Sailormoon.
Titin menonton serial ini sejak munculnya Sailormoon I sampai Sailormoon V. Ia tak pernah beranjak dari TV setiap minggunya. Layaknya orang yang menunggu pembagian zakat massal, ia melongo ke arah TV.
Titin bangga melihat para jagoan itu mengalahkan musuh-musuhnya. Apalagi kalau Sailormoon sudah mengeluarkan kekuatan bulannya. Detak jantung yang tadinya berdebar, langsung jadi normal.
Namun yang membuat titin gelisah dan tak mau melewatkan satu episode pun dari film kartun ini adalah petuah guru Sailormoon, yang berwujud kucing. Kepada setiap Sailormoon, dari I hingga kedua sebelum akhir, guru kucing selalu mengatakan, ‘akan muncul Sailormoon berikutnya’.
Nah, kata-kata itulah yang membuat Titin menyatu dengan para pahlawan wanita tersebut. Ia yakin, bahwa yang dimaksud Sailormoon berikutnya itu adalah dirinya. Maka dia selalu menanti-nantikan kemunculannya TV.
Keyakinan Titin bahwa dirinya adalah Sailormoon telah mendarah-daging. Sebagaimana yang ia utarakan kepada ibunya. Ketika itu sang ibu marah. “Ayo belajar! Masih kecil males belajar, mau jadi apa nanti kalau udah gede?” kata ibu Titin.
Dengan enteng Titin menjawab, “Jadi Sailormoon…”
Begitulah, dan harapan tinggalah harapan. Karena hingga Sailormoon kelima, ternyata Titin tak termasuk dalam kelompok pahlawan itu. Tapi Titin belum menyerah. Ia tunggu kemunculannya sebagai Sailormoon ke VI. Tetapi belum sempat ia menampakkan diri dilayar kaca, serial kartun ini tamat. Ia pun hanya manyun menahan rasa kecewa, sambil berucap, “Yaaah, kok sudah tamat.”[]

Pesawat Tempur Pribadi



By MS Wibowo


Anda pernah kecil? Pasti. Sebab Kera Sakti yang lahir dari batu saja pada awal lahirnya juga kecil. Tapi pernahkah Anda punya khayalan ultra aneh pada masa kecil? Jawabannya mey. May be yes, may be no.
Ini kisah nyata yang telah dilalui Supriadi, gitaris @munizi Band, yang juga mahasiswa UIN Jakarta semester VIII. Saat dia berada di jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD), ia memunyai khayalan dan angan-angan yang beda dari teman sejawatnya.
Entah dari mana inspirasi itu datang. Ia berkhayal dan bercita-cita memunyai pesawat tempur pribadi. Dodoy, sapaan akrab Supriadi, segera membayangkan terbang mengitari angkasa, melakukan manuver-manuver canggih. Mendarat, lepas landas, ke sekolah dengan pesawat tempur dan sebagainya. Keinginan itu pun ia sampaikan kepada ayahnya. Sang ayah hanya tersenyum mengiyakan.
Ketika ditanya kawan-kawannya di @munizi Band, masihkah ia yakin khayalan itu akan terkabul, Supriadi menjawab, ya itu bisa saja terjadi. Kalau kita benar-benar menjadi orang super kaya di dunia, lalu mengajukan permohonan ke Negara untuk memiliki pesawat tempur pribadi. Tentu dengan syarat bayar pajak, dan tidak dilengkapi dengan senjata lengkap.
Dodoy memberi misal, dahulu ketika masih duduk di bangku kelas I SMP, ia telah sering melihat video-video gitaris dunia yang memainkan aksinya. Kala itu ia berjanji dalam hati 10 tahun kemudian, ia akan mengungguli para gitaris dunia itu. Dan sekarang di @munizi merupakan salah-satu proses memenuhi janjinya tersebut.
Itulah khayalan Dodoy. Kalau Anda, apa khayalanmu di masa kecil?

Senin, 23 Februari 2009

Pacaran

Oleh MS Wibowo
Pacaran. Dalam pergaulan anak-anak, hal itu kadang jadi bahan perbicangan untuk mengolok-olok teman. Pacaran di dunia mereka, mungkin sebatas rasa suka tehadap lain jenis. Cukup bahagia ketika berjumpa atau memandang wajah sang pujaan hati. Ditambah rasa malu, saat teman yang pernah dicurhati menyebarkan perasaan kita kepada orang lain.
Bagi teman yang mengejek atau ngecengin, pacaran memang bukan aib. Tapi merupakan perbincangan mengasikkan dalam sela-sela waktu santai. Atau sekadar cukup sebagai bahan untuk membuat malu. Malu yang tidak memalukan. Mungkin hanya karena prilaku pacaran dalam pandangan para anak-anak merupakan hal yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa.
Minggu (22/2), sekitar pukul 13.30 aku terbangun dari tidur siangku. Tidur yang aku mulai sejak pukul 11.00 tengah hari. Setelah melakukan upacara pengumpulan nyawa dengan membasuh muka dan minum air putih, aku putuskan untuk membeli beberapa batang rokok kretek dan sebungkus kopi instant. Aku memilih toko yang agak jauh dari kamar kost-ku. Sebab warung samping, tempat biasa aku beli, kebetulan tutup.
Di pertigaan lorong yang menjadi jalanku, berkerumun segerombol anak-anak usia Sekolah Dasar (SD). Mereka duduk di sisi kanan dan kiri jalan. Tiga meter sebelum aku melewati mereka, salah-seorang dari mereka berkata, ‘yang merasaaa, nggak punya pacar …, duduk!’ Kata terahir ini jatuh pas lima detik aku berada tepat di tengah-tengah mereka. Dengan cepat dan reflek yang tajam, seorang anak lelaki bertubuh gemuk di antara mereka, langsung mengacungkan telunjuk ke arahku dan berteriak, “dia!”.
Seketika aku bengong. Akukah yang ia tunjuk? Atau anak lainnya yang posisinya di belakangku? Sembari memerlambat langkah, aku lihat sekeliling. Semua anak tercengang. Tapi ada yang tertawa sambil melihatku, ada pula yang memandang anak laki-laki gemuk tadi. Ada yang ngedumel, “ih kamu nih, sembarangan aja nunjuk orang.”
Aku lihat anak yang menunjukku tadi. Dia hanya cengar-cengir sambil merasa menang karena telah memergoki seseorang yang telah punya pacar. Aku terus berjalan. Aku masih bingung, mengapa anak tadi menunjukku? Mengapa yang anak itu dan sebagian lainnya tertawa? Oh, MG, bodoh sekali aku ini. Aku baru ingat apa yang tadi barusan dikatakan sang komando, ‘yang merasa nggak punya pacar duduk’. Aku kan nggak duduk. Berarti aku punya pacar.
Sialan, kataku dalam hati. Ingin ku pelototin saja anak tadi. Mau tahu juga aku, bagaimana reaksi dia. Ngajak berantemkah dia karena merasa tidak salah? Atau bagaimana? Tapi sudahlah, masa aku balik kanan menuju nyamperin mereka. Toh mereka hanya anak-anak ingusan yang belum tahu apa itu pacaran. Walau mungkin arti cinta yang mereka pahami, lebih murni daripada pemahaman orang dewasa.
Sampai di toko, aku masih memikirkan kejadian barusan. Saat aku berjalan pulang ke kamar kost-ku, aku akan melewati jalan yang sama. Aku mau perlihatkan muka kecut pada anak-anak tersebut. Wabilkhusus pada si gemuk tadi. Namun sampai di gang itu, mereka telah menghilang. Mungkin takut aku membalas perlakuan mereka yang telah memermalukanku. Takut melihat mukaku yang sejak sore kemarin belum mandi. Atau juga mungkin mereka pacaran dengan pasangan masing-masing. Karena dalam gerombolan tadi terdiri laki-laki dan perempuan. Ya terserah mereka. Aku cuma bilang, kali ini bukan dalam hati, tapi otakku, ‘wallahu a’lam bishshowab’.

Rabu, 18 Februari 2009

Zombie


MS Wibowo

Aku adalah mayat hidup. Zombie, ya zombie. Waktu dengan sadis telah membunuhku. Detik-detik yang terus membentakku, merupakan serpihan-serpihan tajam. Lama kelamaan menyatu, kokoh dan menjadi besar. Mereka menjadi menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, windu dan dasa-dasa warsa.
Jam itu menjadi pisau. Perlahan ia menjadi samurai, baik dengan atau tanpa persetujuanku. Kekejamannya menusukku, menebasku, menamparku dan mengoyak jiwa dan raga. Aku hanya terpaku. Kadang terkapar, kadang bersimpuh memohon ampun. Tak jarang pula aku melawannya, walau aku lebih sering tersungkur akibat kebodohan yang tiada batas.
Aku juga kerap berdamai dengannya. Ia kadang menyenangkan. Ia memberiku kebahagiaan manakala aku mau dibantainya. Tapi yang dia kasih tak selalu sesuai dengan kondisi dan waktu inginku. Ia gila kekuasaan, ingin selalu ditaati, kolot dan merasa benar. Aku pernah bertaruh dengannya mengenai suatu hasil kebenaran dari rencana kami masing-masing. Ia lebih sering benar. Aku juga tak selalu salah.
Aku mahluk lemah. Telah sering kalah. Sangat kurang memiliki kemampuan menaklukan segalanya, termasuk menghajarnya. Aku ingin sekali membantingnya, meninju dan menghempas-hempaskan serta membentur-benturkannya di permukaan batu cadas.
Dibandingkan aku, dia lebih berpengalaman. Ia tidak hidup tapi Ada. Ia berkuasa sejak adanya Ada. Kata orang ia bisa dikalahkan, tapi bagiku susah. Ingin ku menghindarinya, tapi kemana aku harus lari. Haruskah aku sembunyi di dalam kantong plastik? Ah masa iya?
Beberapa orang mengikuti langkah sejarah. Mereka menghajarnya dengan berjamaah, berkoloni dan berkelompok. Mereka yakin, kekelompokan itu akan memhempaskan jeratannya. Tapi…, aku orang yang mental dari hampir semua kelompok. Di kelompok ini aku dianggap musuh, yang lainnya menganggapku mata-mata. Sementara kelompok lain lagi tak memercayaiku dan menganggap penghianat.
Kelompok yang bersedia menampungku ada, tapi aku belum temukan di sana bangku empukku untuk sedikit berlega napas dari pertempuranku dengannya. Padahal ia terus mengejar dan menyerangku. Syaraf lelahnya telah tiada. Tiada sebelum adanya ketiadaan. Juga sebelum adanya Ada.
Tampilanku sangar. Membuat orang yang memusihiku kalang-kabut melihatku. Aku dituduh mampu memersatukan dunia oleh para pecinta penindasan dan penjilat kekuasaan. Aku dituduh berkekuatan dahsyat.
Kawan-kawanku yang lain jauh menyendirikanku di pinggir jalan ini. Mereka naik jet. Melesat. Ya sudah, itu mereka. Aku doakan semoga mereka melesat sambil meleset. Tapi itu nggak baik. Aku biarkan saja. Aku di sini, dibantai waktu dengan damai. Aku masih punya teman yang sayang padaku. Aku tak tahu sedalam apa rasa sayang itu. Banyak mereka mengenalku dan menyukai kelebihanku. Sehingga seperti kata ST 12, satu jam saja mereka telah bisa sayangi aku aku aku. Tapi bagaimana kalau mereka tahu kurangku. Pasti mereka kaget.
Waktu lebih dewasa, aku masih sering kekanak-kanakan. Ia tak perlu membaca situasi, tak perlu mengenali diri. Ia mungkin telah tahu kapan ia akan berhenti dan tempat pemberhentiannya. Aku belum. Usaha demi usaha sering aku coba. Koloni demi koloni telah aku gauli. Tampaknya aku harus mengempurnya sendiriaan. Entah bisa atau tidak. Walau kata para presentator MLM pasti bisa!. Aku belum diketemukan, tapi waktu telah menemukan. Ya aku adalah zombie. Mau ikut-ikutan jadi zombie. Atau mau membentuk komunitas zombie Indonesia? Terserah. Aku akan mendukung. Dukungan paling kecilku adalah restu.[]

Kamis, 05 Februari 2009

Cinta Cap Baterai III


Begitulah, masa pacaran Adi dan Nova tak selalu dibarengi kesamaan dan kesetaraan. Banyak perbedaan yang sering berbenturan. Tapi bagi dua pejalan asmara, itu adalah bumbu penyedap rasa cinta. Ketimpangan yang agak mencolok, terdapat pada motivasi serta visi misi pacaran, Nova menganggap dan sangat berharap jalinan kasih mereka berbuah pelaminan. Sementara Adi masih merasa bahwa hubungan mereka hanyalah sementara. Ia hanya tak mau masa mudanya dilewati tanpa romantika cinta.
Di samping itu meski Adi lebih tua umurnya, tapi jenjang pendidikan Nova lebih tinggi. SMA, sembari mengabdi/mengajar di almamaternya, Nova kuliah D3. Sedang Adi masih nganggur setahun, dalam arti belum nerusin kuliah pasca lulus. Baru tahun berikutnya ia memutuskan hijrah ke Jakarta, kuliah di Jurusan Perbankan Syariah UIN Jakarta.
Satu minggu menjelang keberangkatan ke Jakarta, di sebuah kafe tempat biasa Nova dan Adi menghabiskan waktu pacaran, Adi memutuskan tali cinta secara sepihak. Alasannya sudah pasti, mau kuliah ke Jakarta. Itu doang. Tentu saja Nova tak bersedia putus. Menurut Nova itu bukan alasan yang rasional. Jarak tak bisa memisahkan cinta. Seketika itu pula Nova menangis sendu, memohon Adi agar mengurungkan niat pemutusannya. Adi tetap keukeuh. Sambil menahan rasa malu dan tak enak pada pengunjug sekitar karena tangisan Nova yang begitu keras, Adi menarik tangan kekasihnya dan mengajak keluar kafe dengan penuh rasa bersalah. Puluhan tatap mata yang membidik mereka tak dihiraukannya.
Motor segera tancap gas. Sampai di sebuah halte, kurang lebih berjarak 1KM dari kafe, Adi berhenti. Tangis Nova belum surut. Adi coba menghentikan isakan Nova. Tapi tak berhasil. Selanjutnya Nova berlari pergi menghampiri sebuah angkot sambil mengucap kata, "Sampai kapanpun, Aa Adi tetap pacar Nova. Nova tak mau menikah kecuali sama Aa Adi. Aku akan menunggu Aa Adi sampai kapan pun.
Enam hari berikutnya pra keberangkatan Adi ke Jakarta, Nova selalu datang ke rumah Adi. Saking seringnya Nova menemui Adi dan terlihat tak mau kehilangan cowoknya itu, ayah Adi sampai bertanya, "Sudah kamu apain aja cewek ini, sampai begitunya ia tak mau lepas dari Adi?" Dalam kesempatan enam hari itu pula Nova mengutarakan bahwa tak masalah di Jakarta Adi selingkuh atau punya pacar lagi. Asal Nova jangan diputusin. Dan kelak akan kembali lagi pada Nova. Adi tak komentar.
Sampai di Jakarta, memasuki hari kuliahnya Adi sengaja tak pernah menghubungi Nova. Tapi wanita itu hampir tiap hari menelepon dan sms ke Adi. Meski respon Adi tak bersahabat, Nova tetap setia. Beberapa bulan kemudian, Adi ganti nomor HP agar Nova tak menghubunginya. Namun Nova selalu mencari tahu seputar keberadaan Adi. Ia sering bertandang ke rumah orang tua Adi. Ia juga tetap menjalin komunikasi dengan teman-teman Adi.
Kehidupan Adi di Jakarta nyaris datar-datar saja. Selain kuliah, kesibukannya hanya bermain musik. itu hobinya. Bersama teman satu alumni pesantrennya, ia membentuk sebuah band. Rute pola hidupnya berputar antara kelas, gitar dan kamar kostnya. Itu saja. Hingga sampai pada suatu senja dalam jarak setahun berikutnya, HP Adi berdering. Dilihatnya nomor asing berkelap-kelip dilayar HP.
"halo, assalmualaikum," sapa Adi.
"Wa'alaikum salam wr. wb. ini benar dengan kak Adi?" tanya Nova.
"Iya benar, ni siapa ya?"
"Ini Nova kak."
"Nova, yang mana ya? fakultas apa? anak UIN bukan?"
"Ya ampun Nova pacar kak Adi, gimana sih sampai lupa."
"oh Nova, apa kabar? Sekarang udah lulus kan? Kerja dimana?"
" Ngajar di SMA 2 Kak."
"Tau nomor kakak dari siapa?"
"Dari papa kak Adi. Kak, ada yang mau Nova obrolin nih."
"Soal apa?"
"Begini kak, Nova dilamar sama orang, sama PNS juga."
"Baguslah, terus apa masalahnya, nikah ya tinggal nikah aja," kata Adi sedikit lembut.
"Tapi Novanya nikah sama kak Adi doang"
Sejenak sunyi. hanya suara desisan dalam HP yang terdengar. Adi bingung harus berkata apalagi tuk meyakinkan bahwa dirinya telah menutup hati untuk Nova. Akhirnya Novalah yang memecah kesunyian itu, "gimana kak? kakak mau kan nikah sama Nova?"
"Nova, kakak kan udah bilang jangan mikirin kakak lagi. ya sudah terima saja lamaran itu, Nova nikah aja."
"Nggak mau, maunya sama kak Adi saja, titik."
"Eh, Nov, sebenarnya kenapa sih? apa yang Nova harapkan dari kakak?"
"Nova nggak ngarepin apa-apa, cinta Nova cuma buat kak Adi."
"Nova..., kak Adi ini tak seperti yang Nova kira, kakak ini pemabuk, suka maen cewek, cewek yang gak bener lagi. Mang mau Nova nikah sama pemabok dan pezina seperti kakak?"
"Gak pa pa, mang kenapa. Nova mau menerima kakak apapun adanya. Meski kak Adi telah menjadi bekas sepuluh wanita atau berapa pun, Nova tetap mau menerima kakak," tegas Nova.
Adi bingung, tak mampu berkata apa-apa lagi. Dalam hati hanya terpikir, "Gila nih perempuan."
Tak lama, Nova pun bersuara, "Kak Adi, aku tuh kalau melihat HP selalu ingat kakak."
"Mang ada apa dengan HP?" tanya Adi.
"Masih inget nggak waktu kita jalan-jalan, terus baterei HP Nova lowbat?"
"Oh ya, yang terus aa belikan baterei itu?"
"Iya A, sampai kapanpun, HP ini nggak akan Nova jual. Kalaupun terpaksa harus dijual, tapi baterainya akan tetap Nova simpan."
Obrolan pun mengarah pada masa lalu. Berdua hanyut dalam kubangan memory, yang bagi Nova, begitu indah. Tapi tak terlalu indah bagi Adi. Ia tak mau mengingat-ingat lagi masa-masa itu, sebab hanya akan membangkitkan rasa bersalahnya.
Beberapa minggu setelah kejadian ini, Adi ganti nomor HP lagi. Sudah tau kan apa maksudnya, agar Nova tak menghubungi dia. Lima bulan berlalu, Nova kembali mendapatkan nomor baru Adi, serta mengutarakan hal yang hampir serupa dengan sebelumnya. Bedanya ia mendapatkan nomor ini dari Syaikhu, teman lama Adi dan Nova. Dalam kesempatan ini, Nova kembali mengutarakan perihal lamaran seseorang pria yang ditolaknya. Itu semua hanya demi menunggu Adi. Tapi Kekerasan hati Adi tak berubah. Ia tetap meminta Nova menjauh dari hidupnya.
Hal yang sama terjadi hingga kali ketiga, saat Nova dilamar oleh seorang pegawai di instansi pemerintah daerah tingkat II. Adi yang keras kepala, dan entah alasan apa ia tetap tak mau menerima panggilan cinta Nova. Ia membentak Nova, "Ya sudahlah terima aja lamaran itu, emang kamu mau jadi perawan tua hanya karena nungguin aku? Mulai detik ini, nggak usah nghubungin aku lagi. Jangan ganggu kuliahku, aku baru semester V, kamu kan udah lulus." Obrolan terputus. Dan Nova pun tak pernah lagi muncul di log panggilan HP Adi.
Setahun berikutnya, setelah Adi menginjak semester VII, ia mendengar kabar dari Syaikhu bahwa Nova telah menikah. Adi pun lega. Tapi di saat itu juga Adi mulai merasa jenuh dengan rutinitas kehidupannya yang monoton. Ia pun sering iri melihat kawan-kawannya yang bergandeng mesra dengan pasangannya. Dan Adi sering gondok jika melihat seorang kawan yang sering gonta-ganti pacar. Ia berfikir, "Alangkah mudah mereka mendapatkan pacar. Sementara ia selalu gagal setiap kali PDKT sama cewek. Alhasih, ia belum pernah merasakan madu asmara selama kuliah di UIN Jakarta.
Suatu malam Adi dalam kondisi BT akut. Ia datang ke kamar kost temannya. Di sana ia curahkan seluruh kegerahan jiwanya. Ia butuh kasihsayang seorang kekasih. Tapi kenapa selalu saja ada halangan dan gagal sebelum mendapatkan pacar. Kepada kawannya itu Adi juga menceritakan kisah cintanya dengan Nova. Sang teman akhirnya mengambil kesimpulan bahwa mungkin Adi kena karma dari Nova. Adi disarankan untuk meminta maaf pada Nova.
Selama dua minggu lebih Adi memikirkan saran temannya tadi. Ia tak percaya adanya karma di dunia. Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin juga itu bisa terjadi. Dan tak ada salahnya meminta maaf ke Nova. Dicarinya segala informasi tentang Nova. Ia menelepon Syaikhu untuk meminta nomor HP Nova. Namun Syaikhu malah marah-marah dan meminta Adi, sekarang jangan ganggu Nova lagi. Ia sudah punya suami. Syaikhu pun tak mau menerima apapun alasan Adi. Tapi setelah melalui perdebatan sengit, serta Adi berjanji setelah menelepon Nova akan menghapus nomor Nova, akhirnya Syaikhu memberitahu nomor Nova. Setelah itu juga, ditelponlah Nova.
Tuuut, tuutt, tuuut "Halo assalamualaikum," sapa Nova lembut.
"Nova?" tanya Adi.
"Ya betul,"
"Ini Kak Adi Nov,"
"Adi? Adi siapa yah,"
"Adi, masa lupa sama Aa," sambut Adi penuh penasaran, heran dan sebagainya. tak menyangka bahwa Nova telah lupa dengan namanya.
"Iya, Adi siapa? teman bang Roni? tanya Nova sambil menyebut nama suaminya.
"Eem, Nova masih inget nggak dulu HP Nova pas lowbat, terus siapa yang membelikan baterey?"
Hening sejenak. "Oooh kak Adi itu,"
"Iya, pa kabar Nov?"
"Tau nomor Nova dari Syaikhu ya?" tanya Nova tanpa ekspresi.
"Iya,"
"Terus ada apa nih kak, tumben-tumbenan mau menghubungi Nova,"
"Enggak, cuma mau minta maaf aja. Kakak merasa punya dosa sama Nova, maafin kakak yah,"
Sunyi menguasai gagang HP keduanya. Tak ada suara. Adi hanya menunggu jawaban Nova. Tampak dalam bayangannya, Nova tengah memandang ke depan dengan tatapan kosong. Adi mencoba memecah kesunyian itu. "Nova masih ingat baterai yang kakak beliin dulu nggak?" tanya Adi.
"Eem, iya. Tapi udah Nova buang," jawab Nova dengan ekspresi kejengkelan
"Berarti Nova udah benar-benar melupakan kakak Adi yah?"
Nova mendesah dan diam sejenak. Lalu ia berkata, "Tapi..."
"Tapi kenapa?" tanya Adi
"Tapi...."
"Nova udah nikah kan," sambut Adi seketika.
"Ya, dan Nova mungkin nggak akan bisa ngelupain Kak Adi kalau Nova tidak menikah."
"Ya Nov, karena itu kakak mau minta maaf. Selama ini kakak selalu gagal ngedapetin cewek pasca putus dari Nova. mungkin kakak kena karma dari Nova. Maafin kak Adi ya,"
Nova hanya menjawab pendek, "Ya."
"Terima kasih Nov, semoga bahagia selalu bersamamu dan suamimu serta keluargamu," kata Adi.
Di balik HP Adi, terdengar lirih Nova menjauhkan gagang HP-nya. Terdengar Isak tangisnya dari kejauhan.
"Nov, Nova, Nova," panggil Adi.
"Ya," jawab Nova tampak menahan air mata.
"Udah dulu ya, maaf telah membuat Nova sakit, dan maaf kalau telah mengganggu. assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Telpon terputus. Dan sesuai janjinya Adi langsung menghapus nomor Nova dari memory phone-nya. Tak berapalama Adi menghubungi Syaikhu dan menceritakan semua kejadian yang baru terjadi. Adi pun minta maaf dan berjanji tak akan mengganggu Nova lagi.

Begitulah kisah nyata ini. Hingga sekarang, mahasiswa angkatan 2005 ini belum mendapatkan kekasih kembali. Terahir PDKT-nya kandas, karena wanita incerannya, yang saat itu udah deket ama Adi, ditikung orang saat menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Sukabumi. Tamat

Sumbr gambar :
pattiro.net/blog/?p=37
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html