Senin, 08 Agustus 2016

Iblis

Iblis datang
Iblis menghilang
Iblis datang bisa lewat apa saja
Iblis makhluk kesepian yang mencari hiburan
Iblis tak bisa tertawa itulah yang membuatnya menderita
Iblis hanya mampu menertawakan
Karenanya
Iblis datang dengan kesombongan yang memesona
Iblis mengolok-olok dan menantang manusia
Iblis tak henti-henti mengajak dan menggoda
Iblis kadang memelas mengiba merasakan derita bersama targetnya
Iblis punya tujuan agar manusia sama seperti dia
Tabiatnya
Iblis mengajak bersama menjalani segalanya
Iblis baru akan berhenti ketika yang mengikutinya telah jauh dari jalan semula
Iblis tidak bertanggungjawab atas segala yang telah dilakukan oleh manusia
Iblis hanya punya dua saran, tetaplah menertawakan mereka yang tertipu mengikuti kita
Iblis datang dengan aneka rupa
Iblis kadang menyerupai manusia
Iblis juga meminjam  tubuh, mulut, tangan, barang milik kolega
Iblis juga bisa menyelinap lewat celah pori rambut dan bersarang di kepala

Dua karakter Iblis ialah sombong dan tidak bertanggungjawab. Dua karakter itu mampu memperdaya emosional setiap manusia untuk terpana, takjub, heran dan bertanya-tanya. Penasaran lalu tanpa sadar mengikutinya. Setelah terjerumus dan menyesal, Iblis baru memperlihatkan seringainya. Ia tertawa dan berkata, aku tidak bersalah apa-apa. Semua yang kamu lakukan jadi tanggungjawabmu. Itu bukan tanggungjawabku. Semua salahmu, bukan salah temanmu, tangan temanmu, mulut temanmu, atau barang temanmu. Tentu juga bukan salahku. Ini sudah menjadi pekerjaanku sejak jutaan tahun yang lalu.

Kebenaran Tak Pernah Terungkap


Tidak ada kebenaran. Jika pun ada, ia merupakan sesuatu yang tidak terungkap. Semua keterangan tentang kebenaran tak lebih hanya sesuatu yang dianggap atau diyakini benar.
Jika sampai kau mati-matian membela keyakinan itu, apakah ya bahwa kau benar-benar membelanya?
Bukankah itu sekadar keyakinan yang baru akan terbukti benar pada suatu saat nanti?
Entah kapan kau akan jumpai. Jangan-jangan kau hanya membela diri sendiri. Karena ketika kau telah menjumpai kebebenaran, bisa jadi kau akan lenyap bersamanya tak terbaca oleh semua. Bisa saja.

Kamis, 04 Agustus 2016

Rabu, 20 Juli 2016

Rabu, 29 Juni 2016

Cara ketoprak setan memberi pengumuman lewat bisikan.


Legoso - Ceritanya saya lagi di Kediaman Rumah Legoso (KRL). Tiba-tiba saya suntuk, kemudian membanting tubuh ke springbed. Lalu terpikir, makan atau minum apa yang bisa membuat pikiran fres?
"Ketoprak Setan," kata suatu bisikan di otak saya.
Setelah mengambil dompet, mengenakan jaket, saya bergegas ke warung ketoprak setan, yang tak jauh dari KRL.
Tumben sepi. Oh, sepertinya baru buka. Tapi piring-piring untuk meracik sajian sudah terjajar.
"Lebaran pulang pak?" tanya saya ke bapak penjual yg biasanya ditemani istrinya.
"Nggak."
"Kalau nggak pulang, leberan ke berapa Pak (warung) buka lagi?"
"Hari kedua lebaran paling udah buka. Tapi buka pagi, nggak malam lagi. Kami sudah enam tahun buka malam, nanti sehabis lebaran mau buka pagi," ungkap si Bapak mengumumkan.
Di benak saya ada yang berbisik, 'umumkan...!! Umumkan lewat medsos...!!!'

Rabu, 22 Juni 2016

Bapak Tua Penjual Arah 2


Hari masih terang. Mentari yang condong ke barat menurunkan derajat panasnya. Aku memandangi kegiatan bapak tua penjual arah melayani pembeli atau pengunjungnya. Mereka berasal dari suatu tempat yang entah dan hendak bergegas menuju entah. Di tempat ini mereka butuh arah. Karena salah satu langkah bisa berarti seribu tahun di belahan dunia lainya.
Bapak tua penjual arah itu amat bersemangat ketika ada pembeli. Tak sekalipun matanya mengarahku ketika asyik melayani. Ia hanya menyambangi tempatku, yang hanya berjarak lima langkah dari lapaknya, ketika sedang sela atau sepi sekadar untuk menikmati secangkir kopi.
Ia tak pernah menanyakan personalku, keberadaanku, tujuanku, asalku dan sebagainya. Kita hanya  mengobrolkan seputar orang-orang yang lewat di depan mata. Mereka tingkahnya aneh-aneh. Juga penampilannya. Juga jalannya. Ada yang sendiri, ada yang berdua, ada juga yang bergerombol. Ada yang saling bercanda tertawa terbahak-bahak, ada yang saling caci, berdebat, bahkan berkelahi. Ada yang mesra, ada yang mesum, ada yang datar-datar saja. Tentu ada yang kelelahan seperti kehilangan harapan.
Tak jarang di antara mereka mampir memohon atau menawari minum. Lalu saling berbincang tetang apa saja. Tentang rindu dan air mata atau tentang diri kita masing-masing. Pastinya aku berpikir dan berperasaan bahwa mereka kian hari kian asing. Bukan karena mereka belum pernah kujumpai, tapi tiap orang yang kemudian menetap di simpang jalan ini selama beberapa hari, tambah waktu pun tambah tak kukanal. Jiwa dan tubuh mereka seperti disepuh angin. Berubah per detiknya. Dari yang mulanya tampak akrab dekat dan seakan kerabat karena teman senasib seperjalananan, berubah menjadi orang yang sama sekali lain tak kutahu.
Aku tak tahu bahwa apa dan siapa aku di benak mereka. Tapi aku masih ingat pertama kali kami jumpa, menikmati kopi dan menghisap satu batang rokok untuk ramai-ramai, pernah ada juga yang berdua.
Sudahlah. Bisa jadi bukan mereka yang berubah, tapi aku. Hanya saja aku tak tahu berubah bagian mananya hingga mereka tak mengenalku lagi.
Tapi bukan saja mereka, bapak tua penjual arah juga begitu. Ia menjadi sangat cuek sudah lama ini terhadapku. Seolah kita tak pernah saling seduh kopi. Baiklah kalau begitu.
Maka, di suatu senja, ketika Bapak Tua hendak menggulung lapaknya, aku mengendap-endap di antara pejalan yang lewat, lalu menyelinap, menggerakkan kilat tangan kiriku mengambil selembar peta. Sukses.
***
Malam kian hitam. Aku pandang perhatikan pelajari penuh teliti dan seksama kode-kode peta curian itu dengan penerang lilin hadiah seorang pejalan yang sekarang ada di entah.
Setelah pusat gelap berada di atas kepala, kuputarkan cahaya lilin menerangi batas lingkaran di tanah yang aku buat dengan ranting untuk membatasi wilayah kekuasaanku. Aku hapus dengan telanjang telapak kaki. Aneh, setiap kali kugesek, gurat lingkaran di tanah itu muncul lagi. Kuhapus lagi, muncul lagi.
Akhirnya aku bosan dan begitu saja melangkahi lingkaran. Aku tinggalkan dengan perasaan hilang. Sedih sekaligus lega meninggalkan kalangan yang aku diami selama sejak bertahun-tahun silam. Aku berjalan mengikuti jejak peta. Hingga lelah dan tiba di suatu tempat yang sama sekali baru ketika matahari telah setinggi galah.
Sebelum benar-benar lunglai tak sadar, kupastikan aku telah keluar dari garis lingkaran di tanah yang kubuat dengan ranting untuk membatasi wilayah kedaulatanku. Kupandangi sekitar semuanya memang betul sudah baru. Tidak ada lagi pepohonan yang dihuni oleh cicak, tokek, dan burung-burung liar. Hanya gedung-gedung tinggi menjulang tanpa jiwa. Beratus atau beribu tahun lagi mereka pasti juga akan tiada.
“Baiklah. Aku sudah jauh dari tempat semula,” benakku sebelum terlelap kelelahan di pinggir jalan.
“Peta, peta, arah, arah...! Peta, peta, arah, arah...!!!” pekik suara mengejutkanku. Matahari hampir terbenam. Sekerumunan orang dengan pakaian jaket, sweater, flanel warna-warni berkumpul mengerubuti suara itu.
“Sial. Bapak penjual arah?! Aku belum beranjak dari tempat semula! Ngepet!”
Tiba-tiba gaduh serine membuyarkan kerumunan. Mereka tunggang langgang, namun begitu 100 meter kemudian berjalan melangkah biasa saja. Seolah tak pernah berniat membeli peta. Tiga orang petugas berlari beringas menghampiriku. Tapi bukan untuk menangkapku. Ia mengincar bocah kecil yang mendekap bergulung-gulung peta di dadanya dan bersembunyi di belakangku.
“Kamu orang asing?” tanya salah satu petugas itu. Anak penjual peta menggigil ketakutan di kakiku.
“Iya pak. Saya baru datang di kota ini semalam.”
“Kamu kenal anak itu?”
“Iya pak. Dia penjual ...,” belum selesai kalimatku, anak tersebut mencengkeram betisku.
“Kopi,” lanjut mulutku tanpa kusadari sebelumnya.
“Lalu apa itu ditangannya?”
“Teremos isi air panas untuk menyeduh kopi, pak.”
Tiga petugas itu tanpa memeriksa lalu bergegas menuju mobil patroli. Membunyikan sirene memekakkan telinga. Lalu hilang.
“Mana si bapak tua penjual arah?” tanyaku. Bocah itu mengernyitkan dahi tanda tak tahu apa yang kutanyakan.

“Baiklah. Kamu penjual peta yang jujur?” tanyaku pada bocah kecil yang masih menggigil ketakutan.

Selasa, 21 Juni 2016

Bapak Tua Penjual Arah


“Sejauh-jauh perjalanan hanya untuk kembali.”
Entah sejak kapan kalimat itu sering terngiang di kepala. Namun aku terus mengayunkan kaki. Melangkah menuju entah. Menyusuri jalan yang kapan aku tak tahu akan berujung.
Hawa siang kian hari kian terasa panas. Debu-debu menyesak hidung, melekat menutup lobang-lobang pori. Burung, cicak, tokek, dan binatang-binatang hinggap di satu dua pohon yang kulewati. Mereka makin asing. Orang-orang yang kujumpai di jalan ini juga tambah ke sini tambah tak kukenal. Semua seakan menatapku penuh tanya, curiga. Mungkin mengira aku adalah agen intelijen dari suatu masa yang dikirim untuk melakukan tindakan mata-mata terhadap zaman mereka.
Aku lupa menghitung malam. Berapa sudah yang kulalui hingga sudah pagi lagi. Dan di sore senja. Saat remang-remang cahaya surya mulai memoles awan, aku memutuskan untuk berhenti di sebuah simpang jalan. Seorang penjual arah tengah bersiap pulang. Barang-barang dagangannya telah dikemas.
“Permisi.”
“Iya. Maaf, saya sudah tutup. Besok pagi saat mentari setinggi galah, kembalilah,” ujarnya.
“Tapi Bapak, saya seorang pejalan. Apa jadinya kalau saya berhenti di sini hanya menunggu Bapak sampai besok pagi?”
“Tidak jadi apa. Sekarang sangat susah menemukan penjual arah yang benar dan ikhlas. Terserah kalau Nak ingin tetap berjalan. Saya tidak bisa melarang.”
“Tapi bagaimana saya tahu tentang penjual yang ikhlas atau tidak, Pak?”
“Ya, memang susah. Tapi saya tetap tidak bisa melayanimu sekarang. Saya harus pulang. Anak istriku menunggu untuk buka puasa bersama.”
“Baik Pak. Kalau begitu selamat berbuka bersama keluarga.”
“Iya, Nak. Hati-hati di jalan. Saya pulang duluan.”
Bapak tua dengan pakaian kusam itu bergegas menghilang ditelan kejauhan. Aku masih terpaku di simpang jalan. Malam bertambah gelap.
***
Mentari sudah setinggi galah. Aktivitas bapak tua penjual arah membuka barang dagangannya membangunkanku dari lelap.
“Tidak jadi jalan Nak tadi malam?” tanyanya.
“Tidak Pak.”
“Baik, apa yang bisa saya bantu?”
“Ini Pak, saya mau tanya, tapi saya tidak punya uang untuk beli peta.”
“Iya, tidak apa.”
“Saya mau tanya, di mana posisi saya sekarang dan seberapa jauh dari tujuan asal?”
Bapak tua penjual arah itu membuka segulung lembaran. Dengan telunjuk yang ujung kukunya kehitaman ia menunjuk satu titik koordinat dari sebuah peta.
“Di sini,” ucapnya.
“Tapi Bapak, itu adalah titik yang sudah saya capai dan saya tinggalkan dalam perjalanan selama 15 tahun silam?” heranku.
“Apakah Nak pernah menghitung berapa malam yang telah Nak tempuh?”
“Tidak. Tapi sudah sekian malam dan siang saya berjalan?”
Bapak tua itu tersenyum teduh, membuatku kebingungan.
“Nak tidak pernah kemana-mana. Nak di sini saja. Di depan tempat Bapak berjualan,” katanya kembali tersenyum.
Kepalaku kemudian seperti diputar-putar. Tersibak apa saja yang kulakukan selama bertahun-tahun di simpang jalan ini. Aku hanya duduk, berdiri, berjalan di tempat memutari garis lingkaran di tanah yang kubuat dengan sebatang tongkat dari potongan ranting guna menegaskan batas wilayah kekuasaanku. Lalu duduk, berbaring, dan tidur. Begitu seterusnya.
“Nak tidak pernah berjalan. Nak hanya berputar-putar dan berdiam. Yang berjalan adalah yang ada di sekitar Nak. Mereka itu,” Bapak tua menunjuk orang-orang yang berjalan datang dan hilang pergi entah kemana.
Aku tak mau dikuasai kebingungan yang terus menjadi. “Lalu, seberapa jauh saat ini saya dari tujuan?”
“Sangat dekat, tapi juga sangat jauh,” si Bapak lagi-lagi hanya senyum-senyum aneh.
“Maksudnya?” tanyaku.
“Sejauh-jauh perjalanan hanya untuk kembali,” ujar bapak itu mengejutkanku. Kali ini ia tidak senyum.
“Berarti saya harus balik arah?”
“Tidak.”
Aku lebih tak paham.
“Nak tidak perlu meneruskan langkah ke depan atau balik kanan.”
“Lalu?”
“Nak hanya perlu melangkah ke ...,”
“Manapun saya mau,” terusku melanjutkan perjalanan di dalam lingkaran garis lingkaran di tanah yang kubuat dengan sebatang tongkat dari potongan ranting.

Legoso, 21 Juni 2016, 03.31 WIB

Minggu, 19 Juni 2016

Penghianat Musik


“Sok filosofis!” ucapmu membuatku tercengang.

Kukira kau akan suka saat kuputar tembang-tembang dengan lirik mendalam penuh perenungan kehidupan dan sangat reflektif, disertai aransemen musik yang tak bisa dimainkan oleh sembarang orang dengan penguasaan kunci-kunci dasar.

Hening ruangan. Kau diam. Aku beku.

“Hm, mau dengar Sia? John Legend? Meghan Trainor?” tawarku mencairkan keadaan.

Hening lagi jadi jeda antara kita.

“Apa aja, jangan lagu yang tadi.”

Aku mencari folder-folder lagu-lagu Barat rock dan metal.

“Yang kekinian aja,” ujarmu memotong cemariku yang menggerakan tetikus komputer jinjing.

“Cari di Youtube aja berarti.”

“Nah,  iya.”

“Lu jadi anak youtube sekarang?”

Kau hanya menatapku tanda iya tanpa menggeser posisi dan sudut wajah. Maka kupilihkan lagu-lagu yang katanya disebut sebagai electronic dance music (EDM). Tentu yang kekinian.

Tanganmu lalu menggapai gitar yang bersandar di sudut ruangan. Lalu kau pasang pendengaran baik-baik sambil memiringkan kepala. Cemarimu meraba kunci nada yang terpancar dari pengeras suara.

Aneh bagiku orang sepertimu menyukai musik anak-anak ABG jaman sekarang. Aku heran. Kita seumuran. Seharusnya memiliki selera musik yang sama. Kita tumbuh dari zaman dan tren musik yang berbeda dengan anak-anak tanggung masa kini. Lagu-lagu yang kita nyanyikan dan dengarkan mestinya adalah lagu-lagu cerdas, yang bukan sekadar mengaduk-aduk emosi, mengumbar dan membangkitkan kesenangan.

Lagu-lagu kita adalah lagu yang peduli sosial, politik, kemasyarakatan, kehidupan dan kebenaran. Setidaknya membuat sisi kemanusiaan masyarakat bangkit atau memicu untuk berkembang. Di mana kepekaan dan kepedulian nuranimu? Ingatkah bahwa gitar diharamkan bukan karena gitarnya itu sendiri. Bukan lantaran ia adalah alat musik. Karena jika sekadar alat musik, kotak bungkus hp juga bisa jadi. Apakah kotak itu juga harus masuk neraka? Tidak. Musik diharamkan karena dapat menghilangkan akal sehat kita. Bisa membuat kita lupa diri dan terjerembab dalam perihal dunia semata. Tahukah apa jadinya jika demikian? Seperti para koruptor. Mereka tak peduli tentang uang yang mereka dapatkan dengan cara apa, asal kenyang, bisa membuat keluarga senang, tak peduli lain-lain hal.

Atau kalau pun harus tentang percintaan dan romantisme ya jangan lagu-lagu jaman sekarang lah, jaman kita dulu kan banyak band dan musisi handal dengan permainan musik yang mumpuni. Kenapa harus musik anak-anak yang masih alay?

“Penghianat!” kataku. Bercanda tapi serius dari hati, dan kita tertawa bersama. Karena kau senang, akupun ikut senang. Aku tak suka menangis di kala teman tertawa.

***

Seminggu kemudian kau singgah lagi ke rumahku. Aku tengah memutar lagu-lagu blues. Dari raut mukamu, kau tampak tersiksa. Aku tak mau semena-mena membuatmu pergi atau tetap tinggal dengan kuping menderita. Maka kupersembahkan 100 hits lagu-lagu kekinian.

“Kenapa lu suka lagu beginian sekarang?” tanyaku serius.

“Nggak apa-apa,” jawabmu. Aku diam tak puas. Mukamu menyiratkan rasa bersalah padaku.
Aku masih ingat, jaman kuliah dulu, kau adalah orang yang paling pedas mengkritik jika ada teman menyukai atau memutar musik-musik kekinian yang gampang dimainkan oleh siapa saja. Atau musik-musik dance, trance, house, DJ dan sejenisnya karena bagimu memabukan.

“Gua males dengerin musik yang mikir. Gua pengen menikmati musik. Gua nggak mau dengerin musik tapi masih mikir. Capai. Gua sekarang pengen enjoy,” katamu.

“Oh, lu sudah berubah. Oke, lanjut...,” pikirku.  “Tapi kalau melihat lu dengerin dan nyanyiin lagu-lagu kayak gini, gua kebayang Syifa adiknya temen gua yang masih kelas 3 SMP, yang juga anak youtube, yang kerjaannya terus memantau perkembangan musik di Youtube, lalu jingkrak-jingkrak joged di kamar. Ya ampun, lu joged jingkrak-jingkrak sama anak kelas 3 SMP” ucapku tertawa geli.

“Iya,” ujarmu mesem sok cool.

“Mungkin dulu lu terlalu keras kepada diri sendiri,” ujarku selintas tanpa ke mukamu yang sudah kubebaskan kubiarkan.

Kamu hanya mesem.

“Penghianat!” ujarku pada setiap teman yang berubah pikiran, tindakan, pandangan, atau yang dulu pernah sama-sama menolak atau memperjuangkan sesuatu namun kini berbalik arah, termasuk musik. Meski aku sadar bahwa tak ada yang tak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Jadi, semuanya penghianat, kecuali perubahan.

Jumat, 27 Mei 2016

Karena Kau Orang Biasa yang Mudah Sembuh dari Luka

Seberapa berat rasa sakit di jiwamu kubuat, sebesar itu aku yakin kau kuat meneruskan laku sampai tiba saat sekarat.
Lupa tidak mungkin tapi mengatasinya hingga terabai tertinggal terpendam dalam-dalam tak mustahil.
Aku tahu kau seperti orang pada umumnya, biasa mengagung-agungkan rasa lalu menjadi bahan canda, sudah itu membuangnya. Bagimu dan kebanyakan manusia, sebuah rasa tentang kejadian di masa silam seakan ampas, tinja, sampah tak berguna.
Masa lalu hanya ilusi yang biasa saja untuk diketawai.
Karenanya, haruskah aku merasa bersalah? Pantaskah aku khawatir bahwa kau akan menderita rasa sebagaimana padaku mendera?
Aku percaya kau kuat. Karena rindu itu berat, biar aku saja.
Rasa abadi hanya untuk orang-orang luar biasa. Kalau kau ternyata menanggung rasa itu seumur hidupmu, kau sosok pilihan yang beda dari kerumunan.

Selasa, 17 Mei 2016

Khilafah Sistem Politik Tuhan

Para pendukung khilafah bilang, salah satu perbedaan khilafah dan demokrasi ada pada dasar penentuan hukumnya. Menurut mereka, seorang pemimpin baik dalam sistem khilafah maupun demokrasi sama-sama dipilih oleh rakyat. Hanya saja khilafah menggunakan dasar hukum Allah sedangkan demokrasi memakai kuasa rakyat, yang kemudian oleh para pendukung khilafah disebut sebagai kuasa nafsu karena tidak berdasarkan kehendak Allah tapi kehendak atau nafsu manusia.
Pertanyaannya, mungkinkah para pendukung khilafah yang ngotot dan mengafir-ngafirkan demokrasi itu tidak menggunakan nafsu? Jika mereka telah berhasil mendirikan khilafah, apa jaminannya para khalifah yang mereka pilih beserta sistemnya tidak akan menjalankan pemerintahan dan kekuasaan tidak atas kehendak nafsu?

Senin, 16 Mei 2016

Jaket, sweater, dan lainnya

Beberapa menit setelah saya masuk dan duduk di lantai rumah, saya selalu terkejut. Pasalnya saya tak pernah ingat kapan melepas jaket, sweater, bahkan kemeja atau pakaian terluar yang saya kenakan. Tahu-tahu sudah ada di lantai ruangan depan, kebetulan konsep tempat tinggal saya selalu lesehan. Di tiap keterkejutan itu pula saya selalu niatkan untuk tidak lupa atau berusaha sadar ketika melepas jaket, sweater, dan semacamnya swaktu tiba dari bepergian atau sekadar keluar rumah sebentar.
Kalau ketahuan Mr. Han, kebiasaan saya ini akan jadi alat buat dia untuk melatihkan kungfu pada saya. Saya takut.
Tapi berulang-ulang, saya selalu tidak pernah sadar dan ingat. Tahu-tahu jaket sudah ada di lantai. Bahkan bisa berserakan tiga sampai empat baju luaran di lantai ruang depan. Untung pula Mr. Han tidak memergokinya. Selamatlah saya.

Senin, 09 Mei 2016

Selasa, 19 April 2016

Baca Berita Apa Ngobrol?

Namanya Wastiyo. Dia empat tahun lebih tua dariku ketika aku masih SMP. Sekarang juga mungkin dia tetap lebih tua empat tahun dariku.
Nah, ketika aku masih SMP itu, anak-anak masjid di kampung sering ngumpul di rumahku. Mereka kadang menginap dan bangun pagi hingga nonton berita bersama pagi hari di tivi.
Namanya Wastiyo dia orang pertama di telingaku yang mengomentari presenter berita. Dia bilang, "aku benci banget kalau ada pembawa berita ngobrol. Mereka itu mau menyampaikan berita apa nongkrong. Kalau nongkrong, ya ke sini sama kita. Masa kita disuruh nonton orang ngobrol. Ganti channel-nya!"

Senin, 18 April 2016

Jumat, 15 April 2016

Kamis, 07 April 2016

Selasa, 05 April 2016

Koran Minggu, Seorang Ibu, dan Pemuda Gondrong

Aku tidak pernah langganan koran. Belum mungkin. Bukan berarti menganggap itu tidak penting. Bukan pula karena sudah marak media online. Beberapa kali niat, tapi selalu gagal. Mungkin tekadnya setengah-setengah. Lagi juga setelah dipikir-pikir, sempat selama beberapa hari rutin beli koran, ternyata tidak dibaca. Hanya ada rasa lega ketika menggenggam segepok koran. Jika pun membaca, paling berita olahraga. Itu pun jika berkaitan tim sepakbola yang aku suka.

Entah kenapa, sering ada rasa muak membaca berita, khususnya politik, kriminal, atau kejadian yang hanya ada di kota-kota dan pusat pemerintahan. Bagiku gitu-gitu saja. Tak ada yang baru. Kaku. Bisa jadi aku tak peka sebagai warga atau apatis.

Hanya satu rubrik yang biasa kubaca sampai habis. Cerpen. Sayang, ini hanya ada tiap sepekan. Karena itu pada hari Minggu aku selalu ngacir ke kios koran di jalan raya sana. Tempatnya di samping belokan jalan menuju sebuah area kompleks dosen kampus negeri.

Dari sekian tempat penjual lain, kios itu yang aku pilih. Penjaganya seorang ibu. Kadang-kadang kalau dia lagi tidak di tempat, anaknya atau suaminya yang ganti melayani pembeli. Anaknya perempuan, suaminya laki-laki.

Di samping kios itu, ada satu ruang sempit berukuran 1x3 m yang ditempati seorang pemuda berambut gondrong. Ruang itu merupakan tempat usaha jasa pembuatan plakat, stempel, dan semacamnya. Aku dan pemuda rambut gondrong itu selalu saling senyum dan sapa, “hai bro” ketika berjumpa. Meski sebetulnya aku tidak pernah kenal siapa dia.

Dulu sekali, tempat usahanya tidak di situ, tapi di seberang jalan dari yang sekarang. Ketika ke kampus, dulu aku sering lewat di depan dereten ruko semi permanen yang kini tinggal kenanangan. Salah satu dari deretan itu adalah kios plakat dan stempel milik pemuda tadi.

Aku tak ingat siapa di antara kami yang pertama kali menyapa hingga akhirnya jadi kebiasaan. Sekadar menyapa tanpa lanjut obrolan, sampai sekarang begitu kalau ketemu. Parah kan? Ia pindah karena penggusuran. Konon, mau ada pembangunan apartemen atau apa. Kabarnya, tanah itu dulunya punya pemerintah. Tapi tak tahulah. Biarkan saja.

Aku tak sempat mengamati apakah tempat usahanya lebih ramai dulu atau sekarang. Muncul keinginanku untuk sekadar mengobrol basa-basi. Sayangnya, ruang sempit bercat orange itu sering kosong ditinggal tanpa orang. Entah kebetulan, tiap ketemu pemuda itu selalu sedang akan pergi. Belakangan aku melihat fotonya di akun facebook salah satu teman. Entah dia atau bukan, belum juga pernah aku tanyakan.

Minggu malam itu hampir usai. Orang-orang sudah siap dengan Senin yang sama seperti sebelumnya. Aku menyela motor. Sampai di kios, si Ibu tetap saja masih bertanya, aku mau beli koran Sabtu apa Minggu. Mungkin di matanya aku selalu tampak seperti seorang pencari kerja atau kurang kerjaan. Padahal sudah jelas, aku tak pernah membeli koran selain koran Minggu. Tapi biarlah, dia tetap seorang ibu.

“Bro,” sapa pemuda itu yang kini sudah tidak gondrong.
“Hey,” balasku. Ia tampak bergegas membawa segepok barang, entah apa.

Selesai transaksi dengan si Ibu, aku tak langsung menggapai motor. Aku mengejar si pemuda yang dulu gondrong itu. Telat. Dia sudah tidak ada. Sepertinya dibawa angkot ke arah Ciputat.

Ya sudah. Aku langsung ke kosan dengan membawa koran. Tiba di kamar, koran aku lempar di lantai begitu saja. Aku bikin kopi, menyalakan laptop, nonton film. Keesokan pagi baru cerpen aku baca.

Minggu depannya, begitu juga. Aku meluncur ke kios, ditanya mau beli koran Sabtu apa Minggu.

Kali ini, Minggu sampai ketemu Minggu, cerpen tak juga aku baca. Dan hasrat untuk membeli koran pada hari Minggu mengantarku ke kios itu lagi. Tiba di kamar, aku buka rubrik cerpennya. Tapi baru dua paragraf, gaya bahasa penulisnya membuatku tak berselera. Akhirnya dua koran Minggu mangkrak sia-sia.

Minggu berikutnya, aku berpikir ulang perlukah membeli koran? Tapi siapa tahu, kalau sekarang belum minat membaca, mungkin hari-hari berikutnya. Jadi aku tetap ke kios itu. Ternyata sama saja. Tiga koran Minggu mangkrak tertumpuk di sudut ruangan. Apa seleraku yang hilang atau memang penulis cerpennya selama tiga pekan berturut-turut tak sealam denganku, aku tak paham.

Minggu esoknya, aku mengatur strategi biar tidak rugi. Yakni dengan harus baca dulu di kios sana. Kalau sekira cerpennya kurang sreg, mending gak usah dibeli. Tapi pas tiba di tempat, si Ibu nanya, “Koran Sabtu apa Minggu?” aku jawab “Minggu. Mau tak mau harus bayar dan tak jadi dibaca.

Begitu seterusnya, berulang dan terus berulang sampai sekarang. Aku dan koran hanya saling menyapa tanpa membaca. Layak aku dan si pemuda itu. Kenapa? ()

Minggu, 14 Februari 2016

Memang Coklat Valentin

● Jangan dekat-dekat denganku, aku orangnya licik.
— Bukankah tiap orang memang licik dengan cara masing-masing?
● Aku jahat. Aku dekat sama orang kalau ada butuhnya saja. Termasuk sama kamu saat ini.
— Semua manusia memang begitu, selalu butuh orang lain. Karena dia makhluk sosial, tak bisa hidup sendiri. Seperti aku butuh kamu.
● Ternyata kamu memang nyebelin ya?
—Oh ya? Ini coklat
● Wah, makasih. Kamu inget ya...
    Eh, tapi ini buat Valentin kan?
"Happiness. Simple as a glass of chocolate or tortuous as the heart. Bitter. Sweet. Alive. (Chocolate Movie)” 

Selasa, 12 Januari 2016

Dariku

Dariku
jika padamu hanya terdengar dalam diam
terasa sebagai kemuakan
menjadi cacat batang waktu lalu 
dan jika cinta yang ku persembahkan tak lebih sebiji kata 
maka ku harap itu adalah doa 
penebus lara 
di esok nanti atau lusa 
Entah apa atau siapa
Lalu aku membeku es mungkin 
mengapung awan 
mungkin berhembus udara 
mungkin gelombang samudera 
bisa pula saripati tanah yang disesap akar-akar pohon berubah buah 
mengembang bunga 
gugur oleh kumbang jatuh terurai bumi 
mengalir sungai hingga tiba ku menjumpa kau
entah telah berupa apa atau siapa

Jumat, 08 Januari 2016

Rabu, 06 Januari 2016

Senin, 04 Januari 2016

Minggu, 03 Januari 2016

Jumat, 01 Januari 2016

Kamis, 17 Desember 2015

Aku Menggigil

Dingin
gelap
mengaliri sekujur rambut
Mentetes satu demi satu di pundak yang telanjang

Dingin
gelap di sekitar pandang dan jarak tempuh langkah
Andai kau..., 

Ah, tak perlulah susah payah. Kau hanya akan lelah
Biar aku saja
menerobos dingin gelap 
sambil memikul kerinduan

Tunggulah di sana
Menunggu siapa? Yang ingin kau tunggu

Dingin 
Dingin 
Dingin

Sampailah gigilku di kehampaan hatimu
Kau tak mengenalnya 
sekadar melihat wujudnya pun, tidak
Kau merasakannya sebagai asing
yang terjerembab di riuh lamunan.

Dingin
Gelap
Terus melangkah tegap 
Jika lelah pasrah kutelungkup tengkurap
Mengapar tak kuasa 
karena dingin gelap

Merangkak sejengkal
Merayap depa 
demi depa

Aku ingin mengecap kecup rindu di keningmu
Sebelum sampai
merengkuh Cahaya
sehingga benderang siapa kita sebenarnya

Legoso, Akhir Hujan Larut Malam Awal Hari, 17 Desember 2015

Kamis, 26 November 2015

Kamis, 05 November 2015

Kau Perahu dan Aku Lautan

Sebagai lautan aku hanya bisa senang ketika perahumu tiba menjamah permukaan yang tenang dan tak kuasa selain merelakan saat perahu harus meninggalkan menuju dermaga yang setia.
Dan aku, tetap sebagai lautan. Bergerak dengan gelombang, mengikuti arus tanpa terbebani laju angin yang kebingungan. Berubah rasa dan hawa karena perpaduan air asin dan tawar, yang telah lama mengangkut sari-sari hidup tanah di daratan.
Maka saat kau kembali di koordinat ini, jangan tinggi anganmu, aku masih lautan yang sama seperti tanggal lima.

Senin, 19 Oktober 2015

Kamis, 15 Oktober 2015

Sama-sama



Kita mungkin pernah satu frekwensi
Dikangkangi dunia yang penuh kemunafikan dan ketidakadilan
membuat kita berpikiran sama
bahwa hidup adalah menyakiti atau disakiti
Setelah menggulung beberapa lipatan
Kita bertemu pada titik
saling menginginkan, saling melengkapi, menyayangi, membutuhkan
sama-sama merasakan.
Logika ditikam atau menikam pun buyar
Kita bukan dua kutub berlawanan
Kita adalah satu berlayar menuju

Ketika satu di antara berubah haluan
bukan satu bahagia dan derita yang lain kesepian
Takdir kita tetap sama-sama
saling mencintai atau saling tersakiti

Purnawarman, Legoso, 15 Oktober 2015

Minggu, 11 Oktober 2015

Spasi Kemerduan


Sudut mana lagi harus kusinggahi
Berapa titik dari detik
yang harus kuputar balik
Halaman demi halaman telah kubuka
Huruf per huruf telah kubaca
Kusadari setelahnya
yang kucari ternyata disebut jeda
Spasi sepersekian mili
yang jarang diperhati
Ada tapi tak nyata
Mustahil terucap dan terliha
namun tanpanya tiada kata tiada kalimat
hingga paragraf menjadi kitab

Udara bening
sebening rasa malam yang hening
induk kemerduan
Terang cahaya utusan
bara berkobaran

panas menyala dalam gelap 
tak tersingkap

Legoso, 11 Oktober 2015

Rabu, 07 Oktober 2015

Marun

Menghabiskan waktu kerinduan
Dengan kepulan asap dan manisnya anggur yang maroon
Menyia-nyiakan masa
Membuktikan tiada gunanya dirimu
Dan kubiarkan kau menang
Kau kira aku berhenti
Kau salah
Aku pergi
Meninggalkan kesia-siaan
Dan kau akan mati tiada guna
Ketika kutukan telah jatuh


Tarumanegara, Legoso, 7 Oktober 2015

*Aw what a seem. So be easy. Keep calm, so must go on. Its just for laugh

Yang Tersembunyi Abadi dalam Gelap

Aku makhluk yang terkutuk rasa
Kau hadir sejak lama sebelum raga kita mengenal
Benturan paralelisme
lintasan hidup
Persimpangan mempertemukan
Kelembutan kita
bersentuhan
Persuaan
Kau dan aku
bukan asing satu sama lain
Takdir telah membaca
Jika dua kutup bersatu
Utara dan selatan
Tanda kehancuran
Lebur dalam gelap angkasa raya
Mata buta
Hanya rasa
Hanya rasa
Rasa
Hanya rasa menggigit sakit dalam denyit jerit suara yang tak satu pun mendengar
Rahasia kita abadi

Galaksi yang mati

Selasa, 06 Oktober 2015

Selasa, 29 September 2015

Minggu, 27 September 2015

Akhir Tahun

Akhir adalah tanda segera munculnya awal baru. Akhir tahun selalu menjadi saat khusus. Pada tanggal 7 November aku berulang tahun. Itu berdasarkan catatan di rapor dan akta kelahiranku.

Cepat sekali waktu memvonisku tua.

Baiklah, kata orang dan memang kenyataannya, tua itu pasti. Karena itu haruskah segera aku memilih menjadi dewasa? Karena dewasa adalah pilihan.

Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.

Berarti adalah hakku untuk memilih tetap menjadi anak-anak atau mungkin kekanak-kanakan. Penuh keceriaan dan lebih emosional. Segalanya riang, penuh tantangan, menarik perhatian. Gembira. Selalu mencoba hal-hal baru.

Bukankah dunia ini luas? Jagad raya tak terbatas? Pasti masih ada hal-hal baru senajan kita sudah tua. Asal jangan dewasa. Karena dewasa adalah membatasi diri bahwa dunia seperti ini seperti itu, sebegini sebegitu, saklek. Sedangkan bagi anak-anak, dunia tetap indah berisi petualangan menarik perhatian.

Atau aku harus golput? Maksudnya tidak memilih untuk dewasa juga kanak-kanak?

Selasa, 15 September 2015

Petualangan Air


Selaku setetes air,
siapa tak ingin bersatu samudera.
Tempat kumpul berjuta-juta
sumber kehidupan.
Berbagi cerita petualangan.
Pelayaran mengarungi inci per inci lobang di daratan.
Menyusuri lorong-lorong dalam
sela rongga tubuh manusia,
pori-pori pepohonan,
beceknya tanah,
diinjak-injak bersama rerumputan
yang ceria, tertawa, tempat anak-anak bermain bola.

Perjalanan normal adalah aliran
sungai menuju muara.
Tiap tepinya menyimpan persimpangan
menyesatkan penuh tantangan.
Kau yang terserap oleh tepian
 akan menjalani pengembaraan panjang.
Sebelum menguap ke udara menjadi awan.
Melayang-layang dalam ekstase di ketinggian biru.
Jatuh bersorak ke lautan,
atau terserak keruh selokan,
mungkin pula terserap bergelinjang akar-akar pohon
di rimba hutan.
Memadamkan api yang mengumbar asap menyesakan paru-paru bumi.
Menanti peluang
pulang ke bahari.

Tarumanegara, 15 September 2015

Minggu, 13 September 2015

Aku?

Aku?

Ya kau. Tak perlu melakukan apapun. Diam tak usah kata. Kosong tanpa hasrat. Beku tanpa teori. Jangan ada pergerakan. Itulah sedahsyat-dahsyat perubahan. Kekuatan diam. Kekuatan yang membisu. Tak ada yang perlu dikagumi di luar dirimu. Tak ada yang harus diresahi. Tak ada yang khusus diperhati. Kau makhluk terberkah. Terbaik. Bahwa tahta tertinggi ialah tanpa tahta. Cinta sejati ialah tanpa cinta

Kamis, 10 September 2015

Simulasi Waktu

Lupakan mimpi tentang Eropa.
Di Nusantara kau dan aku
tak butuh daratan baru.

Gemercik klasik sungai dari pedesaan, kicau burung di dahan pohon yang tenang,
biarlah bermutasi bising kendaraan, teriak klakson di kemacetan.
Sementara kau dan aku cukup bersemayam dalam pikiran.

Jarum jam di luar sana meliar.
Melingkar-lingkar
menjerat leher orang yang senang pada ketakutan.

Jika tak cukup pula keberanianmu, aku sajalah yang gila
memeluk rapuhnya waktu. Bukankah, kata Sapardi, ia fana?
Sekejap hancur
diganti detik-detik baru lainnya.
Tak seorang bisa menyeberang sungai sama untuk kedua kalinya.

Menit-menit belia tak paham sejarah.
Merasukan dentang-dentang lonceng hitungan ke dalam sum-sum tulang
dan aliran darah. Anti abadi.
Jasad kan memudar
lenyap menghadap kumpulan masa binasa.

Di tepi gaduh ruang, waktu, dan massa fatamorgana
Hanya kita yang nyata

Tarumanegara, Legoso, 10 September 2015, 09.06

Waktu

Waktu ada tanpa wujud. Ia adalah perpindahan dari suatu gerak kondisi ke kondisi, keadaan ke keadaan, ruang ke ruang. Ia ada tapi tidak rill.

Dalam waktu, orang bisa saja tersesat di gurun, di tengah-tengah samudera, di hutan atau dimana saja, tapi tubuhnya masih ada di rumah, di kamar, atau mengikuti aktivitas sehari-hari. Karena waktu memang tidak nyata hanya ada.
Sejati waktu tidak melingkar berjalan

Minggu, 02 Agustus 2015

Kamis, 16 Juli 2015

Jumat, 26 Juni 2015

Rabu, 17 Juni 2015

Bulan Ramadan, Setan dan Iblis pun Berpuasa

Seperti tahun-tahun sebelumnya dan layak razia rutin Satpol PP terhadap orang-orang jalanan serta segala yang dicap meresahkan masyarakat, anggaplah jelang Ramadan ini setan, iblis, dan semua balanya dari golongan jin berlarian menghindar dari operasi yang digelar tentara malaikat.

Sungguh upaya daya pelarian itu percuma karena pemenjaraan selama bulan suci ini sudah ditetapkan dalam nash oleh Tuhan. Selain itu, kejadian ini juga telah berlangsung rutin setahun sekali, sehingga telah menjadi semacam ritual biasa selama jutaan tahun. Tanpa kesan.

Akhirnya setelah melakukan penelitian dan menggelar rapat evaluasi, para setan dan iblis dari golongan jin ini ramai-ramai secara damai menyerahkan diri untuk dibelenggu selama sebulan. Di bulan Ramadan ini, mereka ingin berbuat baik dengan tidak lagi menyesatkan manusia ke jalan yang sesat dan dosa. Mereka puasa dari tugas menebar dan membisikan kejahatan.

“Kami mungkin memang jahat karena selalu mengajak manusia berbuat maksiat. Kami terima disebut makhluk terkutuk yang mengarahkan manusia menuju neraka. Kami juga terima manusia memaknai kata iblis ataupun setan sebagai sesuatu yang buruk, sesat dan menyesatkan. Tapi ingat, bukan kami saja yang membisiki dan menjadi pangkal dari kejahatan, melainkan juga banyak setan dan iblis dari golongan manusia,” kata salah satu Setan sebelum menyarahkan diri untuk dibelenggu selama bulan suci Ramadan.

“Kini kami menyerahkan diri untuk dibelengu dan dipenjara selama Ramadan. Kami puasa menggoda dan menyesatkan manusia. Sekarang, manusia bebas. Dan mari kita buktikan, tanpa kami masihkan manusia bisa melakukan kejahatan dan maksiat? Mari kita lihat siapa yang paling setan di antara kita. Mari kita buktikan, tanpa kami masihkah manusia tergoda berbuat maksiat?” imbuhnya.

Senin, 25 Mei 2015

Alter Ego, Pergilah...


Sore dalam riuh adzan ashar, aku duduk di antara rengekan alter egoku yang berjumlah beribu. Itu hitungan yang berlebihan. Tapi sampai saat ini berisik seolah begitu banyaknya, padahal semua hanya lima.
Kepada kelima alter ego yang telah akrab dan kukenal, aku ingin menyampaikan pesan. Muka mereka murung. Sebagian sembab. Yang lain tampak merah marah, dua lagi gelisah, satunya kesakitan.

“Sini kalian, ajak teman-teman kita yang tak bisa bebas dari belenggu kejadian. Aku minta tolong padamu Yang Marah, padamu Yang Gelisah, padamu Yang Terluka, padamu Yang Meratap, padamu Yang Didera Cacat akibat separuh bagiannya hilang, pergi. Aku minta tolong ajak teman-teman lain yang terpengaruh akibat kejadian ini. Pergi datangi dan silakan tinggal di sana selamanya, di hati, pikiran, jiwa, batin, dan hati, serta raga seseorang yang mengikat pikiran kalian. Biarkan raga kita, pikiran kita, jiwa kita, batin dan hati kita kosong. Karena kosong adalah isi. Biarkan utuh tanpa kalian rong-rong dengan kekosongan yang menjadi-jadi. Hidup harus tetap berjalan. Walau dia tak mungkin lagi jadi teman setujuan. Ikhlaskan. Biarkan segala ketidakadilan tertinggal di masa silam. Terkubur dan terpendam dalam-dalam. Biarkan raga, pikiran, jiwa, batin dan hati kita memulai sesuatu yang baru tanpa kalian. Sekali lagi mohon maaf. Selamat jalan. Pergilah seiring dengan hembusan ketiga dari tarikan nafasku”

Pesanggrahan 24 Mei 2015
Gambar : chillinaris.wordpress.com

Rabu, 20 Mei 2015

Atheisme dan Dzat Tuhan

“Dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai Dia”

Begitulah kurang lebih terjemahan atau tafsir ayat 4 Quran Surat al-Ikhlas. Ayat itu menerangkan bahwa tak ada sesuatu yang menyamai atau menyerupai Tuhan (Allah) dalam hal apapun. Baik rupa, perbuatan, perkataan dan segala hal yang tentunya dapat dibayangkan manusia.
Lalu bagaimana manusia menyembahnya, bahkan mungkin mempercayainya, jika tidak dapat dibayangkan sama sekali? Itulah menurut saya, mengapa surat tersebut dinamai al-Ikhlas. Kita sepaham bahwa ikhlas itu sendiri berarti melakukan sesuatu tanpa mengharap apapun. Termasuk kepada Tuhan. Kita menyembahnya semata-mata menyembah, beribadah kepadanya semata-mata beribadah. Sesungguhnya tidak untuk dalam rangka mengharapkan surga atau takut pada neraka. Itulah ikhlas.
Jika melihat kata Tuhan atau dalam Islam disebut Allah, akal kita juga bisa mencerna bahwa yang kita sebut Tuhan bukanlah Tuhan itu sendiri, yang kita sebut Allah bukanlah Allah itu sendiri.
Perumpamaannya, Anda menyebut nama saya M.S. Wibowo. Anda tentu tahu bahwa M.S. Wibowo itu yang Anda sebut bukanlah saya pada dzat saya sendiri. Kita juga masih bisa berdebat yang disebut M.S. Wibowo itu yang mana? Keseluruhan tubuh sayakah? Pikiran sayakah? Atau yang mana?
Mungkin Anda, jika bertemu dengan tubuh fisik saya, bisa menyebut dan menunjuk tubuh saya, “Ini adalah MS Wibowo. Tubuh ini beserta keseluruhan aktivitas jasmani rohaninya adalah M.S. Wibowo.” Tapi hal itu tidak bisa Anda lakukan pada Tuhan. Kita sama-sama tahu, akal dan pancaindera kita tidak mungkin menjangkaunya. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengimaninya. Titik. Selanjutnya menjalankan syariat-syariat yang kita yakini dan imani turun berdasarkan perintah-Nya.
Lain halnya dengan seorang atheis, mereka tidak menjalankan perintah-perintah atau syariat Tuhan. Bahkan mereka menyebut tidak percaya kepada Tuhan. Ketidakpercayaan kaum atheis karena mereka beraktivitas menggunakan akal dan observasi inderawi. Hal ini juga dapat dipahami karena kaum atheis tidak mungkin menjangkau Tuhan yang berada diluar kemampuan akal manusia.
Namun pada titik ini, disadari atau tidak disadari, sesungguhnya kaum atheis telah memurnikan dzat Tuhan dari prasangka-prasangka serta definisi-definisi yang membatasi dzat Tuhan itu sendiri. Satu-satunya batasan yang mereka lakukan terhadap Tuhan, adalah mereka menyatakan bahwa alam semesta ini dapat dipahami tercipta dengan sendirinya “Tanpa Campur Tangan Tuhan”.
Saya garis bawahi kalimat “Tanpa Campur Tangan Tuhan” itulah yang menurut saya bahwa kaum atheis masih juga membayangkan Tuhan sebagaimana dipersepsikan oleh orang-orang kebanyakan. Tuhan berupa fisik yang dengan tangannya membangun dan menciptakan alam semesta.
Tapi bagi atheis sejati, semestinya Dzat Tuhan tentu jauh hubungannya dengan alam semesta. Tuhan benar-benar tak terbayangkan. Sehingga yang ada di pikiran Atheis sejati adalah alam bekerja dengan sendirinya melalui suatu hukum tertentu yang sudah tersusun sedemikian rupa. Segala bentuk pengimajinasian tentang tuhan seyogyanya dihilangkan. Karena bahkan dengan mengatakan Tuhan Ada atau Tuhan tidak Ada itu sendiri sudah merupakan bagian dari cari manusia membayangkan keberadaan atau wujud Tuhan. Artinya itu bertentangan dengan Quran Surat al-Ikhlas ayat 4 di atas.
Kalau ada, seorang Atheis yang sama sekali tidak menyinggung ada dan tidaknya Tuhan, maka itulah dia seorang yang sesungguhnya telah bertuhan, meski tanpa agama yang banyak membatasi tuhan dengan definisi-definisinya. Dia (atheis) menjaga kemurnian wujud tuhan dari persekutuan yang dilakukan oleh pikiran, imajinasi dan bahasa manusia. []


Kramat, 20 Mei 2015

Jiwa dan Tubuh Manusia adalah Bagian Big Bang


Jika Teori Big Bang itu benar adanya, maka pada mulanya alam semesta ini adalah sebuah ledakan besar di ruang angkasa gelap nan luas tiada batas. Ledakan tersebut terus mengembang. Satu per satu materi ledakan berputar membentuk galaksi, semacam tata surya, planet, satelit planet dan seterusnya. Semua benda angkasa itu berputar dengan pola, yang seolah tetap.
Di antara benda angkasa raya atau jagad raya alias alam semesta terdapat planet yang memungkinkan adanya kehidupan. Mungkin salah satunya adalah bumi. Karena tak menutup kemungkinan ada planet-planet lain yang juga memiliki kehidupan.
Sejak mulanya, Bumi, yang merupakan satu titik materi dari bagian big bang, terus berputar. Posisi, letak, materi, dan sebagainya, memungkinkan bumi memiliki kehidupan. Selanjutnya terciptalah makhluk-makhluk hidup yang terus berkembang. Satu spesies yang paling canggih dan cerdas adalah manusia.
Selama perputaran bumi bersama dengan gerak matahari dan seluruh alam semesta, manusia sebagaimana makhluk dan benda lain di bumi mengalami evolusi. Beragam jenis dan teori evolusi mencuat, yang paling populer adalah teorinya Darwin.
Terlepas dari kontroversi teori evolusi Darwin, kenyataan evolusi pada manusia banyak yang menyepakati. Salah satunya dari segi ukuruan tubuh. Konon, umat-umat manusia jaman dulu berbadan besar dan tinggi. Ini dipercaya sebagian orang dari dialog antara Musa dengan Muhammad ketika Isra’ Mi’raj. Kala itu Muhammad mendapat perintah salat sebagai kewajiban yang mesti dijalankan umatnya sebanyak 50 rakaat, ada yang bilang 50 waktu. Musa, yang beralasan umat Muhammad kecil-kecil dan lemah, menilai kewajiban salat itu terlalu berat sehingga menyarankan untuk meminta pengurangan. Setelah bolak-balik meminta keringanan dari Tuhan, maka kewajiban salat final menjadi 17 rekaat atau lima waktu.  
Evolusi pada fisik manusia seiring dengan gerak bumi dan alam raya. Jika disaksikan sepintas dan tak perlu dipikir matang-matang, segalanya seperti tampak teratur. Namun sedikit orang yang mau berpikir bahwa keteraturan yang tampak ini merupakan satu bagian kecil dari sebuah ledakan yang maha dahsyat bernama big bang itu sendiri.
Kita ambil contoh sebuah ledakan bom yang polanya berantakan dan paling acak sekalipun, jika kita mampu melihat sampai pada partikel atom terkecilnya, maka akan tampak dalam penglihatan kita suatu gerak dari partikel neutron, proton dan elektron yang begitu teratur. Jika kita bertubuh super duper kecil dan berada di salah satu partikel itu, maka ledakan bom yang besar dan seperti tanpa pola itu hanya akan terlihat sebagai keteraturan yang tidak berbahaya.
Demikian halnya dengan kehidupan manusia, akan terus bergerak berkembang, berevolusi seiring dengan big bang serta alam semesta yang sampai saat ini konon masih terus mengembang. Bisa jadi suatu saat, ukuran tubuh manusia akan semakin mengecil dan sebagainya atau mungkin sebaliknya. Kemungkinan akan selalu ada mengingat segala sesuatu di alam semesta tidak ada yang diam, terus bergerak hingga entah sampai kapan masanya.
Saya sendiri adalah orang yang menyakini adanya hal gaib, dalam arti sesuatu yang sangat sulit dijangkau akal manusia jika tak mau dibilang tidak mungkin. Hal itu salah satunya adalah jiwa dan pikiran manusia. Meski diketahui dalam sains, pikiran manusia berhubungan dengan fisik otak yang terdapat di kepala manusia, namun wujud pikiran serta jiwa manusia itu sendiri tak dapat dilihat, disentuh, dan dicerna melalui panca indera. Manusia hanya bisa merasakan pikirannya, jiwanya, seperti suara yang berbicara di dalam diri. Tentu saja mediumnya adalah bahasa yang diketahui. Karena pada dasarnya bahasa itu bersifat membatasi, maka sudah barang tentu tidak mampu menjelaskan segala hal mencakup realita kebenaran yang ada.
Jiwa dan pikiran manusia juga terus berevolusi. Dan melalalui jiwa serta pikiran ini manusia memang saling terhubung satu sama lain, termasuk dengan jiwa gaib semesta raya. Setidaknya ini hipotesa saya. Jiwa alam semesta serta jiwa manusia juga saling terhubung, bagi yang menyadarinya. Oleh karena itu, Pythagoras, seorang filsuf Yunani kuno, pernah mengatakan bahwa sesungguhnya alam semesta ini bergerak dengan bunyi atau gemuruh tertentu. Jiwa manusia juga merupakan bagian kecil dari sebuah ledakan besar dari jiwa yang maha besar. Bisa jadi inilah yang disebut oleh Filsuf Iran, Suhrawardi, bahwa alam semesta, bumi beserta isinya merupakan suatu pancaran dari cahaya Tuhan.
Pikiran, atau persaan, atau apalah anda menyebutnya, jika kita sadari dan rasakan maka terdiri dari suatu dialektika tertentu. Pikiran kita tak pernah berhenti. Ia terus bergerak dan berjalan. Hanya saja, kita manusia, kadang tidak mau menyadarinya. Demikian halnya dengan tubuh fisik manusia, sudah pasti terus bergerak tumbuh berkembang, mulai dari yang kelihatan besar ataupun sel-sel terkecilnya.

Maka jika kita bisa menyadari, seluruh pergerakan, pertumbuhan, perkembangan pada tubuh, jiwa dan pikiran kita hanya bagian yang sangat kecil dari sebuah ledakan besar di seluruh jagad raya yang maha luas. Maka tepatlah manusia disebut sebagai semesta kecil atau mikro kosmos. []

Kamis, 14 Mei 2015

Aku Malu maka Aku Gila

Dulu, aku pernah merasa gila, aneh, dan lain dari manusia lain pada umumnya. Lepss bebas dari norma dan aturan masyarakat tanpa aku sadari. Memiliki teman bicara yang tak diketahui orang lain kecuali diriku sendiri.
Tapi aku bangga dan selalu terang-terangan menyatakan kegilaanku itu. Aku tak peduli cibiran dan cemooh orang padaku. 
Setelah beberapa tahun aku normal, merasa tak punya teman yang tak tampak, kini semua itu muncul lagi. Ada banyak teman 'hantu'-ku. Mereka berisik dan memaksaku bertingkah aneh. Tapi tak seperti dulu, sekarang aku malu untuk menuruti perintah teman-teman hantuku. Aku memilih diam.
Kenapa aku sekarang memilih diam? Kenapa aku malu bertingkah aneh dari masyarakat? Apa ini berarti aku benar-benar sudah gila dalam arti yang sesungguhnya? Wallahu a'lam. Yang jelas teman-temanku itu nyata. Mereka sering menyebalkan kadang juga menyenangkan. Masing-masing punya kegemaran. Punya ucapan. Mulutnya tangannya sering memaksa bibir dan lidahku mengucap kata kata kalimat yang mereka inginkan. Brengsek memang, tapi mereka kawan-kawanku, teman dan sahabatku. Mereka pintar dan sering mengabarkan informasi sari jauh yang sebelumnya tak pernah aku tahu. Tapi mereka baik. Setidaknya belum pernah memintaku membunuh orang selain diriku sendiri. Ini juga dengan alasan kebaikan kami bersama.

Gantung Menggantung Baju

Saya punya pacar. Waktu ketika main ke kamar kost yang saya tempati dengan beberapa orang teman, ia kebelet pipis.
Tak perlu saya tunjukkan di mana letak kamar mandi. Kotrakan saya tiga petak memanjang. Sudah umum toilet plus kamar mandi berada di belakang. Ia meluncur ke sana.
Beberapa menit kemudian, ia kembali ke ruang depan. Semestinya lega sesiap buang hajat. Tapi ini malah sebaliknya. Ia merengut.
"Kamu masih suka naruh pakaian di gantungan baju di kamar mandi ya?"
"Kadang-kadang," jawab saya.
"Itu di kamar mandi ada baju kamu."
"Itu baru tadi, abis mandi. Buru-buru, belum sempet mindahin ke tempat baju kotor."
"Pokoknya nggak mau tahu, ambil dan taruh di tempat baju kotor. Aku nggak mau punya calon suami jorok."
"Iya benar kan, calon suami kamu bukan jorok, tapi Bowo."
"Bodo! Pokoknya kalau kamu masih naruh pakaian kotor lagi di gantungan kamar mandi, kita putus," ancamnya. Menurutnya, menggantung baju di gantungan kamar mandi itu merusak kulit. Saya pun nurut karena tak mau dipanggil jorok.

Saya punya teman. Sebut panggilannya Abah, walaupun dia bukan ayah saya. Dia adalah teman yang sampai sekarang setengah bangun dan setengah tidur. Waktu ketika saya berdiam di kamar kost-nya, saya gerah dan langsung membuka sweater. Kamarnya berantakan oleh buku. Gantungan baju di belakang pintu penuh. Lagi pula butuh beberapa langkah dari tempat saya duduk untuk mencantolkan sweater saya di gantungan belakang pintu yang terhalang lemari besar penuh buku. Kebetulan tepat di atas kepala ada paku, tempat memajang kalender. Abah menyebutnya almanak.
Saya cantolkan begitu saja sweater di paku almanak itu. Abah tidak tahu karena dia lagi di kamar mandi.
Sekembalinya ke kamar, dia duduk dan langsung bicara, "orang-orang itu selalu suka menggantung baju di almanak ya. Bapak saya juga begitu."
Saya tahu itu menyinggung saya. Tapi saya abaikan karena tidak diancam putus pertemanan gara-gara perbuatan yang tidak menyenangkan ini. Dan yang lebih penting saya disamakan dengan Bapaknya meskipun saya memanggil teman yang satu ini dengan sebutan Abah.

Teman saya lagi namanya Hafidz. Ada yang memanggil Apis, Hapis, Kapid dan lain-lain. Sebagian menyebut dia sebangsa Gus atau Agus alias Ajengan atau Lora.
Soal gantung menggantung baju ini, ia punya kesebalan tersendiri. Apis, Hapis, Kapid dan lain-lain selalu kompain dan merasa risih terhadap jaket, jas, sweater atau kemeja orang yang ditanggalkan di kursi.
Demikian. Di manakah Anda suka menggantung baju?

Minggu, 10 Mei 2015

Cara Terbaik

Jika kata dan tingkahku banyak melukaimu
karena kebodohanku
Ketahuilah bahwa sesungguhnya dalam diamku membatu cinta terpendam berjuang menampakan lahirnya susah payah berupaya agar ia nyata di realita.
Kalau bukan saat ini, mungkin esok nanti. Namun satu hal yang pasti, semangatnya tak pernah mati
memperbaiki memperbarui bagaimana cara terbaik untuk mencintai

Selasa, 05 Mei 2015

Teknisi PLN dan Teh Botol


Pagi, pukul 06.30, saya baru tiba dari begadang kerja semalaman mengedit tulisan sebagai penghasilan tambahan seorang seperti saya yang bekerja freelance serabutan. Dua teman satu kontrakan baru saja meluncur berangkat kerja. Setengah jam kemudian lampu padam. Pulsa listrik habis. Nol.

Ini pertama kali saya berusan dengan pulsa listrik. Baru dua hari pindah kontrakan. Di kontrakan sebelum-sebelumnya pakai meteran lama selalu. Saya tahu harus segera beli pulsa. Tapi karena mengantuk berat, lagi pula tak ada sepeser pun uang di kantong, maka saya putuskan untuk tidur dulu.

Siangnya pukul 13.00 saya bangun. Listrik masih mati. Saya ingat teman saya, yang telah berada di tempat kerja, menjual pulsa. Maka saya hubungi dia untuk mengisi via sambungan elektrik.

Satu jam menunggu belum juga lampu menyala. Tombol skring berulang-ulang saya gerakkan. On off on off. Masih juga padam. Hasilnya malah tambah fatal, saya menjumpai lampu temper kuning menyala kedip-kedip. Di layar tertera tulisan PERIKSA.

Dengan daya yang tersisa di gawai, saya mencari tahu apa yang terjadi via google. Ternyata solusinya tak ada lain kecuali menghubungi petugas/teknisi PLN.

Saya tak sempat untuk menelpon karena kerjaan mengedit sudah menunggu di tempat lain. Akhirnya kamar kontrakan saya tinggalkan sampai malam berganti pagi. Semalaman dua teman saya tidur dalam kegelapan.

Paginya saya pulang. Kamar mandi diterangi lilin. Saya minta teman saya mengisi pulsa gawai saya agar bisa menghubungi petugas/teknisi PLN. Tapi gawai teman saya mati karena sehari semalam tak mendapat asupan listrik. Ia pun berjanji akan mentransfer pulsa sesampainya di kantor setelah mengisi daya baterai gawainya.

Saya langsung putar akal. Dalam benak saya, petugas/teknisi PLN akan segera datang. Meski servis ini harusnya gratis, biasanya teknisi akan minta uang tip. Gaji belum turun. Di kantong saya hanya ada recehan koin Rp.100 dan Rp.500. Tak mungkin kan itu saya berikan untuk tip.

Hal pertama yang saya lakukan adalah tidak mandi. Hal ini karena badan sudah terlanjur lemas dan lapar. Saya buru-buru menuju warung Ibu Romlah. Kemudian menghubungi teman untuk pinjam uang, jaga-jaga teknisi PLN minta tip.

Seorang teman bersedia memberi pinjaman Rp.50.000. Dia juga belum pernah berurusan dengan listrik token. Pengalamannya hanya ancaman dicabut petugas teknisi karena telat bayar pada listrik dengan meteran biasa (yang versi lama).

Dia bilang, kalau petugasnya baik, dia nggak akan minta tip.

“Tapi gua cari-cari dan baca di internet banyak yang mengeluh karena teknisi minta tip melulu. Kira-kira kasih berapa ya coy?”

“Kasih aja Rp.20.000, bilang ini buat beli rokok bang. Dan jangan lupa, kasih dia teh botol. Sediakan teh botol.”

TEH BOTOL.. Ya, TEH BOTOL dan TEKNISI PLN. Sepertinya itu sangat akrab sekali. Saya tidak tahu betul apa kaitan dan sebab musababnya. Kenapa tidak minuman jenis lain, misal kopi, teh tubruk, sirup atau air putih?

Setelah mendapat pinjaman uang Rp.50.000 saya pulang. Lalu menelpon 021123 dan diterima oleh suara perempuan. Setelah memberikan alamat dan detail patokan lokasi, saya diberi semacam nomor aduan. Saya catat. Jika nanti petugas lama tidak datang-datang juga, saya bisa komplain dengan menyertakan nomor tersebut. Di akhir pembicaraan, dia memperingatkan, dalam rangka menegakan budaya bersih, dilarang memberi tip dalam bentuk apapun kepada petugas teknisi yang datang.

Saya catat betul kalimat terakhir itu di otak saya. Saya bisa gugat PLN jika ternyata petugas yang datang meminta bayaran. Tapi saya mempertimbangkan basa-basi ramah tamah khas Indonesia dengan menyiapkan teh botol untuk sang teknisi, yang notabene punya kuasa lebih daripada saya dalam dunia kelistrikan. Ah, ramah tamah memang kadang jadi biang pemicu korupsi.

Sepuluh menit kemudian, gawai saya berbunyi. Sebuah nomor kantor. Suara perempuan kembali menyapa. Dia bilang dari PLN Ciputat. Dia akan membantu masalah saya via sambungan telepon.

Dia minta saya menjalankan intruksinya. Menuju meteran, memencet nomor kode pembukanya, dan listrik saya menyala. Tanpa tip, tanpa teh botol. Ternyata tak seperti yang saya bayangkan, harus kasih teh botol seperti petugas teknisi PLN dulu pada meteran biasa.

Maaf saya telah berburuk sangka, PLN. Melalui tulisan ini saya akan mengungkapkan rasa cinta yang paling sederhana. Seperti seorang penumpang yang menunjukkan arah turun kepada penumpang lain yang kebingungan tanpa sempat saling kenal. Saya ucapkan TERIMAKASIH banyak kepada PLN dan petugasnya yang bekerja profesional.

Mari budayakan Hidup dan Kerja Bersih tanpa Korupsi dan Gratifikasi!!!

Pemendam

Kembalilah
karena
Sejauh-jauh pencarian
hanya untuk jalan pulang
Gemingkan lidah jilatlah ludah
Tak usah hiraukan cibiran
Jika bagimu dia dermaga
Tiada hakku tuk memaksa
Tak perlu ragu mencipta luka
Bukankah luka biasa tercipta?
Jangan takut muncul balasan
aku pemendam bukan pendendam

Purnawarman, Legoso 5 Mei 2015

Penaklukan


cara menaklukan orang yang setia adalah dengan kesetiaan, 
atau setidaknya, jika kau masih brengsek, ya pura-pura setia padanya
Sebaliknya, orang brengsek hanya bisa ditaklukan dengan kebrengsekan pula. 
Mungkin, kalau kau tak bisa, ya pura-pura brengsek, tapi jangan sampai ketahuan 
tapi

my tweet 14 April 2015

Rabu, 22 April 2015

Kartini dan Ayah Saya

“Selamat Hari Kartini.” Banyak yang menulis itu di media sosial. Beberapa menyematkan kutipan dan diakhiri nama Ibu Kita tersebut. “Habis Gelap Terbitlah Terang ~Kartini”, “Terkadang kesulitan harus kamu rasakan terlebih dulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu ~Kartini", dan sebagainya.

Avatar, display picture, foto profil dan sebagainya berubah lukisan sang Raden Ajeng. Tanda pagar dibuat agar jadi topik tren. Di sekolah, anak-anak TK, khususnya perempuan, didandani dengan kebaya. Belakangan masih ada juga yang mengirim broadcast message berisi ucapan tentang hari itu.

Ini tentang 21 April. Hari lahir Pahlawan Perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini. Semarak yang patut kita sama-sama apresiasi.

Tentu sudah basi untuk bertanya, apakah mereka yang penuh euforia mengucapkan selamat Hari Kartini itu kenal Kartini? Dalam arti tahu betul siapa itu Kartini? Apa saja yang telah dia lakukan atau perjuangkan? Membaca karyanya? Kenapa ia jadi salah satu pahlawan nasional?  Dan sebagainya.

Basi saya katakan atas dasar dua alasan. Pertama, saya yakin minimal 70% akun di gawai saya agak kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Setidaknya jika tidak kesulitan, jawaban yang keluar masih mengandung keraguan. Kedua, kalau memang benar ada yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu, solusinya cuma satu, Google. Klik langsung ketemu di Wikipedia. Basi kan?

Oke, karena itu, saya akan bercerita tentang Kartini dan almarhum ayah saya.

Sebagai warga negara yang wajib mengenyam pendidikan sembilan tahun, saya tahu siapa Kartini. Saya sering melihat gambarnya di tembok ruang kelas, dari SD-SMA. Di kelas saat Universitas tidak lagi.

Selain dari gambar, pengetahuan tentang pejuang wanita ini saya dapat dari buku pelajaran sejarah dan lagu ciptaan W.R. Supratman berjudul “Ibu Kita Kartini”. Belakangan, materi tentang Kartini juga mengendap di kepala akibat bahan stand up comedy yang sempat dibawakan Dodit Mulyanto beberapa waktu silam. Lain dari pada itu, saya kira tidak ada lagi.

Kaitan dengan ayah, ini cukup mengherankan. Khususnya bagi saya kala itu. Saya tidak ingat persis tanggal, bulan dan tahun kejadiannya. Yang pasti bukan di Hari Kartini. Status saya masih belajar di Sekolah Dasar, kelas III.

Tiada angin tiada hujan, di sela-sela santai siang, sambil melepas lelah di ruang tengah, Ayah bertanya, “Le, tanggal lahir Ibu Kita Kartini itu tanggal berapa ya?”

Tak hanya diajukan pada saya, tapi ibu dan adik saya juga. 

Waktu itu saya lupa atau malah tidak tahu tanggal berapa Ibu Kita Kartini lahir. Dan saya masih ingat betul nada pertanyaan ayah serius, bukan ngetes atau bercanda. Adik saya yang masih Kelas I SD dan Ibu pun tak ingat.

Maka saya langsung membuka lemari, mencari buku sejarah dan membuka halaman demi halaman. Juga catatan-catatan. Kebetulan masa itu saya belum kenal si dukun pintar, mbah Google. Sayang sekali, ketika saya telah menemukan jawaban, ayah sudah duluan. Entah dari mana dia dapat.

Yang sampai sekarang jadi pertanyaan saya adalah untuk apa ayah mencari tanggal lahir Kartini. Mau menyelenggarakan karnaval kebaya? Tidak mungkin. Ayah bukan seorang pamong desa. Lagi pula kejadian itu bukan pada bulan April. Untuk bahan ujian? Tidak juga. Ia sudah tidak sekolah.

Hingga ayah meninggal, saya tetap tidak tahu untuk apa ia menanyakan tanggal lahir Ibu Kita Kartini waktu itu.

Dan, di Hari Kartini ini, 21 April 2015, saya teringat kembali almarhum ayah tercinta. 

Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosa ayah, menerima semua amal baik ayah dan semoga ayah mendapat sebaik-baik tempat di sisi-Nya. Alfatihah.


Pesanggrahan-Ciputat, 21 April 2015

Rabu, 15 April 2015

Senin, 06 April 2015

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html